Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Perlakuan Buruk Part 2


__ADS_3

Devon dan Sabinna duduk di meja yang sudah disediakan untuk para tamu. Muka Binna tampak kesal, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, apalagi saat melihat wajah bahagia Lila tadi.


"Kak, apa benar kalau kak Nico bisa berubah? Padahal waktu itu, kak Nico bilang jika dia tidak menyukai Lila, dia hanya main-main dengan Lila, tapi kenapa sekarang dia dan Lila akan bertunangan."


"Aku tidak tau, semoga saja dia memang berubah, aku tidak masalah, yang terpenting, dia tidak berbuat buruk lagi sama kamu."


Binna akhirnya dengan kak Devon mengikuti saja acara, itu, di sana juga diumumkan tentang pertunangan Lila dan tentu saja dengan si pria bangsul bernama Nico.


"Binna, kamu kenapa sedih begitu? Masih memikirkan tentang Lila?"


"Iya, Kak. Aku kok kayak gak yakin Kak Nico itu akan serius dengan Lila, aku kasihan sama Lila jika sampai Lila nanti di sakiti."


"Sudah! Jangan dipikirkan. Lila akan baik-baik saja." Kak Devon memegang tangan Sabinna mencoba menenangkan Sabinna. "Bagaimana kalau kita berdansa saja." Kak Devon menawarkan tangannya mengajak Binna berdansa.


Binna mau dan mereka berdansa berdua. Dari kejauhan ada sepasang mata melihat ke arah kebahagiaan mereka berdua, sepasang mata itu melihat dengan tatapan tajam pada mereka.


"Aku akan mendapatkan kamu, Binna. Kamu malam ini benar-benar sangat cantik, kenapa setiap aku melihat kamu, aku sangat menginginkan kamu. Aku akan mendapatkan kamu, aku harus bisa merasakan keindahan tubuh kamu." Tangan pria itu mengusap lembut bibirnya sendiri sambil memandang napsu kepada Binna.


Tidak lama Nico menyuruh seseorang, untuk memasukkan sesuatu pada minuman Sabinna. Kebetulan Sabinna sedang berdansa dengan Devon. Jadi mereka tidak melihat apa yang di perbuat Nico.


"Kak, aku capek, kita duduk dulu ya?" Devon menggandeng tangan Sabinna dan duduk di meja mereka."


"Mau aku ambilkan minuman lagi?" tanya Kak Devon.


"Tidak usa, Kak. Aku habiskan ini saja. Kak, aku ke toilet dulu." Binna belum menyentuh minumannya.


"Aku akan antar kamu."


"Jangan, Kakak duduk saja. Aku bisa ke toilet sendiri, lagian Kakak cowok, masak mau ke toilet perempuan?" Binna tiba-tiba minum air di gelasnya dan berjalan pergi dari sana.

__ADS_1


Binna berjalan di toilet yang tidak terlalu ramai, dia mengantri sebentar lalu dia masuk ke sana. Saat selesai dia keluar dan mendengar akan ada doorprize untuk para tamu, Binna melihat orang-orang sudah sepi di jalanan toilet.


Tiba-tiba tangan Binna ada yang menarik, dan saat Binna mau berteriak, mulutnya dibungkam sama seseorang.


"Halo, cantik." Binna kenal siapa yang membingkam mulutnya, dia mau berteriak tapi tidak bisa. "Kamu, tau, kamu malam ini cantik sekali, dan sekali lagi kamu sangat menggairahkan, kamu benar-benar membuatku gila. Kamu tidak tau aku selalu terbayang wajah kamu.


Binna ingin sekali bicara dan memaki, tapi dia hanya bisa mengeram marah karena mulutnya masih ditutup oleh tangan Nico.


"Kamu tau, pesta ini sengaja aku persiapkan karena aku ingin melihat kamu datang ke sini, walaupun aku juga harus melihat wajah si brengsek kekasih kamu itu. Binna, kamu harus menjadi milikku."


Binna berhasil menendang bagian sensitif Nico hingga Nico mengerang kesakitan dan melepaskan tangannya dari mulut Sabinna.


"Kak Nico menjijikan! Aku kira kakak sudah berubah."


"Binna!"


