
Binna pulang ke rumah dengan kesal. Suaminya tau apa yang terjadi dengan istrinya itu, Binn kesal karena tadi suaminya menghentikannya saat berdebat dengan kakaknya Zia.
"Kak Devon tahu tidak kalau aku kesal dengan k Kak Zia? Kenapa dia selalu bersikap ingin memojokkan Kak Diandra?"
"Aku tahu kamu kesal dengan kakak kamu, tapi tidak sepatutnya kamu berdebat di depan ibumu, itu akan membuat ibumu sedih. Kalian, kan saudara, harusnya tidak ada pertengkaran."
"Iya aku tahu, tapi melihat kak Zia yang seperti itu benar-benar membuatku ingin marah."
"Sudahlah, sayang, tidak perlu memikirkan hal itu lagi lusa kita akan pergi berbulan madu. Apa kamu mau?"
"Lusa? Jadi dipercepat?"
"Iya, supaya kamu tidak terlalu banyak pikiran dan supaya kita dapat memiliki seorang bayi secepatnya."
Binna terdiam sejenak. "Setuju. Lagipula aku malas menghadiri pesta yang diadakan oleh kakakku, kenapa aku merasa aneh dengan rencana pesta kakak Zia."
"Apanya yang aneh? Dia wajar ingin mengadakan pesta untuk merayakan kelulusannya. Nanti kalau acara pesta kakak kamu diadakan, kita akan pulang untuk ikut menghadirinya."
"Tidak perlu, kita tetap saja berbulan madu."
"Jangan begitu, Sayang."
Binna ini kelihatan memang tidak suka sama Zia, apa karena dia merasa memang Zia itu tidak baik, dan mereka sejak dulu memang tidak terlalu dekat.
"Aku kenal kakakku itu, Kak Devon. Dia aneh, seperti sedang menyimpan sesuatu. Dulu sejak kecil dia juga jarang bergaul, dia hanya suka jika ada kak Uno yang menemani dia. Dia juga lebih condong ke ayah daripada sama ibu."
"Namanya juga anak perempuan, pasti lebih condok ke ayah, kamu sendiri bagaimana?"
"Aku suka dan mencintai dua-duanya."
"Kalau begitu kita buat saja, nanti lihat saja anak ita perempuan atau laki-laki, dan kalau perempuan pasti codongnya ke aku."
"Kenapa malah ngelantur ke sana? Aku capek, aku mau tidur." Binna beranjak dari tempatnya, dan langsung menuju kamar mandi. Saat mau mengejar Sabinna, tiba-tiba pintu di tutup dengan cepat membuat hidung kak Devon terbentur pintu kamar mandi.
"Auw! Binna, kamu jahat sekali," erangnya sambil mengelus-elus hidung mancungnya.
"Biarin! Habisnya, minta terus, tunggu nanti kita bulan madu saja!" teriak Binna dari dalam kamar mandi.
***
Hari istimewah Binna pun tiba. Dia sedang memeriksa apa bawaanya untuk berbulan madu sudah siap, Binna membawa sekitar 3 buah koper besar, termasuk milik suaminya.
Kemarin dia sudah berpamitan dengan keluarga mertuanya. Nanti sebelum ke bandara dia akan berpamitan dengan keluarganya.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang, peswat kita akan berangkat pagi."
"Kita jadi ke Spanyol, Kak?" tanya Binna sekali lagi.
"Tentu saja, Sayang. Kita akan berkeliling di sana, kita akan pergi ke tempat-tempat indah, tapi nanti aku akan membawa kamu ke tempat bulan madu kita yang pertama." Kak Devon memberi lirikan mata yang bagi Binna mencurigakan.
"Lirikan mata apa itu?" sungut Binna.
"Kamu pasti menyukainya. Katanya ingin bersenang-senang."
"Iya, aku nurut saja. Kak Devon sekarang kan sudab jinak."
"Kan kamu pawangnya." Kak Devon mendaratkan ciumannya pada Binna.
"Sudah! Ayo kita berangkat, nanti malah bulan madu di sini."
Mereka berangkat menuju rumah Sabinna, di sana sudah berkumpul keluarga Sabinna.
"Pengantin yang sedang berbahagia." Arana memeluk putrinya.
"Ibu ...."
"Kenapa bulan madunya di percepat?"
