Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Tommy Oh Tommy


__ADS_3

Devon sudah berpamitan pada kedua orang tua Sabinna. Terlihat wajah bahagia Arana takkalah mengantarkan Devon keluar dari mansion. Binna langsung berlari ke dalam kamarnya. Dia benarana masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.


Binna duduk di datas ranjangnya, dia mencoba memejamkan matanya, berharap semua ini mimpi. Namun, dia malah merasakan seseorang mencium bibirnya.


"Kak Devon," ucapnya lirih. "Oh Tuhan!" Binna dengan cepat membuka matanya. "Apa aku sudah mulai menyukai cowok kutub utara itu? Tidak mungkin! Aku tidak mungkin menyukai dia. Lukas, kamu di mana? Kenapa kamu menghilang di saat aku membutuhkan kamu di sini?" Binna berbaring dan memeluk bantalnya.


***


"Mara, apa kamu bisa jelaskan kenapa kamu seolah menghindar dariku?"


Tommy dan Mara malam ini makan bersama di sebuah restoran, mereka sedang duduk berdua dan saling menatap dengan serius.


"Aku tidak menghindar dari kamu, Tom. Aku memang sedang sibuk." Mara mencoba menghindari tatapan Tommy.

__ADS_1


"Mara." Tangan Tommy memegang telapak tangan Mara yang ada di atas meja. Sontak Mara sangat kaget. "Jangan berbohong padaku? Berikan aku alasan yang bisa membuatku untuk yakin bahwa kamu memang tidak mencintaiku, dan tidak membuat aku selalu mengharapkan kamu, jujur saja aku sangat mencintai kamu, Mara. Bahkan Diandra selalu mengharapkan kamu menjadi pengganti ibunya. Lalu apa yang harus aku katakan padanya?"


Mara terdiam terpaku. Dia juga bingung dengan apa yang harus dia lakukan. "Tom, maaf, aku akan terus menjadi tante untuk Diandra, Diandra tidak akan kehilangan kasih sayang dariku, tapi kasih sayang sebagai seorang tante kepada ponakannya tidak berubah."


Tommy menarik tangannya. Dia menarik napasnya pelan. "Terima kasih atas jawaban kamu." Tommy tersenyum miris. "Aku sekarang bisa yakin jika memang kamu tidak pernah memiliki perasaan apa-apa kepadaku. Dan maaf jika selama ini aku tidak membuat kamu nyaman."


"Jangan berkata seperti itu, Tom. Aku tidak merasa kamu membuat aku tidak nyaman, tapi maaf aku tidak bisa membuat hubungan kita selama ini lebih dari saudara." Jujur saja, hati Mara rasanya sesak. Mara tidak bisa mengatakan hal yang dia simpan selama ini pada Tommy.


"Baiklah! Kalau begitu, aku akan mengantar kamu pulang, ini sudah malam." Tommy beranjak dari tempatnya, dia mengambil suitnya yang di letakkan pada tepian kursinya.


"Pakai suitku, kamu pasti kedinginan. Hujan tadi sangat deras, dan suasanya menjadi dingin." Tommy memasangkan suitnya pada tubuh Mara. Wanita itu hanya bisa menatapnya dan memegang suit pemberian Tommy.


Tidak lama mobil mereka datang dan Tommy mengantar dia pulang. Sepanjang perjalanan Mara dan Tommy hanya saling terdiam, tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah Mara.

__ADS_1


"Tommy terima kasih, tolong sampaikan salam sayang aku pada Diandra."


"Kenapa tidak kamu sampaikan sendiri? Apa kamu tidak ingin mengajak dia bertemu? Dia sangat ingin bisa bertemu dan berkumpul sama kamu seperti saat kalian di Kanada."


"Iya, nanti aku akan menghubungi dia, aku akan mengajak Diandra bertemu, mamaku juga kangen sama Diandra. Kalau begitu aku mau masuk dulu. Terima kasih sekali lagi." Mara melepas suitnya dan memberikan pada Tommy.


"Mara, tunggu!"


Mara menoleh pada Tommy. "Ada apa, Tom?"


"Katakan padaku, Apa kamu tidak mencintaiku?"


Deg ...

__ADS_1


Mara seketika terpaku dengan pertanyaan Tommy.


Nanti aku lanjut satu bab lagi, Ya.


__ADS_2