Nico berteriak karena melihat Sabinna mau berlari, tapi ternyata Sabinna menghentikan langkahnya karena dia merasakan pusing di kepalanya.


Nico dengan cepat mengambil kesempatan ini sebelum orang lain tau. Dia segera menggendong tubuh Sabinna dan membawanya lewat jalan belakang yang dia tau. Devon yang duduk di tempatnya sudah merasa tidak enak, kenapa dari tadi Binna belum kembali ke acara pesta.


Dia mencoba menghubungi ponsel Sabinna, tapi tidak di jawab. Devon segera pergi ke toilet mencari Sabinna. Sabinna tidak ada, dia juga menanyakan ke beberapa orang di sana, tapi mereka juga tidak tau.


Devon kembali ke acara pesta, itu dan melihat ada Nico di sana sedang mendampingi Lila berdiri di depan kue ulang tahun dan membacakan doorprize mereka.


"Nico ada di sini? Lalu Sabinna ke mana? Apa dia pulang lebih dulu, tapi itu tidak mungkin. Kalau aku menghubungi ibunya dan dia tidak ada di rumah, pasti ibunya akan khawatir, sebaiknya aku cari dulu.


Devon mencoba menghubungi Sabinna lagi, tapi tetap panggilannya tidak di angkat. Devon tidak mau diam saja, dia mencoba berkeliling mencari Sabinna lagi.


"Sayang, aku ke kamar mandi dulu, ini perutku agak tidak enak, kamu tidak apa-apa, Kan?"

__ADS_1


"Apa Kakak mau kita ke dokter saja dulu?" tanya Lila cemas.


"Tidak perlu, aku mau ke belakang sebentar saja, nanti aku kembali lagi." Nico mengusap kepala Lila lembut.


Nico berjalan menuju toilet. Lila yang merasa kasihan meminta obat pada pihak yang menyewakan gedung, dan ternyata ada. Lila menyusul Kak Nico ke arah toilet, tapi saat di sana dia tidak menemukan Kak Nico.


"Sandra, kamu melihat Kak Nico yang tunangan aku itu?"


"Aku melihat dia berjalan ke arah sana. Sandra menunjuk ke arah sebuah tempat.


"Ngapain kak Nico ke sana?" Lila berpikir sejenak, lalu dia berjalan mencoba mencari tau tentang kak Nico, dia juga khawatir dan ingin memberikan obat untuk calon tunangannya itu.


"Lila, kamu mau ke mana?" tanya Kak Devon.


"Kak Devon? Kakak kenapa berada di sini?" tatap lila heran.


"Sebenarnya aku sedang mencari Sabinna. Tadi dia izin ke toilet dan dia belum kembali, aku menghubungi ponselnya tapi tidak dijawab."


"Kok aneh? Apa dia pulang dulu? Apa kalian tadi tidak bertengkar?"


"Kami baik-baik saja, Lila."


"Di rumah saat Arana sedang menjahit kancing kemeja Juna, tidak sengaja dia tertusuk jarum jahit. " Arana, kamu tidak apa-apa?" Juna yang duduk di sampingnya tampak terkejut.


"Tidak apa-apa, tapi kenapa perasaan aku tidak enak, Juna. Dan anak-anak kita belum pulang, mereka masih di luar semua."


"Tenanglah, tidak akan ada apa-apa sama mereka, Binna bersama Devon, Zia tadi bilang dalam perjalanan pulang, dan putra kamu itu sedang mengurusi masalah kampusnya. Kamu tenang saja." Juna berusaha menenangkan Arana.


Di sebuah kamar dengan nyala lampu yang tidak terlalu terang, kamar itu sepertinya di dekorasi sangat indah dengan beberapa lilin dan ada bunga-bungan mawar berwarna merah. Binna sedang berbaring dengan tenang di atas ranjang yang ukurannya tidak terlalu besar.

__ADS_1


"Saat besok pagi kamu bangun, kamu akan sangat bahagia, Binna. Kamar indah ini aku sengaja persiapkan untuk kita berdua. Kamar yang cantik untuk bidadari yang cantik seperti kamu." Tangan Nico mengusap lembut pipi Sabinna.


"


__ADS_2