"Sebenarnya rencana ini sudah lama, Bu, tapi karena ada urusan jadi kami tunda. Sekarang semuanya sudah beres, dan aku tidak mau menunda lagi, apalagi Sabinna juga sebentar lagi ingin masuk kuliah."
"Ya sudah, ibu doakan semoga setelah pulang kalian membawa kabar bahagia."
Arana memeluk putrinya. Juna juga memeluk putrinya. " Devon, tolong jaga putriku dengan baik di sana. Dia tidak pernah jauh dariku dan Arana."
"Pasti, Yah. Ayah tenang saja, aku akan menjaga baik-baik putri ayah ini."
Binna juga berpamitan pada paman Tommy, Diandra, dan kakakn-kakaknya.
"Kak, kali ini aku bulan madu berdua dengan suamiku, dan nanti kalau Kak Uno jadi menikah dengan Kak Diandra, aku akan ikut bulan madu lagi bersama kalian." Binna terkekeh pelan.
"Akan aku pastikan kamu tidak akan menggangguku berbulan madu," bisik Uno dan tangannya malah mencubit pipi Sabinna.
"Auw! Sakit! Kak Uno menyebalkan," teriak Binna kesal.
"Uno!" Arana mendelik.
'Bulan madu? Apa mereka berdua tidak termakan oleh foto yang aku kirim? Karla harus tau akan hal ini.' Ada yang sedang menggerutu dalam hati.
__ADS_1
Binna kemudian berangkat dengan suaminya menuju tempat yang suaminya masih sembunyikan.
Butuh perjalanan beberapa jam untuk mencapai tempat itu. "Kak, kita mau ke mana, Sih?"
"Kamu diam saja, nanti kamu akan menyukai tempatnya." Kak Devon memegang tangan Sabinna.
"Sebenarnya aku masih agak takut naik pesawat, walaupun beberapa kali ayah dan Ibu mengajakku."
"Kalau takut, kamu bersandar saja padaku, dan pegang lenganku dengan erat." Binna melakukan hal itu, dia mulai agak nyaman.
"Apa, Zia? Mereka berbulan madu? Ke mana?"
"Yang aku dengar Devon akan membawa Sabinna ke Spanyol "
"Spanyol? Tapi Spanyol kan luas. Mereka tepatnya di mana? Barcelona atau Madrid?"
"Aku tidak tau pasti, coba saja kamu hubungi mamanya Devon, pasti dia tau."
"Sebenarnya aku sudah lelah mengejar Devon terus, dia sama sekali tidak mencintaiku. Dia hanya mencintai Sabinna."
"Dia bisa mencintai kamu jika Sabinna tidak hadir dalam kehidupan kalian. Kalian, kan, dari kecil sudah bersahabat, pasti Devon juga ada perasaan sama kamu, hanya saja dia dijodohkan sama Sabinna, dan harus menuruti apa kata mamanya."
"Kenapa aku melihat kamu malah ingin Devon dan Binna berpisah?"
"Aku sudah bilang, aku dapat merasakan pedihnya bagaimana cinta masa kecil kita diambil oleh seseorang yang tiba-tiba datang dan merebutnya." Zia meremas foto Diandra yang ada di tangannya.
"Memangnya kamu punya kekasih yang kamu cintai dari kecil, tapi diambil oleh seseorang?"
"Tentu saja."
"Lalu apa kamu diam saja?"
"Aku akan mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku, dengan cara apapun. Kamu juga harus melakukan itu.
"Tapi--."
"Hai, Baby," suara seorang pria dari belakang Karla.
"Kamu sedang bersama seorang pria?" tanya Zia yang mendengar suara laki-laki.
"Iya, dia kekasih aku, dan semalam dia menginap di tempatku."
"Kata kamu, kamu sangat mencintai Devon?"
__ADS_1
"Aku mencintai Devon, tapi dia tidak memperdulikan aku, jadi aku memilih bersenang-senang dengan orang lain. Nanti aku akan menghubungi kamu."
Karla mematikan ponselnya. Zia mukanya sudah merah padam karena marah. "Gadis murahan! Tapi tidak masalah, dia bisa menjadi pionku untuk membuat hubungan Sabinna dan Devon itu berakhir. Aku ingin membuat Binna menangis karena sudah ikut membela Diandra."