Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Fitting Baju Penganntin


__ADS_3

Pagi itu Arana akan memgajak Zia dan Uno. fitting baju pengantin di butik langganan Arana. Binna yang akan diajak juga menolak dan dia beralasan ingin pulang saja ke apartemennya.


"Ibu, Ayah, nanti kami izin pulang karena Zia ingin pulang, dan lagian memang mereka tidak enak jika meninggalkan apartemen lama-lama."


"Iya, kamu hati-hati saja sama Binna."


Setelah Juna selesai makan pagi, Binna mengcup dahi ayahnya dan Juna pergi ke kantornya.


Arana menyuruh Uno untuk bersiap-siap karena akan dia ajak oleh mamanya untuk fitting baju.


"Apa itu perlu, Bu? Aku malas, aku ada urusan dikampusku, Bu."


"Kalau kamu tidak ikut, lalu siapa yang ibu ukuran tubuhnya?"


Zia melihat ke arah Uno dan seolah memberi kode pada Uno agar mengikuti saja keinginan orang tuanya.


***


Mereka bertiga sudah ada di butik untuk fitting baju. Zia tampak sangat cantik dengan kebaya pengantin berwarna putih dengan banyak payetan di bagian lehernya. Zia tersenyum snagat senang melihat dirinya dengan kebaya pengantin yang dari dulu di harapkan.


Menjadi seorang pengantin dan menikah dengan pria yang dari dulu dia cintai, yaitu Uno. 'Sebentar lagi ... tinggal sebentar lagi, aku akan bersama dengan orang yang aku cintai selama ini. Dia hanya akan menjadi milikku untuk selamanya. Aku akan membuat Uno mencintaiku sebagai istrinya, bukan kakaknya, dan kita akan memiliki seorang anak yang sangat lucu. Perlahan-lahan aku akan membuat kamu melupakan kekasih buta kamu itu, dan hanya ada aku yang ada di dalam pikiran kamu.'


"Zia, kamu sedang mikirin apa?" Tangan Arana yang menepuk pundak Zia sontak membuat gadis dengan baju kebaya pengantinnya itu kaget.


"Ibu, aku hanya sedang memikirkan apa ini semua nyata? Aku akan menikah dengan pria yang selam ini aku anggap sebagai adikku sendiri, Bu. Jujur saja ini berat sekali untukku dan juga untuk Uno."


"Kamu jangan memikirkan hal itu lagi. Ini sudah hal yang memang harus terjadi. Ibu dan ayah harap kalian nanti bisa bahagia membina rumah tangga, perlahan-lahan semua akan kalian akan bisa terima dengan baik."


"Aku tau ini hal yang paling berat untuk Uno, Bu."

__ADS_1


"Iya, ibu tau." Arana setelah kejadian itu juga selalu memikirkan tentang perasaan putranya dan Diandra. "Zia, ayo kita keluar." Arana meminta Zia untuk keluar.


Di luar Uno sedang sibuk dengan ponselnya. Dia sama sekali tidak mau mencoba baju pengantinnya.


"Uno, kamu kenapa masih di sini? Kamu harusnya juga mencoba baju pengantin kamu."


"Pasti muat, Bu. Aku tidak perlu mencobanya," Uno berkata singkat tanpa melihat pada ibunya dia sedang sibuk dengan ponselnya. Uno sedang melihati foto Diandra yang ada di galeri ponselnya. Dia juga dari tadi berkali-kali menghubungi Diandra, tapi gadis dengan mata indahnya itu sama sekali tidak mengangkat panggilannya.


"Uno, kamu harus mencobanya, pernikahan kamu sudah dekat."


Uno melihat ke arah ibunya dan kakaknya Zia yang berdiri di depannya. "Uno, kamu sebaiknya mencoba baju kamu, kalau sudah cocok kita bisa langsung pulang." Zia mencoba membuat Uno menurut dengannya. Zia mengajak Uno berdiri dan berjalan agak jauh dari ibunya.


"Aku malas, Kak," ucap Uno lirih.


