Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Perlakuan Buruk


__ADS_3

Diandra masih terdiam duduk di tempatnya. Dia masih bingung. Uno duduk di depannya.


"Sekarang sudah sepi, hanya kita berdua di sini, Diandra."


"Kita berdua? Memangnya kita di mana? Dan ini apa? Kenapa ada meja dan aku mencium bau makanan yang sangat enak."


"Aku membawa kamu ke sebuah gedung kolam renang yang sudah tutup, dan aku juga menyiapkan makan malam untuk kamu di sini, yang jelas makan malam romantis."


Kedua mata Diandra mengerjap beberapa kali. "Di gedung kolam renang? Dan makan malam?"


"Iya, kalau di rumah, kita tidak dapat berenang bersama, kamu kan suka pantai, tapi aku khawatir jika mengajak kamu berenang ke pantai, aku ingin kita bisa berenang bersama, kemudian setelah itu kita bisa makan malam."


"Apa kamu punya maksud dengan semua ini?" Tatap Diandra curiga.


"Aku tidak punya maksud apa-apa. Sayang. Aku hanya ingin menghabiskan waktu di tempat lain sama kamu. Aku bosan jalan-jalan di Mall."


"Tapi aku tidak membawa baju renangku, jadi kita tidak bisa berenang," ucap Diandra santai.


"Siapa bilang? Aku sudah menyiapkan semuanya, Diandra. Aku tadi sebelum ke sini membelikan baju renang buat kamu. Pokoknya semua sudah aku siapkan."


Diandra ini jadi agak takut, apa Uno ini memiliki niat buruk gara-gara melihat dia waktu itu berenang di rumah tantenya. Wkakakakk. Tenang saja, dia Uno anaknya Arana. Gak mungkin dia punya pikiran buruk, entah kalau khilaf.


Binna dan Kak Devon sudah berada di dalam mobil, mereka akan menuju ke acara pesta ulang tahun Lila. Malam ini Sabinna terlihat sangat cantik dengan gaun yang diberikan kak Devon. Kak Devon juga malam ini sangat tampan dengan setelah kemeja berwarna hitam dan dasi berwarna merah tanpa menggunakan suitnya.


"Binna, apa kado buat Lila sudah kamu bawa?"


"Sudah, Kak. Aku tidak lupa membawanya."


"Kamu cantik sekali malam ini," puji Kak Devon tampa melihat ke arah Sabinna. "Aku tidak sabar menunggu kamu memakai gaun penganti kamu."


"Kak, apa benar pernikan kita kurang beberapa minggu lagi?"


"Iya, memangnya kenapa? Apa kamu mau dipercepat lagi?"

__ADS_1


"Jangan dipercepat, aku bertanya karena jujur aja aku masih takut dan belum siap."


"Aku juga belum siap, tapi aku tidak takut, apa yang seram dari sebuah pernikahan? Kamu tenang saja, biarkan semua berjalan apa adanya." Tangan Kak Devon memegang tangan Sabinna yang ada di atas paha Sabinna.


'Sepertinya aku memang tidak bisa mundur lagi. Huft! Mungkin memang ini sudah takdirku. Aku harus menerimanya.'


Mereka tiba di sebuah gedung yang dihias sangat indah. Binna agak bingung, kenapa tidak di rayakan di rumah Lila saja seperti pesta ulang tahun sebelumnya. Pesta kali ini terlihat lebih formal.


Binna dan Devon masu ke dalam. Kak Devon tidak lupa menggandeng tangan Sabinna, dia tidak mau kalau sampai Sabinna diajak kenalan sama cowok-cowok di sana.


"Binna!Kamu cantik sekali." Seorang teman langsung menghampiri Sabinna.


"Sandra. Kamu juga sangat cantik."


"Kak Devon, Kakak juga sangat tampan. Kalian datang berdua lagi? Binna kalau kamu tidak punya teman buat diajak datang ke sini, kamu bisa kabari aku, nanti aku bisa kenalkan kamu sama seseorang, dan biar Kak Devon datang denganku," Bagian itu Sandra berbisik pada Sabinna.


