
Malam itu Uno memilih menghabiskan waktu di ruang kerjanya, dan Zia tidur dengan kesal di dalam kamarnya. Uno mengambil air minum di dapur dan dia mendengar jika Ken menangis. Uno segera masuk ke dalam kamar untuk melihat Ken.
"Kak Zia ini bagaimana? Ken menangis dia malah menutup kepalanya dengan bantal?"
Uno mengambil bayi kecil itu dan menggendongnya, dia membawa Ken keluar setelah membuatkan susu. Uno dengan telaten memberinya susu dan menimangnya.
Ken tertidur di atas tubuh Uno dengan lelapnya. Mereka tertidur di sofa panjang di ruang tamu.
Pagi hari saat Zia bangun dia terkejut melihat tidak ada Ken di box bayinya dan Uno juga tidak ada di sana. Saat keluar dia melihat Uno dan
Ken tidur dia atas sofa besar dengan posisi Ken di atas tubuh Uno.
“Uno sangat menyayangi Ken, hal ini dapat membuat hubunganku dengan Uno lama-lama akan semakin baik.” Zia mendekat ke arah mereka yang masih lelap tertidur. “Uno, bangun.” Zia membangunkan Uno dan mengambil Ken dari atas tubuh Uno.
“Kak Zia? Apa ini sudah pagi?” Uno melihat Ken sudah ada digendongan kakaknya.
“Iya, kamu segera bangun dan mandi lalu kita akan makan bersama. Aku akan menidurkan Ken di boxnya, dia kelihatanmya masih mengantuk.” Zia menciumi Ken.
“Iya, Kak.Semalam dia terbangun, tapi Kakak malah lelap dalam tidur Kakak” Uno beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamar mandi. Zia mengerutkan kedua alisnya.
“Bayi ini sebenarnya membuatku sebal, tapi berkat dia kamu bisa tetap bersamaku,” gerutu Zia.
Setelah semua selesai, Uno segera berpamitan pada istrinya dan dia tidak lupa menciumi putranya itu. “Ayah berangkat kerja dulu ya,Tampan. Nanti kita akan bermain bersama lagi.”
“Hati-hati ya, Uno. Kamu jangan pulang malam-malam lagi, kasihan Ken mengunggu kamu, sejujurnya aku juga bosan di rumah terus. Apa
liburan kerja kamu ini kita bisa jalan-jalan bertiga atau kamu minta cuti sama ayah supaya kita bisa berbulan madu dengan Ken juga.” Salah satu tangan Zia mengusap lembut pipi Uno.
__ADS_1
Uno bingung harus menjawab apa pada kakaknya. “Nanti aku akan mengatur jadwalnya, Kak. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu.”
“Uno!” Zia menarik tangan Uno. Dia lalu berjinjit dan mengecup bibir Uno. “Hati-hati.”
Ibu jari Zia mengusap lembut bibir Uno. So sweetkan mereka? Wakakakkaka!
“Aku pergi dulu. Bye Ken.”
Zia mulai bosan di rumah sendiria hanya dengan Ken, dia bahkan seolah malas untuk mengurus Ken. “Apa yang harus aku lakukan dengan bayi ini? Lebih baik aku mencari seorang pengasuh diam-diam untuk bayi ini. Nanti saat Uno akan pulang, baru aku suruh pengasuh itu pergi dari sini.” Zia akhirnya mencari ponselnya untuk mencari agensi yang bisa membantunya mencari pengasuh yang sudah berpengalaman untuk mengasuh bayi.
Zia akhirnya mendapatkan pengasuh untuk bayinya dan dia segera menyuruh untuk bekerja hari ini juga karena dia ingin pergi berbelanja
dan ke salon, dia sudah jenuh di rumah, Zia ingin merawat dirinya serta membeli baju tidur yang bisa dia gunakan untuk membuat Uno tertarik dengannya. Ken diserahkan kepada pengasuh yang dia pekerjakan hari ini jug.
