
Devon yang melihat hal itu ingin merebut cutter dari tangan Karla, tapi tidak berhasil. Karla berdiri dengan berderai air mata. Devon tidak pernah melihat Karla seperti itu.
"Karla apa kamu sudah gila? Apa yang mau kamu lakukan?"
"Aku benar-benar mencintai kamu, Devon, rasanya sakit sekali melihat kamu menikah dengadis itu."
"Karla, aku tau kamu mencintaiku, tapi cinta kamu tidak gila seperti ini. Apa yang sudah terjadi sama kamu? Kamu sering bersenang-senang dengan banyak pria, tapi kenapa kamu seolah sangat menderita seperti ini?"
"Aku bersenang-senang dengan mereka karena kamu tidak pernah memperdulikan aku, aku mencari pelarian dengan pria-pria itu."
"Ck! Jangan melow seperti ini, katakan? Apa yang membuat kamu seperti ini?" Devon ini malah santai menanggapi Karla itu.
"Kamu jahat, Dev. Apa kamu tidak tau, aku benar-benar tidak bisa kehilangan sosok pria seperti kamu." Karla kembali terduduk di atas ranjang dan menangis.
"Aku tau, kamu sedih karena mengira aku akan melupakan kamu setelah aku menikah? Kamu bisa tetap menjadi sahabat aku, dan sekarang kamu akan mendapat teman baru, yaitu Binna. Aku yakin Binna akan mau berteman sama kamu, asal kamu jangan berlebihan saja denganku, karena Binna tidak akan menyukainya."
Karla menatap Devon dengan mata sembab. Devon mengambil cutter dari tangan Karla. Karla berdiri dari tempatnya dan Devon juga. "Tapi aku benar sangat menyukai kamu, Devon."
"Mencintai, kan, tidak harus memiliki. Kamu tetap akan menjadi sahabat aku, dan aku tidak akan melupakan kamu, Karla.
Tiba-tiba Karla memeluk Devon, tangannya bergelayut pada leher Devon. "Karla, kamu jangan begini, tidak enak kalau sampai orang lain melihat, yang tidak tau akan mengira kita ada apa-apa."
"Ayolah! Anggap saja ini sebagai pelukan seorang sahabat yang ikut bahagia dengan kebahagiaan yang sedang sahabatnya rasakan."
"Iya, tapi tidak seperti ini." Devon berusaha melepaskan, tapi Karla malah seolah tidak mau. Sampai pada akhirnya mereka terjatuh do atas ranjang Binna dengan posisi tubuh Kak Devon berada di atas tubuh Karla.
"Karla!" Devon berusaha berdiri, tapi lagi-lagi Karla menahan tubuh Devon, dan rangkulan pada leher Devon malah di tarik Karla mendekat dan kemudian Karla mengecup bibir Devon.
"Kalian sedang apa di kamarku!" Tiba-tiba suara Binna berseru dengan marah di sana.
__ADS_1
Devon langsung dengan kasar melepaskan tangan Karla. "Binna, kamu di sini?"
"Tentu saja aku di sini, ini kamarku, Kak Devon sedang apa dengan Karla di dalam kamarku? Kalian bahkan tadi--." Binna, tampak sangat marah.
Di luar kamar, Zia tampak tersenyum pada Karla. Zia menikmati pertengkaran Binna dan Devon.
"Binna, dengarkan aku! Karla coba kamu katakan ini semua hanya salah paham, dan ciuman itu bukan apa-apa. Aku juga tidak tau kenapa kamu malah menciumku?" Devon melihat tidak percaya pada Karla.
"Memangnya apa yang harus aku jelaskan, Devon. Binna harus tau kalau sebenarnya aku sangat mencintai kamu, dan mungkin kamu juga, tapi karena kamu sangat menurut dengan mama kamu, kamu menerima perjodohan ini."
"Apa kamu bilang? Aku tidak pernah terpaksa menerima perjodohan ini, aku sangat mencintai Sabinna dan kamu tau itu. Ternyata kamu bukan sahabat, tapi seorang iblis. Pergi dari hadapan aku, Karla! Aku tidak akan mau menganggap kamu sahabatku lagi," bentak Devon dengan marah
"Apa? Kamu tega mengusirku? Devon, aku sangat mencintai kamu, bahkan gadis ini tidak mencintai kamu, kenapa kamu begitu bodoh mencintai dia?"
