Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kata Manis Zia


__ADS_3

Zia mengingatkan lagi ancamannya pada Cerry jika dia berani berbicara atau mendekati Uno. “Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan dan aku bisa membuat kamu pergi dari dunia ini dengan mudah jika kamu ikut campur dalam urusanku.”:


“Kamu benar-benar wanita yang sakit jiwa. Kasihan sekali keluarga Uno yang sangat baik sudah merawat kamu dari kecil, ternyata kamu


orang yang membuat putranya menderita.”


“Aku tidak pernah membua Uno menderita, aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku.” Tatap Zia tajam.


“Uno bukan milik kamu, Zia. Dia milik gadis buta itu karena mereka saling mencintai, Uno tidak pernah mencintai kamu, dia hanya menganggap kamu sebagai kakaknya.”


Seketika tangan Zia mencengkeram dagu Cerry dengan kasar. Cerry berusaha melepaskan tangan Zia, tapi tidak bisa terlepas. “Kamu dengar ya gadis bodoh! Uno dari kecil di besarkan denganku, dia bermain denganku dan saat sedih aku yang selalu ada untuknya. Si buta itu hanya orang asing yang tiba-tiba datang dalam hidup Unoku. Aku tidak akan membiarkan dia mengambil orang yang sangat aku cintai. Aku juga tidak akan membiarkan kamu dan gadis-gadis lainnya mendapatkan Uno.”


“Lepaskan!” Cerry mencoba sekali lagi melepaskan tangan Zia sampai ponselnya yang di tangan satunya terpental. Zia segera mengambil ponsel itu dan dia melihat ternyata Cerry sedang merekam pembicaraan mereka dari tadi.


“Kamu!” Zia melihat marah pada Cerry lalu dengan cepat dia melempar ponsel Cerry sampai hancur berantakan.


“Zia! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menghancurkan ponselku?” Cerry melihat tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Zia.


Cerry segera mengambili ponsel miliknya yang benar-benar sudah sudah hancur karena di banting begitu keras oleh Zia.


“Kamu jangan coba-coba mengangguku gadis bodoh! Atau aku akan memastikan ancamanku itu menjadi kenyataan. Pergi dari sini!” usirnya


ketus.


Cerry akhirnya pergi dari sana dengan perasaan yang marah dan kesal , dia tidak mendapatkan bukti dari semua kejahatan Zia. “Apa sebaiknya aku tidak mencampuri urusannya? Dia itu sakit jiwa, bisa-bisa dia membuktikan ancamannya. Aduh! Kenapa aku sekarang jadi takut begini?”


Malam hari Uno yang sudah datang dari kantornya tampak lelah, dia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Kak Zia yang melihatnya segera mengambilkan segelas air untuk Uno, dia duduk di sebelah Uno.


“Kamu terlihat capek sekali, Uno. Ini minum dulu.” Ziabmemberikan minuman pada Uno.

__ADS_1


“Kak Zia terima kasih.” Uno mengambilnya dan menghabiskan dengan sekali teguk.


“Apa pekerjaan kamu banyak tadi di kantor?” Tangan Zia mulai membuka jas yang di pakai oleh Uno.


“Iya, Kak. Aku mau menyelesaikan semua pekerjaan aku sebelum kita pergi ke Kanada.” Uno mencoba melepas sendiri jas yang di pakainya.


“Kamu santai saja, biar aku yang membantu kamu melepaskan jas kamu.” Tangan Zia masih saja aktif pada Uni, dia kemudian melepaskan dasi yang di pakai Uno dan perlahan sekarang dia membuka satu persatu kancing kemeja Uno.


“Kak, biar aku saja yang melepaskannya, Kakak tidak perlu membantuku.” Uno merasa tidak enak saat tangan kakaknya mulai menjelajahi


tubuhnya, ada perasaan aneh dan canggung.


“Kamu kenapa sih, Uno? Aku ini istri kamu, bahkan kita akan memiliki seorang bayi. Aku hanya mau melakukan tugasku sebagai seorang istri yang baik untuk kamu.” Tangan Zia menyentuh lembut pipi Uno.


“Aku tau jika Kak Zia adalah istriku, tapi aku masih belum terbiasa dengan semua ini.”


