
Mereka masuk ke dalam area kampus, di dalam suasananya lebih indah. "Indah sekali di sini, Tom!" Sekarang gantian Nina yang berseru sangat senang.
"Iya, ternyata anak-anak muda di Indonesia sangat kreatfi semua. Mereka bisa menciptakan hal sebagus ini."
"Siapa dulu dunk! Ketuanya, kan, aku," ucap Uno sombong."
"Hem ... Kakak itu tidak melakukan apa-apa. Kak Uno cuma bisa main perintah, teman-teman Kak Uno yang melakukan ini semua," terang Binna.
"Enak saja. Ini semua ide pintarku" Uno tidak mau kalah.
Zia mendekati Diandra. "Kasihan sekali ya, andai kamu bisa melihat semua ini, pasti kamu akan ikut senang juga, Diandra," bisiknya. Ini Zia benar-benar dah ingin menjatuhkan mental Diandra.
Diandra malah tersenyum. "Walaupun tidak bisa melihat, aku bisa membayangkan suasana di sini, Kak. Uno kemarin menceritakan semua padaku, dan aku sangat senang, dari ceritanya, aku bisa membayangkan keindahan acara ini."
Muka Zia tampak kesal. Tidak lama Mara dan mamanya datang menyapa mereka. "Selamat malam semua."
"Selamat malam, Mara, Tante Kelli. Kalian cantik sekali, apalagi Tante Kelli." Arana memeluk mereka bergantian. Mereka saling menyapa satu sama lain.
Saat melihat Tommy dengan tangan Nina yang menggandeng lengan Tommy. Ada desiran aneh pada jantung Mara. Mara mencoba terlihat tersenyum pada mereka.
"Hai, Mara. Kamu cantik sekali malam ini," puji Tommy, padahal dia menggandeng Nina. Dasar ya Tommy ini!"
"Terima kasih, kekasihmu juga cantik sekali."
"Hai, aku Nina. Jadi kamu yang namanya Mara, seorang model dan disainer yang terkenal itu? Senang bertemu dengan kamu." Nina mengajak Mara berjabat tangan.
"Aku orang biasa saja. Aku juga senang berkenala sama kamu." Mara membalas jabatan tangan Nina.
Diandra yang berdiri di sana tampak tidak enak dengan Mara karena harus melihat ayahnya datang dengan wanita lain. "Tante Mara, aku senang Tante bisa datang ke sini." Diandra memegang tangan Mara.
"Tante kan sudah janji mau datang melihat kamu, tante mau menebus kesalahan tante dulu yang tidak bisa hadir waktu kamu ikut acara musik di Kanada."
"Tom, apa dia kekasih kamu?" Tib-tiba mamanya Mara menyelutuk hal itu pada Tommy. Sontak saja Tommy dan Nina agak kaget, mereka saling melihat. "Tante ikut senang jika Diandra nantinya memilki seorang ibu yang sangat baik dan menyayanginya."
__ADS_1
"Tante, Nina adalah teman baik saya, tapi saya juga tidak tau nanti ke depannya." Tommy melirik Mara.
"Tommy pria yang baik, dan bertanggung jawab. Aku sudah mengenal Tommy sangat lama, dan aku menyukainya." Nina malah mengeratkan pegangannya.
Waduh ... panas ... panas
"Ya sudah! Kita ke sana dulu. Uno, meja untuk kita sudah di persiapkan?" Juna ini mencoba memberi kode supaya suasana di sana bisa mencair.
"Iya, Yah. Meja untuk kalian ada di sana. Ayo semua ke sana." Uno malah ikutan canggung.
Mereka semua menuju meja mereka, keluarga Juna jadi satu, ini Tommy malah sengaja ini duduk dengan Mara dan mamanya.
Mereka menikmati acara malam ini. Beberapa menit lagi akan tiba penampilan Diandra dan Binna. Binna meminta izin untuk berganti baju.
"Kak Devon tunggu saja di sana, aku akan berganti baju sendiri."
"Masih mau mengulang kesalahan kamu?"
"Ya ampun, Kak! Ini kan di kampus kak Uno. Lagian di sana ada Kak Uno nanti yang menjagaku."