Muka Sabinna tampak aneh dan mencoba tersenyum dengan terpaksa.


Kedua mata gadis manis itu membulat dan mengerjap beberapa kali. "Calon suami? Bukannya waktu itu--?"


"Waktu itu memang benar, aku dan Sabinna bersahabat dari kecil, tapi sekarang aku calon suami Sabinna dan kita akan segera menikah."


"Benar itu, Binna?"


Sabinna mengangguk perlahan. "Kak Devon calon suamiku."


"Kenapa kamu jahat sekali, tidak mengatakan sejujurnya, aku sudah mulai suka dengan Kak Devon." Sandra dengan muka kesalnya pergi dari sana."


"Sandra! Aku bisa jelaskan!" Binna mau mengejar, tapi di halangi oleh Kak Devon. "Kak, aku mau minta maaf sama dia. Aku tidak mau dia membenciku."


"Biarkan saja, nanti dia juga akan lupa. Kita di sini untuk menghadiri ulang tahun Lila. Kamu tidak perlu memikirkan lainnya." Kak Devon menggandeng tangan Sabinna dan mengajak menemui Lila.


Saat berjalan ke arah di mana Lila berdiri dan di depannya ada kue ulang tahun, seketika kedua mata Sabinna mendelik, dan Binna mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Kak Devon.

__ADS_1


Kak Devon melihat ke arah Sabinna. "Kak, kenapa dia ada di sana? Bukannya harusnya Lila sudah tidak berhubungan sama pria itu?"


"Kamu tenang saja, Binna. Pria itu tidak akan bisa mendekati kamu. Dia akan berurusan denganku jika berani berbuat buruk sama kamu." Sorot mata Devon menatap tajam.


"Binna, Kak Devon! Terima kasih kalian mau datang ke sini." Lila memeluk Sabinna.


"Selamat ulang tahun, Lila, dan ini kado dariku dan Kak Devon." Binna menyerahkan sebuah kotak di bungkus dengan kertas kado lucu.


"Terima kasih, ini apa? Apa benda yang sangat aku sukai?" Tebak Lila.


"Iya, itu benda yang sangat kamu sukai, Kak Devon yang memilihkan modelnya, semoga kamu suka."


"Sekali lagi terima kasih ya, Kak Devon, Binna."


"Halo, Devon." Tiba-tiba pria yang Devon benci memeluknya sok akrab. "Halo, Sabinna." Saat Nico mau memeluk Sabinna, dengan cepat tangan Devon menahan tubuh Nico.


"Kamu tidak perlu memeluknya, karena aku tidak suka dengan hal itu," ucapnya tegas.


"Aku hanya mau menyapanya, dan soal kejadian itu, aku minta maaf, mungkin waktu itu aku terpengaruh minuman. Aku juga sudah menjelaskan pada Lila. Iyakan, Sayang?" Nico melihat Lila dengan tersenyum.


"Iya, Kak Devon. Maaf atas kesalahan Kak Nico. Kita bisa berteman seperti dulu, Kan? Dan nanti di sini aku ingin menyampaikan kabar bahagia."


"Kabar bahagia apa, Lila?" tanya Binna penasaran.


"Aku dan Kak Nico akan bertunangan, dan tidak lama aku akan menyusul kamu dan Kak Devon menikah, Sabinna." Muka Lila tampak bahagia.


"Apa?! Kamu serius, Lila?" Binna seolah tidak percaya.


"Iya, Binna. Kemarin Kak Nico sudah melamarku pribadi, dan beberapa bulan lagi kita akan bertunangan." Lila memluk Binna, Binna tampak masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lila.


Binna sudah menceritakan tentang bagaimana sikap brengsek Kak Nico pada Binna, tapi kenapa sekarang malah Lila memutuskan mau menikah dengan pria seperti Kak Nico?


"Lila, apa kamu sadar dengan keputusan kamu? Kamu sudah tau, kan? Pria ini bagaimana? Jangan sampai kamu menyesal." Devon menatap tajam pada Nico. Nico hanya tersenyum seolah dia meremehkan Devon.

__ADS_1


__ADS_2