Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Mencari tahu


__ADS_3

Mereka makan pagi bersama di ruang makan yang cukup besar. Juna pagi ini terlihat sangat pendiam. Ada banyak hal di pikirannya.


Binna melihati terus pada kakaknya Zia yang tengah menyantap makanannya. Binna melihat jika kakaknya itu terlihat ada hal yang di sembunyikan.


"Kak Zia, apa waktu acara pesta kelulusan itu Kak Zia juga menyiapkan minuman beralkohol di sana?"


"Minuman? Aku tidak pernah mau menyentuh minuman-minuman seperti itu apalagi membiarkan pestaku ada minuman seperti itu?"


"Tapi kenapa Kak Uno bisa mulutnya bau minuman?"


"Aku juga tidak tau, aku mencium bau minuman pada mulut Uno, tapi aku tidak mengatakan apapun karena aku tidak mau Uno mendapat masalah, aku biarkan saja, Uno sudah dewasa."


"Tapi aku tidak minum, Kak!" seru Uno cepat.


"Kamu pikir kakak berbohong? Uno, Ayah juga mencium bau minuman di mulut kamu. Kakak dari awal sudah bilang, kita lupakan saja masalah ini, aku akan pergi dari sini. Aku juga tidak akan menuntut kamu untuk bertanggung jawab." Zia berdiri dari tempatnya.


"Zia duduk!" seru Juna terdengar tegas.


"Yah, aku lelah dengan semua masalah ini. Aku sudah di sakiti oleh Dion yang tiba-tiba memutuskan hubungan denganku dan memilih menuruti orang tuanya untuk di jodohkan dengan wanita pilihan mereka. Hidupku sudah hancur di tangan pria yang aku sayangi yang aku anggap adikku selama ini."


"Zia. Uno akan bertanggung jawab dengan perbuatan yang dia lakukan, kalian akan menikah secepatnya."


Zia perlahan duduk kembali pada kursinya. Ada senyum samar pada sudut bibirnya.


"Yah, jangan mengambil keputusan secepat itu? Sebaiknya selidiki dulu, apa benar hal itu benar seperti yang ayah lihat."


"Maksud kamu apa, Binna?"


"Aku yakin Kak Uno tidak minum sampai dia melakukan hal itu pada Kak Zia."


"Binna, ayah sudah memeriksakan kakak kamu, dan semua sudah jelas. Bahkan kakak kamu mengatakan jika dia dan Dion tidak pernah melakukan apapun."


"Dion pria yang baik, dia sangat menghormatiku, Yah. Aku jatuh cinta dengan sikapnya itu, tapi apa yang aku dapat sekarang." Muka Zia sedih.


"Kakakku juga pria baik. Aku masih tetap tidak percaya dia seperti itu." Binna beranjak dari kursinya dan pergi dari sana."


Juna dan Arana saling melihat dan mereka bahkan bersamaan saling menghela napas. Suasana makan pagi ini sangat tidak nyaman.

__ADS_1


"Ibu, Ayah, aku akan menemui Binna di kamarnya." Devon meminta izin pada kedua orang tuanya dan pergi dari ruang makan.


"Juna dan Tommy pergi ke kantor. Sedangkan Zia ingin ke kamarnya. Uno harus kembali ke kampusnya sekarang.


Devon yang ada di kamar Binna duduk di depan Binna. Devon hanya diam saja melihat muka di tekuk dari istrinya.


"Kamu kenapa?"


"Aku sebal! Aku tidak mau kalau sampai kakakku menikah dengan Kak Zia."


"Kenapa? Mereka bukan saudara kandung."


"Walaupun dari awal mereka bukan saudara kandung, aku tetap tidak mau kalau Uno menikah dengannya. Ada sesuatu dari diri kak Zia yang tidak baik. Aku tidak suka sama dia."


"Tidak suka? Tapi dia kakak kamu, Zia."


"Aku tau, tapi dia sepertinya memiliki maksud yang tidak baik."


"Aku tidak tau soal hal itu. Lalu kamu mau apa?"


