Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Backstreet


__ADS_3

Mara masih belum menjawab apa yang ditanyakan oleh Tommy. Muka Mara agak bingung.


"Ya sudah, kamu tidak perlu menjawabnya, lagian aku sudah mendapat jawaban atas pertanyaan aku tadi. Selamat malam, Mara."


"Se-selamat malam, Tom." Mara keluar dari dalam mobil Tommy, dia berdiri di depan pintu rumahnya, Mara menunggu mobil Tommy sampai keluar dari dalam gerbang rumahnya.


Tidak terasa, air mata Mara menetes perlahan pada pipinya. "Mara, kamu kenapa?" Tangan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah mama dari Mara, menepuk pundak Mara.


"Mama, aku tidak apa-apa." Dengan cepat Mara menghapus air matanya.


"Itu tadi Tommy, Ya? Kalian makan malam berdua?" Wanita itu tersenyum pada Mara.


"Iya, tapi mungkin sekarang hubunganku dengan Tommy akan mulai jauh, Ma."


"Kenapa kamu harus menutupi perasaan cinta kamu pada Tommy, Mara? Kamu sangat mencintai Tommy, dan mama tau itu. Apalagi Diandra juga sangat menyanyangi kamu."


"Aku takut, Ma. Aku takut Tommy akan kecewa nantinya padaku, aku tidak mau kejadian dengan Derry terjadi lagi. Itu sangat menyakitkan, Ma." Mara berjalan pergi dari sana.


"Ya Tuhan, Mara! Semua pria kan tidak mungkin sama, dan mama yakin Tommy adalah pria yang baik." Wanita itu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Di mansion Kakek Bisma. Uno dan Diandra yang baru saja datang, di sana hanya ada Arana, Arana sengaja Diandra yang belum datang, tadi dia menghubungi Diandra, dan Diandra bilang dia sedang bersama Uno dan masih terjebak macet.

__ADS_1


"Diandra, Uno, kalian sudah datang? Syukur kalau begitu. Ibu tadi sempat khawatir."


"Hujanya sangat lebat, Bu, dan tadi ada pohon tumbang di jalan, jadi jalanan menjadi macet. Apa ayah dan Binna serta kak Zia sudah di rumah, Bu?"


"Mereka sudah di rumah dari tadi, hanya paman kamu Tommy belum pulang, dia sedang makan malam dengan Mara."


"Ayah pergi makan malam dengan tante Mara, Bu?" tanya Diandra dengan muka bahagianya.


"Iya, dan mungkin sebentar lagi ayah kamu pulang." Tommy sebenarnya sedang berada di rumah pribadinya dulu, setelah dia mengantar Mara pulang.


"Kalau begitu, aku mau ke kamar dulu, Ya Bu?"


"Em ... Tadi waktu Uno belum datang aku sempat kehujanan di depan sekolah musikku, Ibu. Dan ini tadi Uno mengajakku berhenti di sebuah toko baju dan membelikan aku baju, supaya aku tidak kedinginan karena bajuku basah."


"Oh begitu. Ya sudah kalau begitu. Berarti putraku ini pria yang perhatian dan bertanggung jawab." Arana melihat pada Uno. "Ya sudah kalau begitu kamu tidurlah, kamu pasti cakep, Sayang." Arana mencium kening Diandra.


"Aku permisi dulu, Ibu Arana." Diandra berjalan meraba-raba naik menaiki anak tangga.


"Bu, aku juga capek, aku mau ke kamar aku dulu."


"Tunggu, Uno! Tadi Ibu mendapat telepon dari seorang gadis, dia menangis di telepon, dan bilang jika dia tidak mau berpisah sama kamu. Apa kamu bisa jelaskan sama Ibu? Gadis itu bernama Cerry."

__ADS_1


"Oh Tuhan! Gadis itu kenapa tidak berhenti menggangguku."


"Apa kamu sudah melakukan hal di luar batas dengan gadis itu?" tatap Arana curiga.


"Aku tidak melakukan apa-apa dengannya, Bu. Aku sudah berjanji pada Ibu. Kalaupun aku melakukan hal di luar batas dengan seorang gadis, aku akan bertanggung jawab. Dia memang tidak terima aku memutuskannya, Ibu tidak perlu khawatir akan hal ini."


"Baiklah, ibu percaya sama kamu. Sudah! Kamu tidur sana."


Uno mengecup pipi Ibunya dengan cepat dan naik ke lantai kamarnya. Uno melihat Diandra yang akan menutup pintu kamarnya, dia dengan cepat menahan pintu kamar Diandra.


"Diandra, tunggu!"


"Uno, ada apa?"


Uno tiba-tiba mendekat dan mengecup bibir Diandra. "Uno, apa yang kamu lakukan? Kalau sampai ada yang melihat bagaimana? Kita, kan sudah janji kalau hubungan kita ini backstreet."


"Semua sudah tidur. Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam, Kekasihku, dan mimpi indah."


"Selamat malam Uno." Diandra menutup pintunya dengan wajah merona malu.


Uno met malem, mimpiin author, ya. Akakakak

__ADS_1


__ADS_2