Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Janjian


__ADS_3

Saat mobil Kak Devon berhenti di parkiran apartemennnya, Binna langsung memberikan parfum yang dia temukan di bawah jok kursinya dengan marah, lalu dia turun dari dalam mobi berjalan masuk ke lift.


"Binna kenapa? Dan ini parfum siapa? Kenapa dia memberikan kepadaku?" Kak Devon yang bingung membawa parfum itu naik ke apartemennya.


Kak Devon mengedarkan pandangannya melihat ruang bawah kosong, sepertinya Sabinna berada di kamarnya.


"Binna, ini parfum kamu kenapa kamu berikan sama aku?"


"Itu bukan punyaku, Kak Devon jangan pura-pura tidak tau. Itu aku temukan di mobil Kakak Devon, dan aku tanya pada Kak Zia, itu juga bukan milik Kak Zia. Perempuan mana lagi yang sudah Kak Devon kencani?"


"Binna, cukup! Aku benar-benar lelah dengan semua tuduhan kamu, aku seolah-olah pria yang suka berselingkuh dengan banyak wanita di luar sana. Aku tegaskan sekali lagi, aku bukan pria seperti itu, dan aku lelah kamu tuduh terus seperti itu. Apa kamu tidak bisa percaya dengan semua yang aku katakan?"


"Bukti ada di depan mata, Kak. Bagaimana aku bisa percaya!"


"Lalu, aku harus melakukan apa agar kamu tidak menuduhku terus seperti ini?"


"Jaga sikap Kak Devon, jangan membuat aku harus curiga terus."

__ADS_1


"Oh Tuhan! Aku sudah bersikap sangat baik, aku tidak melakukan hal yang salah, dan aku tidak tau kenapa barang-barang wanita yang aku tidak tau dari mana datangnya bisa ada?"


"Kalau Kakak tidak memulai, tidak mungkin ada hal ini."


"Memang lebih baik kita tidak perlu berbicara dulu sampai kita benar-benar tenang."


"Lebih baik lagi kita tidak usah satu apartemen!" seru Binna tegas.


Devon melihat ke arah Sabinna. Dia tidak mau malah emosi yang ada malah nanti pembicaraan ini menjurus pada hal yang lebih buruk, dan Devon tidak ingin itu terjadi.


Devon keluar dari kamar. Binna menjatuhkan tubuhnya menangis sambil memeluk bantal. "Kenapa kehidupan pernikahan yang aku impikan akan berjalan baik malah seperti ini. Waktu itu aku sudah yakin dengan kak Devon, tapi kenapa seperti ini?"


"Binna, kamu kenapa? Apa kamu habis menangis?"


"Aku tidak apa-apa?"


"Kamu pasti sedang menangis? Binna, aku akan menemui kamu, katakan saja kamu di mana? Apa kamu di rumah kamu?"

__ADS_1


"Lukas ... Lukas! Jangan ke rumah, aku sedang berada di rumah sakit melihat kakakku. Aku baik-baik saja, aku menangis karena aku sedang ada masalah saja sama keluargaku."


"Apa kamu mau ceritakan sama aku tentang masalah kamu, Binna?"


"Nanti saja, Lukas."


"Ya sudah! Kalau begitu besok malam datang saja ke cafe di mana aku mengajak kamu makan malam, di sana kamu bisa menceritakan semua tentang masalah kamu."


"Soal itu. Aku belum bisa memutuskannya, Lukas."


"Ya sudah kalau kamu tidak bisa, aku jug tidak akan memaksa, aku juga tidak akan merayakan ulang tahunku. Ibu sedang di rawat, dan bibiku menjaga di sana. Kamu tau, kan, Binna? Hanya kamu yang dekat denganku, makannya aku mau merayakan sama kamu, tidak lucu jika aku merayakan sendirian."


Binna menjadi kasihan sama Lukas. "Lukas, besok aku akan datang, kita akan merayakan ulang tahun kamu, tapi kamu tidak perlu menjemputku, aku akan datang sendiri ke sana."


"Benarkah, Binna?" suara Lukas tampak senang.


"Iya, aku akan datang, jam 7, kan?

__ADS_1


"Iya, terima kasih, ya, Binna. Jangan sedih lagi. Ingatlah ada aku di samping kamu." mereka mengakhiri panggilannya.


__ADS_2