“Kamu belum terbiasa karena kamu yang tidak mau untuk menerima dan membuat semua ini jadi terbiasa. Kamu juga tidak akan bisa


bisa bersikap seperti keluarga sebenarnya karena anak ini akan membutuhkan kita


berdua Uno. Apa kamu tidak kasih jika anak kita harus merasakan kedua orang tuanya berpisah?”


Uno terdiam sejenak mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya. Perasaan Uno mulai bercampur aduk tidak karuan. Apa yang diucapkan oleh kakaknya memang benar. Kasihan sekali jika kelak anaknya lahir dia harus merasakan tidak memiliki kasih sayang dari kedua orang tuanya.


“Kak, aku butuh waktu untuk semua itu.”


“Sampai kapan? Kita sudah beberapa bulan menjalani pernikahan ini, aku berharap kita bisa mulai menerima semua ini.” Zia mulai mendekatkan tubuhnya memeluk tubuh Uno yang kemejanya sudah terbuka di bagian depannya. Tangan Zia perlahan mengusap perut bidang Uno dengan lembut, menyandarkan kepalanya pada dada Uno.


Uno yang melihat sikap kakaknya seperti itu hanya bisa diam, dia teringat apa yang di katakan oleh Cerry. “Kak, apa aku boleh bertanya sesuatu sama Kak Zia?”

__ADS_1


“Tanya apa?”  Zia tidak mau mengangkat kepalanya dari dada Uno.


“Apa benar jika Kak Zia sudah mencintaiku dari dulu? Bahkan saat Kakak masih belum tau aku adik angkat Kak Zia?”


Seketika pertanyaan Uno membuat tangan Zia berhenti mengusap perut bidang suaminya. “Siapa yang mengatakan hal itu? Apa Cerry?” tanya Zia melihat pada wajah Uno.


“Iya, waktu itu aku bertemu dengannya saat mencarikan buah semangka untuk Kakak. Dia mengatakan jika Kakak selalu diam-diam memperingati setiap kekasihku yang dekat denganku.


‘gadis brengsek! Dia ternyata sudah bertindak lebih dulu, aku akan benar-benar memberi pelajaran padanya kali ini,' ucapnya dalam hati.


“Kamu percaya dengan apa yang dikatakan oleh mantan kekasih kamu itu? Dia juga tadi siang datang ke sini dan ingin menghinaku karena aku menikah dengan adikku sendiri. Semua kata-katanya sangat menyakitkan padaku Uno.” Pinter banget memutar balikkan


kenyataan ini orang.


“Apa? Dia ke sini? Tapi bagaimana dia tau aku tinggal di sini dengan Kakak?”


“Mungkin dia mengikuti kamu waktu itu dan apa yang dilontarkan padaku semuanya begitu kasar, dia masih belum terima jika kita menikah,


dia masih sangat menginginkan kamu dan kamu masih percaya dengan semua kata-katanya?”


Uno ini bingung juga, memang selama ini kakaknya tidak pernah menunjukkan hal yang membuat dia kecewa. Malahan kakaknya itu orang yang paling menyayanginya.


“Cerry benar-benar keterlaluan.”


“Aku memang dari dulu menyayangi kamu sebagai kakak kamu, kamu tau sendiri hal itu. Aku bahkan marah jika kamu dikhianati oleh


gadis-gadis itu, mereka kadang dekat dengan kamu hanya karena ingin populer di kampus, mereka tidak benar-benar tulus mencintai kamu.” Zia kembali mendaratkan kepalanya pada dada Uno. “ Lebih baik kita lupakan saja semua tentang kata-kata Cerry itu, dia akan bahagia jika kita malah bertengkar karena memang dia ingin agar kamu bisa dia dapatkan kembali.


Zia kembali mengangkat kepalanya dan  duduk di atas sofa dengan bersila. Dia menyuruh Uno membuka kemejanya dan perlahan-lahan Zia memijit pundak Uno perlahan-lahan. “Kak, apa yang Kakak lakukan?”

__ADS_1


“Aku ingin memijit kamu dan menghilangkan sedikit lelah kamu, Uno. “


__ADS_2