"Uno, kamu ingat dengan pembicaraan kita kemarin malam? Ini tidak akan lama, kita ikuti saja. Setelah enam bulan pernikahan kita semua akan kembali seperti semula." Tanga Zia mengusap lembut pipi Uno.


Zia ini memang sangat pandai, dia akan membuat Uno menurut dengan ucapan yang dia janjikan, tapi setelah itu dia akan mengendalikan semuanya, bahkan tidak akan membuat Uno lepas darinya. Dan polosnya Uno ini percaya dengan semua yang Zia katakan, Uno memang baik, dia masih tetap menganggap Zia adalah kakak yang baik yang menyayangi dia.


"Kamu tampan sekali, Uno."


"Coba kalian berfoto, ini akan menjadi salah satu foto koleksiku yang sangat indah. Kalian berdua walaupun tanpa make up terlihat sangat cantik dan tampan," pemilik butik itu berkata.


"Maaf, tapi aku tidak suka di foto. Kalau sudah selesai, aku akan melepasnya dan kita bisa segera pulang, Bu," ucap Uno malas.


"Uno, kita berfoto sebentar saja."


"Kak, aku tidak suka dengan semua ini." Mereka berbicara sambil berbisik.


"Ini kita di butik, jangan membuat ibu kita malu, mereka taunya kita adalah sepasang pengantin yang akan menikah."

__ADS_1


Uno yang sebenarnya terlihat kesal akhirnya mau berfoto dengan baju pengantin itu. Saat akan berfoto untuk yang ke tiga kalinya, ponsel Uno berdering dan Uno melihat nama Diandra.


"Diandra. Em ... sudah dulu berfotonya, aku mau menjawab teleponku dulu." Uno langsung pergi dari sana.


Zia yang melihatnya tampak marah, dia tau siapa yang membuat Uno pergi dari sana seperti itu. Tangan Zia meremas erat bagian bawah kebaya pengantinnya untuk meluapkan kekesalannya.


'Sabar, Zia. Semua ini akan segera selesai.'


"Zia, ibu akan menemani kamu berganti baju dulu." Arana mengajak Zia masuk ke dalam ruang ganti.


Uno berjalan keluar untuk menerima panggilan dari Diandra.


"Halo, Sayang."


"Uno, jangan memanggilku begitu. Aku tidak mau kalau ada yang mendengar dan menganggap kamu punya selingkuhan."


"Diandra jangan seperti itu. Aku ada hal yang ingin aku katakan sama kamu."


"Kita sebaiknya tidak perlu sering bertemu dan berkomunikasi seperti ini. Kamu akan menikah Uno. Kamu sekarang sedang di butik untuk fitting baju, Kan?"


"Bagaimana kamu tau?"


"Aku sudah pulang ke rumah, dan salah satu pelayan mengatakan kalian semua pergi ke butik untuk fittinga baju. Uno, aku tidak mau ayahku atau ayah kamu tau tentang hubungan kita. Apalagi ayahku, dia akan shock bahkan dia bisa membenci kamu, aku tidak mau hal itu terjadi."


"Diandra, tapi aku memang tidak ada maksud menyakiti kamu. Aku mencintai kamu."


"Aku juga mencintai kamu, bahkan sangat, tapi kita tidak ditakdirkan bersama Uno. Aku mencoba menerima semua ini walaupun sangat menyakitkan. Mulai sekarang lupakan saja aku dan kenangan indah kita. Aku sudah mengemasi semua barang-barangku dan setelah kamu menikah dengan kak Zia, aku akan pulang ke Kanada. Di sana aku akan memulai kehidupan baruku begitupun dengan kamu, Uno."


Diandra menangis di tempatnya. Pun dengan Uno, tidak terasa dia juga meneteskan air matanya. Mereka mengakhiri panggilan teleponnya dan Uno kembali ke dalam dengan perasaan hancur sehancur-hancurnya.

__ADS_1


Di perjalanan pulang Uno hanya terdiam tidak berkata apa-apa. Arana sepertinya tau siapa yang tadi menghubunginya. Arana sangat kasihan melihat putranya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2