"Kak, Antarkan aku ke hotel di mana Kak Zia mengadakan acara itu, aku ingin melihat siapa saja yang datang ke sana dan dari mana Kak Uno bisa mulutnya bau minuman."


"Kalian mau ke mana?" tanya Arana melihat Devon dan Binna seperti terburu-buru mau pergi.


"Kita mau--."


"Aku mau jalan-jalan membeli ice cream dengan suamiku, Bu."


"Oh ya sudah kalau begitu. Ibu nanti juga mau pergi dengan Kakak kamu Zia. Kita mau pergi untuk memesan kebaya pengantin."


"Kebaya pengantin?"


"Iya. Ayah kamu ingin agar Zia dan Uno segera menikah karena ayah kamu tidak mau jika Zia semakin tertekan karena masalah ini."


Binna melihat tidak percaya dengan semua ini. Binna segera izin pada Ibunya dan menuju ke hotel.


Binna bertanya pada bagian yang mengatur acara di sana dan Binna mengatakan jika dia putri dari Harajuna Atmaja karena orang-orang di sana seolah tidak mau mengatakan apa yang ingin dicari Binna. Saat Binna mengatakan dia putri dari Harajuna Atmaja mereka langsung mau membantu Binna mendapatkan informasi apa yang diinginkan Binna.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar di mana kakakku menginap, apa aku boleh minta kuncinya?"


"Kami akan mengantarkan Mbak Binna ke sana."


"Tidak perlu, aku sama suamiku saja yang ke sana."


Binna mendapat kunci kamarnya dan masuk ke dalam kamar itu dengan Kak Devon. Binna mengamati semua yang ada di kamar. Tidak ada yang aneh dan janggal. "Sayang, tempat ini pasti sudah di bersihkan dan semua sudah di buang."


Binna tampak kesal sekali, apa dia harus merelakan Kakaknya menikah dengan Kakak yang tidak dia sukai?


"Sudah, sayang, kita tidak perlu seperti ini. Nanti kalau ayah kamu tau kamu di sini untuk menyelidiki masalah ini, pasti ayah kamu akan marah."


"Ayah tidak akan tau. Aku juga akan bilang pada pihak hotel agar tidak memberitahu ayah. Aku sekarang mau ke bagian CCTV untuk melihat rekaman di sana.


Binna dan Devon melihat rekaman CCTV, Binna melihat dengan fokus setiap kejadian yang ada di sana.


"Eh, orang ini ada di pesta Kak Zia. Dia juga masuk ke dalam kamar Kak Zia. Siapa dia sebenarnya?" Binna melihat orang yang sama yang pernah dia lihat di cafe dan yang berbicara dengan Zia di tepi jalan waktu itu.


"Itukan kata kakak kamu yang orang EO."


"EO kok penampilannya sangar begitu. Dia kenapa juga masuk ke kamar Kak Zia waktu itu?"


"Mungkin ada urusan."


"Aku akan tanyakan pada Kak Zia saja. Andai aku bisa bertemu dengan Kak Dion dan orang itu, pasti kita bisa mencari tau."


"Kita ke toko Dion saja, siapa tau dia ada di sana."


"Benar juga. Suamiku ini pintar sekali sih." Binna mendaratkan kecupannya pada bibir Kak Devon.


Sekarang Binna dan Kak Devon pergi ke toko aksesoris di mana Kak Dion adalah pemiliknya. "Permisi mau beli apa?" tanya seorang pegawai di sana.


"Maaf, Kak, aku mau mencari Kak Dion, apa dia ada?"


"Mas Dion dia--." Wajah pegawai itu terlihat agak bingung.


"Kenapa Kakak malah bingung? Aku ingin bertemu dengan Kak Dion pemilik tempat ini. Dia adakan? Atau belum pulang dari luar kota?"

__ADS_1


Uno kemarin juga cerita jika Kak Dion masih di luar kota saat Uno mencarinya.


"Iya, Mas Dion masih belum datang."


__ADS_2