
Lila masih setia di sana mendengarkan keluh kesah dari anak gadisnya Arana yang rada manja ini, Binna nyerocos mulu tentang Lukas yang kenapa tiba-tiba menghilang tidak masuk sekolah beberapa hari, sampai kekesalannya pada si Devon yang menciumnya lagi dengan paksa.
"Kamu enak banget ya, Binna. Di rebutin sama dua cowok ganteng, malahan satunya jelas mau jadi suami kamu, lah aku pacaran sama cowokku ini saja aku tanya apa nanti dia bakal mau menikahi aku setelah aku lulus sekolah, eh dia diem aja."
"Memangnya kamu mau langsung menikah setelah lulus sekolah, Lila?"
Lila mengangguk. "Seru kali, Binna. Menikah di usia muda, bukannya kamu mau menikah sama pangeran bermotor itu setelah lulus sekolah?" Lila sambil nyedot jus jambunya.
"Bukan aku yang mau, tapi ibuku, padahal aku mau menikah setelah lulus kuliah saja, biar dia kelamaan menunggu dan akhirnya dia lelah dan bosan menunggu aku, dan akhirnya dia batal menikah denganku," Binna berkata dengan semangatnya.
"Pikiran kamu ternyata licik sekali, Binna, bukannya menikah di usia muda itu menyenangkan? Apalagi kamu menikah dengan cowok yang mapan, ganteng, dan sayang sama kamu."
"Yang sayang sama aku itu cuma Lukas, kalau kak Devon itu, enggak. Dia cuma mengikuti apa kata mamanya saja, dia saja kayak kutub utara begitu, gak bisa lembut kayak Lukas."
"Mungkin dia memang begitu orangnya, siapa tau, di balik sikapnya itu dia sayang banget sama kamu, kamu saja yang memang tidak sadar."
"Kenapa jadi belain si kutub utara itu terus? kamu kan teman aku, sahabat aku." Muka Binna sebal.
"Hem ... begitu saja marah! ya sudah masuk kelas saja, tapi di dalam tidak ada pelajaran, enaknya pulang kalau begini. Atau aku mau menghubungi cowok aku, aku mau jalan-jalan saja sama dia," terang Lila dengan senangnya.
"Kamu mau pulang? apa tidak mau menunggu aku di sini?"
"Binna, kamu kan katanya ada latihan menari hari ini, lagian nanti kamu akan di jemput pangeran bermotor kamu, ya kamu tunggu saja, atau kamu hubungi dia buat jemput kamu sekarang ajak dia jalan-jalan kita double date."
Binna memutar bola matanya jengah. "Enggak mau! mending aku latihan menari saja." Muka Binna ditekuk kesal.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kamu latihan saja. Ayo masuk dulu, aku mau melihat pengumuman tentang acara prom night yang akan diadakan oleh sekolahan kita." Lila dengan antusias menggandeng tangan Binna. Mereka berdua masuk ke dalam kelas. Di dalam sudah ramai saja anak-anak di sana.
"Aku tidak semangat untuk hadir dalam acara itu," Binna berucap dengan malas dan duduk di bangkunya.
"Kenapa? kamu berharap datang sama Lukas? siapa tau nanti Lukas datang pas acara itu, tapi kalau tidak sih! Tidak apa-apa, kan kamu bisa datang sama pangeran bermotor kamu." Lila menaik turun kan alisnya.
"Aku tidak akan pernah mengajak dia datang ke acara itu kalau Lukas tidak datang, mending aku tidur di rumah."
"Ck! Kalau kamu tidak datang tidak seru, Binna
Bagaimanapun inikah acara untuk menyambut kita yang akan lulus, lagian bukannya kamu nanti akan menari di sana sama pasangan tari kamu. Lagipula nanti acaranya kan temanya pesta topeng, pasti seru ... Binna!" Ini anak semangat sekali.
"Kamu datang sama siapa? Cowok Kamu?"
