Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
PDKT part 3


__ADS_3

Diandra duduk di samping Uno, Uno dengan cepat membantunya memakai sabuk pengaman. "Aku bisa sendiri, Uno."


"Tapi aku ingin membantu kamu. Boleh, Kan?"


Diandra hanya terdiam. "Alamatnya di mana, Diandra?" Tanya Uno. Diandra memberikan sebuah kartu nama pada Uno. Uno membacanya dan dia tau di mana itu. Uno menjalankan mobilnya dan mereka berangkat ke tempat di mana Diandra akan mengajar bermain musik.


Tidak lama mobil mereka sampai di sana. "Sudah sampai," ucap Uno, dan dengan cepat Diandra membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu mobilnya. Uno yang melihatnya tersenyum, dia pun ikut turun.


"Uno, pintu masuknya di mana? Kamu bilang saja, aku mau belajar mengetahui di mana aku harus mulai masuk, aku bisa mengingat lewat hitungan."


Uno memegang tangan Diandra, Diandra yang kaget langsung menarik tangannya. "Kenapa kamu memegang tangan aku?"


"Kamu kenapa? Aku hanya mau menunjukkan arahnya dengan menuntun tangan kamu, Diandra. Aku tidak akan berbuat buruk sama kamu."


Diandra terdiam sejenak, kemudian dia mengikuti Uno. Uno dengan telaten menuntun dan menunjukkan pintu masuk sampai mereka bertemu seorang wanita paruh baya di sana, wanita itu yang menjadi penanggung jawab tempat itu.


"Selamat pagi, Bu, saya Diandra, saya--."


"Jadi kamu yang bernama Diandra? Kamu cantik sekali. Saya Ibu Sita. Saya sudah di beritahu kalau nanti ada pengajar yang mau mengajar musik di sini."

__ADS_1


"Iya, Bu. Saya Diandra, saya yang terpilih menjadi pengajar di sini."


"Selamat ya. Diandra, Ibu dengar kamu memenang kompetisi bermain piano di Kanada, dan kamu mau menerima tawaran dari rumah musik untuk mengajar anak-anak bermain musik di sini."


"Saya senang sekali waktu di tawari mengajar di sini, ini pengalaman pertama buat saya, Bu. Apalagi saya bisa berkumpul dengan anak-anak, mendengar canda tawa mereka."


Uno memperhatikan wajah bahagia Diandra saat melihat Diandra bercerita tentang anak-anak. Ada desiran aneh di dalam hatinya.


"Kamu suka anak-anak, Ya? Kalau begitu, kamu nanti akan sangat senang bertemu mereka. Tapi nanti jangan kaget dengan tingkah rame mereka."


"Anak-anak kan memang selalu rame, Bu."


"Saya mengajar setiap hari, Bu?


"Tidak, Sayang. Kamu hanya akan mengajar setiap hari Selasa, Rabu, Kamis, dan Minggu. Maaf ya kalau hari Minggu kamu harus mengajar, kamu mengajarnya pagi kalau hari Minggu."


Diandra menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bu. Saya senang kok." Bu Sita melihat ke arah Uno.


"Maaf, apa pria tampan di sebelah kamu ini adalah kekasih kamu? Dia tampan sekali."

__ADS_1


"Oh! Saya--. Sata Uno, Bu." Uno menjulurkan tangannya dan mereka berkenalan. "Saya ini penggemar rahasianya Diandra," celetuk Uno.


"Penggemar rahasia?" Kedua alis Ibu Sita mengkerut.


"Bu, apa kita bisa ke ruangan Ibu Sita?" tanya Diandra memotong pembicaraan mereka, Diandra benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan Uno tadi.


Setelah menyelesaikan semuanya, Diandra pamit untuk pulang. Diandra hanya terdiam di dalam mobil. "Kamu kenapa? Apa kamu gerogih besok akan mulai mengajar?"


"Sedikit, aku hanya berharap anak-anak di sana mau menerima kehadiran aku dengan segala kekurangan aku," ucapnya lirih.


"Kamu tenang saja, mereka akan menerima kamu, mereka akan senang memiliki guru yang cantik dan baik seperti kamu."


"Semoga, Uno. Ya sudah kita pulang saja sekarang."


"Pulang? Ini masih jam 10 pagi, bagaimana kalau kita jalan-jalan, apa kamu suka ice cream? Aku mau membelikan kamu ice cream." Uno menyalakan mobilnya.


"Tapi, Uno-."


"Anggap saja aku mengajak kamu kencan, kamu pasti belum pernah berkencan sambil makan ice cream." Uno tersenyum, dan Diandra hanya terdiam. Percuma saja dia mengajak Uno berdebat.

__ADS_1


__ADS_2