"Get Out!" bentak Devon kasar.
"Binna, aku akan jelaskan semua, jangan seperti anak kecil."
"Aku bukan anak kecil! Dan tadi yang aku lihat bukan hal yang seharusnya Kak Devon lakukan dengan sahabat Kakak. Kak Devon sudah menikah denganku. Sebaiknya aku meminta agar pernikahan ini di sudahi saja." Binna ini malah terbawa emosi. Dia itu mulai menerima Devon, bahkan mulai mencintainya, tapi yang dia lihat tadi benar-benar membuatnya kecewa.
"Binna!" Devon memeluk Sabinna dari belakang, berusaha mencegah Sabinna pergi dari sana.
"Lepaskan!" Binna berusaha berontak dari pelukan kak Devon. "Aku tidak mau bicara dengan Kak Devon."
"Binna, kita sudah menikah, tidak seharusnya kamu percaya dengan Karla. Aku suami kamu, aku sangat mencintai kamu."
"Aku tidak mencintai, Kak. Lepaskan! Aku mau bicara sama ibuku dan tante Tia."
"Binna." Devon mengeratkan pelukannya. "Jangan mengambil keputusan dengan marah, apa kamu tidak kasihan dengan perasaan keluarga kamu, dan ini bukan yang seperti yang kamu pikirkan. Dengarkan aku, Binna.
__ADS_1
Binna memikirkan kata-kata kak Devon, dia juga tidak mau menyakiti keluarganya. Tapi dia juga sangat sakit dengan kejadian tadi. "Aku tidak akan berkata apa-apa, tapi aku juga tidak mau bicara sama Kak Devon, aku membenci Kak Devon!" Binna melepaskan dengan kasar tangan Devon dan pergi dari sana. Binna ke kamar mandi dan membersihkan air matanya. Dia benar-benar sangat kecewa, apalagi melihat mereka tadi berciuman di kamarnya, di atas ranjangnya.
Acara pesta pernikahan itu tampak meriah, Binna terlihat seolah- olah dia menikmati acara itu, padahal hatinya sangat sedih dan masih marah.
"Devon, apa setelah acara ini kamu langsung membawa Sabinna ke apartemen kamu?" tanya Arana yang sedang duduk berkumpul setelah semua orang sudah banyak yang pulang.
"Iya, Tante."
"Kok tante? Panggil Ibu, kamu kan sekarang sudah menikah dengan Binna, dan kamu juga bagian dari keluarga ini, kamu seperti anakku."
"Iya, Ibu. Aku akan membawa istriku ke apartemenku, aku sudah menyiapkan semuanya di sana."
Binna yang mendengarnya agak terkejut. "Ibu, apa boleh kalau aku pindah ke apartemen menunggu beberapa hari lagi? Aku, kan tidak mau jauh dari Ibu dan Ayah secepat ini. Aku masih mau di sini," rengeknya.
"Kamu, kan, sudah menikah, jadi kamu harus tinggal dengan suami kamu, lagian kamu masih bisa mengunjungi kita di sini. Kamu harus mulai belajar menjadi istri dan calon ibu nantinya."
Devon melihat dengan tegas pada Binna. Binna malah melihat malas pada Devon. "Benar apa kata Ibu Arana, Binna. Kita sebaiknya segera pindah ke apartemenku, di sana sudah aku siapkan semua keperluan kamu." Binna tidak menjawab.
"Kamu harus sabar dengan Binna ya, Devon. Kamu tau, Kan, dia putri bungsu Ibu yang sangat manja." Devon mengangguk perlahan.
Acara telah berakhir, mereka membantu Binna bersiap-siap untuk pindah ke apartemen Devon. "Kalian nanti mau berbulan madu ke mana?" tanya Tia.
"Aku terserah Sabinna saja, Ma."
"Mungkin aku tidak mau berbulan madu dulu, Mama Tia. Kita di rumah dulu saja."
"Kenapa tidak pergi berbulan madu? Kalau mau kalian bisa berbulan madu ke Belanda, nanti mama siapkan semuanya."
Belanda? Ketemu Karla? Oh No.
__ADS_1