"Aku tidak tau, soalnya cowok aku bilang dia mau pergi ke luar kota dalam beberapa hari, di bulan di mana acara prom night di sekolah di adakan, dia ada acara dengan keluarganya. Aku bisa datang sendiri, siapa tau nanti ada yang bisa aku ajak dansa di sana." Lila terkekeh.
Tidak lama guru cantik mereka datang dan membagikan undangan untuk penerimaaan rapot dan undangan acara prom night. Setelah itu mengizinkan mereka pulang.
Lila mengikuti Binna ke tempat latihannya, sambil menunggu cowoknya datang menjemput. Tidak lama seorang cowok datang dengan mobil berwarna silvernya, cowok itu turun dengan muka songongnya, kacamata hitam di naikkan ke atas dahinya.
"Hai, Nico!" sapa Lila sambil melambaikan tangan dan berlari kecil menghampiri kekasihnya.
"Hai, Lil. Maaf, ya menunggu lama. Aku tadi sedang sibuk. Kita jadi pergi sekarang?"
"Iya. Eh sebentar, aku kenalkan dulu sama sahabat aku si Binna." Lila menggandeng tangan kekasihnya dan mengajaknya ke tempat Binna. "Binna ini kenalkan cowok aku namanya Nico Saputra. Dia sudah kuliah semester 5 di salah satu kampus ternama di sini, dan dia juga sudah bekerja menjalankan bisnis travel ayahnya."
__ADS_1
"Hai, aku Nico." Nico mengulurkan tangannya mengajak Sabinna berjabatan tangan, Sabinna pun menyambut dengan baik jabatan tangannya.
"Aku Sabinna, sahabatnya Lila." Binna tersenyum kecil.
"Kamu cantik sekali, apa yang katanya Lila penari itu? Wow! pasti menyenangkan jika bisa melihat kamu meliuk-liukkan tubuh indah kamu," ucapnya dengan raut wajah yang Binna tidak suka melihatnya, Binna dengan cepat menarik tangannya yang masih di jabat oleh Nico.
"Biasa saja, kok," ucap Binna cepat.
"Kamu kenapa tidak ikut latihan menari saja, Lila? Pasti kamu akan terlihat lebih sexy apalagi menari untukku." Sekarang Nico memeluk Lila dengan mesra. Kelihatannya dia cowok bangsul.
"Aku kan tidak suka menari, awalnya aku pernah mengikuti, tapi lama kelamaan aku tidak suka, aku lebih suka berenang saja, menjadi seorang perenang.
"Itu juga tidak apa-apa, kapan-kapan kita bisa berenang bersama, dan kamu bisa memakai bikini yang nanti aku akan belikan buat kamu." Nico memeluk Lila dengan mesra.
"Lil, aku mau latihan dulu. Kalian mau pergi, Kan?" ucap Binna yang sepertinya eneg melihat kekasihnya Lila yang di rasa tidak sopan.
"Iya, kami mau jalan-jalan dulu. Kamu hati-hati, ya, dan sampaikan salam aku sama pangeran bermotor kamu."
"Hem ...!" Binna hanya berdehem dan malas melihat Lila, Binna berjalan masuk ke dalam tempat latihannya, dia mulai dengan kegiatan menarinya, dia latihan menari salsa dengan pasangan tarinya seorang cowok yang menari dengan lemah gemulai. Binna menari dengan fokus dan seriusnya, tubuhnya bergerak ke sana ke mari mengikuti alunan musik salsa.
Dari kejauhan tampak sepasang mata tidak lepas memperhatikan Binna yang menikmati tariannya. Terlukis senyum dari sudut bibirnya.
Musik sudah berhenti, Binna dan pasangan tarinya dalam posisi yang saling berhadapan dengan tangan Binna melingkar di leher pasangan tarinya, dan salah satu kaki Binna diangkat oleh pasangan tarinya, agak mesra, sih, tapi mereka kan hanya latihan.
Lukas, masih author buat ngilang, jangan kangen
__ADS_1