
Cerry mengamati Diandra dari atas sampai bawah. "Kamu benaran tidak bisa melihat?"
"Iya, aku dari kecil sudah mengalami kebutaan."
"Uno! Kamu serius pacaran dengan gadis buta ini? Kamu tidak salah?" Cerry melihat heran pada Uno.
Uno menghela napasnya panjang. "Cer, aku mohon kamu pergi dari sini, jangan mengganggu kencanku, kita sudah tidak ada urusan lagi," ucap Uno kesal.
"Tapi, Uno. Kamu benar-benar keterlaluan, kamu putus denganku dan pacaran dengan seorang gadis buta? Dia memang cantik, tapi dia tidak bisa melihat!" Seru Cerry dan beberapa orang di sana sampai melihat ke arah meja mereka.
"Maaf, Ya. Memangnya kenapa kalau aku buta? Aku memang buta, tapi aku tidak pernah merugikan orang lain. Dan aku tidak mau mencampuri urusan kalian. Uno, aku mau pulang." Muka Diandra sudah kesal saja. Dia berjalan dengan memakai tongkatnya.
"Diandra tunggu." Uno memegang tangannya. "Kita akan pulang."
"Uno! Aku tidak percaya kamu bisa memutuskan aku dan malah sekarang memilih gadis buta ini. Aku masih jauh lebih baik segalanya dari dia."
__ADS_1
"Jaga mulut kamu. Cer!" Seketika raut wajah anak Juna itu mengeras. "Dia jauh lebih baik segalanya dari kamu, dan yang jelas aku mencintainya."
Kedua mata Diandra membelalak lebar mendengar ucapan Uno. Uno menggandeng tangan Diandra dan mengajaknya keluar.
"Uno ...!" Teriak Cerry, dan Uno sama sekali tidak memperdulikan Cerry. "Apa yang dia katakan tadi? Di mencintai gadis itu, Uno bahkan tidak pernah mengatakan cinta padaku bahkan pada kekasih dia lainnya. Dia hanya bersenang-senang saja selama ini dengan para kekasihnya.
Dia dalam mobil, Diandra tampak kesal, dia hanya duduk terdiam, bahkan dia tidak melihat ke arah Uno. "Diandra, aku minta maaf atas kata-kata Cerry tadi."
"Kekasih kamu itu kasar sekali, Uno!" Diandra membulatkan matanya ke arah Uno.
"Dia bukan kekasihku, aku sama dia sudah putus."
"Aku tadi terpaksa melakukan itu, agar dia tidak terus menerus mengejarku, aku sebal karena dia tidak mau menerima jika hubungan aku sama dia sudah berakhir, dia gadis yang aku ceritakan sama kamu."
Diandra terdiam sejenak. "Tapi tidak seharusnya kamu bilang aku kekasih kamu, yang ada aku malah dibenci sama dia."
__ADS_1
"Memangnya kamu tidak suka kalau aku mengakui kamu sebagai kekasih aku? Kamu takut kalau pacar kamu marah? Kalau dia marah kan malah lebih baik, kamu bisa putus sama dia." Uno tersenyum devil.
"Aku mau pulang, Uno. Lama-lama sama kamu yang ada aku malah terkena masalah." Diandra duduk bersidekap menatap tegas ke depan.
Uno menjalankan mobilnya, entah kenapa perjalanan kali ini di rasa Diandra sangat lama. Apa jarak rumahnya dan cafe di mana dia diajak makan Uno sangat jauh. Apalagi di sepanjang perjalanan, indra penciuman Diandra mencium aroma yang sangat segar, beda sekali dengan pada saat dia berangkat dari rumah Uno ke sekolah Binna.
"Uno, apa belum sampai rumah?" Diandra yang penasaran Akhirnya bertanya pada Uno.
"Belum. Sebentar lagi. Kamu istirahat saja, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan kamu."
"Bangunkan? Memangnya perjalanan kita masih jauh? Tapi rumah kamu apa sejauh ini?" Muka Diandra sudah curiga saja.
"Siapa bilang kita akan pulang? Kita akan pergi ke tempat yang bisa membuat kamu bahagia, dan tidak marah lagi sama aku."
"Apa ...?"
__ADS_1
Wkakakaka dasar Uno. Ini anak orang mau di bawa ke mana lagi? Yang jelas Uno bakalan capcus mengejar si gendut yang dari dulu dia kagumi.