Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
OH Uno ...


__ADS_3

Diandra sangat terkejut mendengar suara seseorang di dalam kamar itu, dia dengan cepat menoleh dengan napas yang menderu. "Siapa?" ucapnya dengan tegas dan cepat.


Tidak ada suara jawaban dari seseorang di dalam sana. Kedua mata pria itu terpesona dengan penampilan indah Diandra. Dia sampai tidak berkedip. "Indah sekali," ucapnya lirih.


Sekali lagi mata Diandra mendelik, dia baru sadar jika tubuhnya polos. Dengan cepat tangan Diandra meraba dan menyaut selimut yang ada di atas kasur dan menutupkannya pada tubuhnya. "Kamu siapa!" tetiaknya agak keras.


"Hei ... hei!" Dengan cepat mulut Diandra di bingkam. "Jangan berteriak seperti itu, nanti aku bisa dituduh berbuat buruk sama kamu. Kamu siapa? Dan kenapa bisa berada di dalam kamarku?" Dia melepaskan perlahan tangannya.


"Kamu Uno?" tanya Diandra, dan posisi Diandra yang di peluk dari belakang membuat Diandra menoleh ke belakang.


"Iya, aku Uno, kenapa kamu bisa tau namaku? Dan siapa kamu?" Sekarang Uno membalikkan tubuh Diandra menghadap ke arahnya sambil memeluk Diandra erat.


"Aku Diandra."


"Apa? Kamu Diandra? Si gendut itu?" Mata Uno membelalak. Diandra tidak menjawab, Uno memandangi mata indah milik Diandra yang seolah melihatnya. Suasana di dalam kamar itu seketika hening.


"Uno, maaf, apa aku salah masuk kamar? Aku minta maaf, aku kira ini kamar yang sudah di siapkan ibu Arana untukku."

__ADS_1


Uno tidak menjawab, dia masih terpesona dengan mata indah milik Diandra. "Uno, kenapa tidak menjawab? Aku tau kamu masih di sini. Bisa lepaskan pelukan kamu?" ucap Diandra lagi.


"Kamu indah sekali Diandra," ucap Uno pelan, tapi Diandra bisa mendengarnya.


Sekali lagi mata Diandra mendelik. "U-Uno, apa kamu tadi melihatku?" tanya Diandra dengan bibir bergetar.


"Lihat, aku melihat semua. Kamu sangat cantik. Apalagi tahi lalat di pinggang kamu," ucap Uno santai.


"Ah ...! Uno, kenapa kamu tidak sopan?" Sekarang muka Diandra agak kesal.


Diandra berpikir, Uno memang tidak salah, ini kan kamar dia. "Uno, aku mau kembali ke kamar aku. Tolong lepaskan pelukan kamu."


Uno yang baru sadar dari tadi memeluk Diandra melepaskan pelukannya. "Aku minta maaf."


"Aku yang minta maaf, sudah masuk ke dalam kamar kamu, aku mau ke kamar aku kalau begitu."


"Ke kamar kamu? Apa kamu mau keluar dari kamarku dengan penutup selimut itu?

__ADS_1


"Bajuku tidak ada di sini, hanya ini yang bisa aku pakai."


"Tunggu sebentar ya. Aku akan melihat di luar apa sepi, kalau ada pelayan atau bahkan ibuku, yang ada aku bisa kena masalah." Uno berjalan menuju pintu dan melihat ke luar, di luar sebenarnya sepi tidak ada pelayan di sana. "Tidak ada orang, tapi aku masih ingin bisa bersama dengan si mata indah itu," ucapnya lirih sambil tersenyum devil.


"Uno, bagaimana?" Tanya Diandra yang memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya, dan menunggu jawaban Uno.


"Ada beberapa pelayan yang ada di luar, seperti biasa sedang membersihkan ruangan di sini."


"Lalu bagaimana?" tanya Diandra dengan cemas.


"Kamu di sini saja sampai nanti pelayan itu pergi. Aku tidak masalah kamu berada di kamarku." Uno malah berbaring santai. Ini author pengen getok ini si anaknya Juna 😁


"Di sini, dengan keadaan seperti ini? Jangan bicara yang tidak-tidak, Uno! Aku tidak mau!"


"Kalau begitu kamu pakai saja bajuku dulu." Uno berdiri dan mendekat ke arah Diandra.


Nanti aku lanjut lagi ya, sabar

__ADS_1


__ADS_2