Siang itu di rumah Arana, dia di beritahu oleh salah satu maid di sana jika mereka meminta izin untuk membersihkan kamar Zia. “Aku saja
Arana masuk ke dalam kamar Zia dan melihat kamar putri sulungnya itu masih tertata rapi, Zia memang orangnya sangat menyukai kerapian dan bahkan dia tidak suka orang lain menyentuh barang-barangnya. Arana mulai
membersihkan tempat tidur Zia dan membereskan barang-barang yang sekiranya
tidak perlu. “Dia masih masih menyimpan
hadiah bola mainan dari Uno. Ini lebih baik aku suruh Uno bawa ke rumahnya, siapa tau Ken bisa bermain dengan bola ini.”
Saat Arana mau memasukkan bola itu, tiba-tiba bola itu terjatuh dan menggelinding di bawah ranjang. Arana terpaksa berjongkok untuk mencari bola itu di bawah ranjang Zia. Arana menemukan bola itu dan juga sebuah
kotak berwarna merah di sana.
__ADS_1
“Ini kotak apa? Kenapa Zia meletakkannya di bawah sini?” Arana mengambil kotak dan bola itu kemudian dia membuka kotak itu. “Foto?”
Arana melihat satu persatu foto yang ada di dalam kotak itu dan ternyata itu foto milik Zia saat dia masih kecil dengan Uno, dan dia menyobek foto Binna yang ada di sebelah Uno, jadi hanya menyisahkan foto Zia dengan Uno seolah-olah mereka hanya foto berdua.
“Kenapa foto Binna semua di sobek? Dan ini bukannya foto milik Sofia? Kenapa Zia bisa memiliki foto milik Sofia dan surat yang dulu di
tinggalkan oleh Sofia untukku?”
Arana semakin bingung. Di sana juga ada foto seorang pria dengan tato di leher dan dia berfoto dengan Sofia. “Apa ini suami Sofia yang
juga ayah kandung dari Zia? Bagaimana Zia bisa mempunyai foto ayah kandungnya? Dari mana dia mendapatkan semua ini?” Arana semakin yakin karena di sana juga ada foto pernikahan Sofia dengan pria itu.
“Jadi Zia sebenarnya sudah tau siapa ayah kandungnya dari dulu, tapi kenapa dia tidak mengatakan padaku dan Juna? Dan pria itu diam- diam menemui Zia? Seharusnya dia bicara denganku dan Juna karena aku juga tidak akan marah atau menghalangi jika pria itu mau menemui putrinya.”
Arana lalu melihat ada sebuah kalung di dalam kotak itu dan dia mengira jika itu mungkin kalung milik Zia yang di berikan Sofia melalui
pria yang di duga ayah kandungnya itu.
Uno di dalam ruangan bersama ayahnya sedang melaksanakan meeting dengan rekan kerja mereka. Uno terlihat sudah bisa menguasai meeting hari ini, Juna tampak senang putranya itu ternyata belajar sangat cepat,dan Juna sudah siap jika dia akan melepaskan jabatannya menjadi CEO di sana dan di gantikan oleha Uno. Juna ingin bisa bersantai di rumah dan bermain dengan cucu-cucunya. Aduh! Padahal dia masih sangat ganteng, loh!.
Meeting hari ini selesai dan Juna izin untuk kembali ke ruangannya karena ingin memeriksa lagi pekerjaanya. “Ibu, ada apa ibu menghubungiku?”
Halo, Uno.”
“Iya, Bu, ada apa?”
“Uno, apa nanti pulang dari kantor kamu mau mampir ke rumah dulu, ada barang-barang Zia yang ingin ibu titipkan sama kamu, siapa tau Zia masih ingin menyimpan barang-barang itu.”
__ADS_1
“Iya, nanti aku akan ke sana, hari ini aku juga ingin pulang agak cepat karena aku ingin mengajak Ken jalan-jalan sore. Putraku itu sangat lucu dan semakin menggemaskan setiap hari, Bu,” ucap Uno bahagia.