Binna memanyunkan bibirnya, lebih baik tidak usah berdebat sama dia, dari pada nanti hasilnya tidak baik. Binna akhirnya masuk ke ruang ganti dan berganti baju. Beberapa menit kemudian, dia keluar dan melihat penampilan Sabinna dari atas sampai bawah.
Baju berwarana putih model kaos ketat dan celana legging ketat, tapi di tutupi oleh rok tutu panjang, serta Binna mengelung berantakan rambutnya ke atas, serta di tambah aksesoris bandana.
"Kak Devon lihat apa? Apa penampilan aku jelek."
Muka Kak Devon tampak tidak suka. "Aku tidak suka penampilan kamu."
"Kenapa memangnya dengan penampilan aku? Ini baju dari tante Mara. Modelnya sopan seperti yang Kak Devon inginkan.
"Kamu terlihat sederhana, tapi kenapa sangat cantik," ucapnya malas.
Kedua mata Sabinna melihat kaget. "Aku cantik?" tanya Binna malu.
__ADS_1
"Hem ...!" Muka Kak Devon malas.
"Seharusnya Kak Devon bersyukur, punya calon istri cantik."
"Kalau hanya aku yang melihat tidak masalah, tapi aku tidak suka jika banyak orang yang melihatnya."
"Sudah! Mukanya jangan ditekuk begitu. Aku mau tampil." Sekarang malah Binna yang menggandeng tangan Kak Devon dan mengajak pergi dari sana.
Sekarang dimulai penampilan Sabinna dan Diandra. Keluarga mereka berdiri di depan panggung pertunjukkan ingin menyaksikan lebih dekat penampilan mereka. Diandra yang tampak anggun dan tenang duduk di depan pianonya. Beda dengan Binna dia sudah berdiri dengan menyilangkan kaki dan tangan menjulur ke atas dengan lentik, dia agak gugup, walaupun dia sering menari di depan banyak orang, tapi sekarang dia dilihati oleh banyak keluarganya.
Diandra mulai memainkan pianonya, dan Binna bergerak perlahan-lahan. Kedua mata Devon dan Uno dan lepas memperhatikan kekasih mereka masing-masing.
"Wow! Adik kamu dan gadis yang aku kira kekasih Uno itu mereka kolaborasi yang sangat bagus," ucap Dion yang ngintilin Zia ke mana-mana.
"Biasa saja," jawab Zia malas.
"Mereka tidak biasa , Zia. Lihat saja, adik kamu menari dengan indah, dan Diandra yang tidak bisa melihat, tapi bisa memainkan piano dengan sangat baik.
"Devon!" Tiba-tiba Karla datang dan memeluk Devon dengan sangat akrabnya.
"Karla! Jaga sikap kamu, jangan seperti ini." Devon terlihat kesal.
Arana sempat melirik dan melihat hal itu. Tidak lama Tia datang dan menyapa mereka Arana serta Juna. "Arana, maaf aku baru datang, tadi masih mengurusi cathering untuk pernikahan anak-anak kita. Di mana calon menantuku?"
"Itu Sabinna sedang menari di atas panggung."
Tia melihat hal itu, dia sangat takjub melihat penampilan Sabinna, apalagi baru sekarang dia melihat Binna menari. "Indah sekali tarian Binna."
"Devon, setelah acara ini kamu mau ke mana? Kita sudah lama tidak ke club, aku mau kamu mengajakku ke club yang ada di sini. Aku ingin minum dan bersenang-senang." Sekarang kedua tangan Karla malah bergelayut manja pada leher Devon.
Binna yang dari atas panggung sempat melihat hal itu, tentu saja konsentrasinya agak terganggu. Ini Binna mulai posesif kayaknya. Saat melompat untuk menyelesaikan tariannya dia hampir terjatuh, tapi akhirnya dia bisa menjatuhakan lompatnya secara baik. Binna menghela napasnya lega.
"Karla! Aku mau melihat Sabinna menari, apa kamu tidak bisa tenang sedikit? Aku juga sudah tidak mau pergi ke club malam lagi." Devon melepaskan tangan Karla.
__ADS_1
Devon melihat Sabinna sudah tidak ada di atas panggung. Hanya ada Diandra yang akan tampil satu kali lagi, dan kali ini dia diminta untuk menyanyi sambil bermain piano.