Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Binna di bawa pergi oleh pria yang mengajak berkenalan dengannya tadi. Lukas di tempatnya masih menunggu Sabinna kembali dari toilet. "Binna kenapa lama sekali? Apa terjadi sesuatu sama dia?" dialognya cemas.


Binna dan pria itu berjalan menuju parkiran, Binna merasakan tubuhnya sangat tidak enak, dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Pria di sampingnya itu memeluk Sabinna dan hendak membawanya masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu siapa? Ini kenapa tubuhku begini? Panas sekali," rengek Binna.


"Aku akan membawa kamu ke tempatku, Sayang. KIta akan bersenang-senang, dan aku akan membuat kamu melayang di atas langit. Kamu sangat cantik sekali, dan aku ingin menghabiskan malam ini dengan kamu sampai pagi."


"Maksud kamu apa?" Binna merengkuh tubuhnya sendiri karena ada hal tidak enak yang dia rasakan saat ini.


"Nanti kamu juga tau."


Bruk ...


Tiba-tiba pria itu menabrak tubuh seseorang. "Maaf, saya tidak sengaja," ucap orang yang menabrak Binna dan pria itu.


"Kamu gak punya mata, Ya?" ucapnya ketus.


"Binna!"


Ternyata pria yang menabrak Sabinna dan orang yang mau membawa Sabinna adalah Devon suaminya Sabinna. "Kamu siapa?" Pria itu ceoat-cepat mau pergi dari sana, tapi dengan cepat Devon menarik baju pria itu dan menghajarnya sampai jatuh ke tanah. Sabiina yang sudah tidak punya daya bersandar pada mobil yang parkir di sana.


"Apa yang mau kamu lakukan pada gadis itu?"


"Tolong, badanku rasanya panas sekali," rintih Sabinna.

__ADS_1


Devon yang melihat Sabinna merintih seperti ada hal yang tidak beres segera menggendong Sabinna dan membawanya masuk ke dalam mobil. Devon membawa Sabinna pergi dari sana.


"Berengsek! Siapa orang yang membawa mangsaku pergi?" Pria itu masih tersungkur di tanah dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Di dalam mobil Sabinna duduk dengan merengkuh kedua kakinya, di tampak tidak baik-baik saja. Devon yang melihatnya bingung. Sebenarnya apa yang terjadi dengan istrinya ini? Dan kenapa dia bisa ada di cafe dengan pria tadi?


"Binna, kamu tidak apa-apa?"


"Tolong aku, tolong aku, tubuhku terasa panas sekali," sekali lagi Binna merintih meminta tolonh.


Kak Devon yang tau perjalanan masih jauh segera menepikan mobilnya ke tempat yang sepi. Dia memeriksa keadaan Sabinna. "Sepertinya dia sudah meminum sesuatu."


Saat Kak Devon berpikir, tiba-tiba Sabinna menarik kra kemeja Kak Devon dan mengecup bibir suaminya itu dengan liar. Kak Devon mencoba melepaskan ciuman istrinya yang tidak terkontrol itu. "Binna, kamu kenapa?"


"Kamu yang memintanya Sabinna. Jangan marah kepadaku nantinya."


Kak Devon akhirnya membantu istrinya menghilangkan efek dari obat itu, karena jika tidak disalurkan, hal ini akan bisa berbahaya untuk Sabinna. Kak Devon tanpa sungkan lagi melepas baju yang di kenakan Sabinna. Mereka berpindah ke kursi belakang agar lebih leluasa.


Malam pertama untuk mereka pun akhirnya terlaksana. Ada kebahagiaan di wajah Kak Devon, entah dengan Sabinna, ditunggu besok pagi saja dia mengamuk apa tidak setelah segelnya telah dibuka oleh suaminya.


Malam itu Kak Devon tidak melewatkan kesempatan yang sangat dia tunggu-tunggu, dia tidak peduli jika esoknya Binna akan marah kepadanya, yang dia pikirkan adalah menyelamatkan istrinya, dan semoga setelah ini rumah tangganya akan menjadi jauh lebih baik.


"Aku mencintaimu, Sabinna," ucapanya setelah beberapa kali dia, menaburkan benih pada rahim Sabinna. "Aku akan tetap mencari siapa pria yang sudah melakukan ini. Walaupun apa yang dilakukan akhirnya membuat kita bisa bersatu, tapi caranya sangat aku benci. Aku akan menemukan pria berengsek itu."


Devon menutupi tubuh istrinya dengan suit yang dia pakai, kemudian dia duduk di kursi kemudi setelah dia memakai celana panjang dan kemejanya. Devon tampak kelelahan dan tidak sengaja dia ketiduran di sana menyusul Sabinna yang dari tadi sudah terlelap.

__ADS_1


Keesokan harinya, Sabinna yang terbangun tampak kaget melihat dia berada di dalam mobil. Binna yang ingin bangkit merasakan nyeri dan kebas pada bagian intinya. Kedua matanya membulat melihat bajunya berserahkan di bawa kursi dan tubuhnya yang polos hanya di tutupi dengan suit seseoranga.


"Apa yang terjadi?" Binnna tampak bingung, dia dengan cepat mengambil bajunya dang menggunakannya dengan cepat. Binna melihat ada seseorang tertidur di kursi kemudi, Binna melihat siapa orang yang tidur di depannya.


"Kak Devon! Kenapa Kak Devon ada di sini? Dan ini, kan--. Ini mobil miliknya. Apa yang sudah terjadi anatara aku dengan Kak Devon?"


Binna menggoyang-goyangkan tubuh suaminya sampai Kak Devon akhirnya membuka kedua matanya."Binna, kamu sudah bangun?"


"Kak Devon, apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa aku bisa di dalam mobil Kakak dengan bajuku yang berserahkan?" tanya Binna bingung.


"KIta pulang dulu, ya,  nanti aku jelaskan semua di rumah kita."


"Tidak mau! Jelaskan sekarang?" tanya Binna dengan nada agak marah.


"Sebentar lagi di sini akan banyak orang berdatangan atau lewat, aku tidak mau mereka melihat kamu seperti itu, kita pulang saja dan akan aku jelaskan semuanya."


Binna duduk di belakang dengan lemas, sepertinya dia mulai sadar jika dia dan suaminya itu sudah terjadi sesuatu yang dia tidak harapkan. Kak Devon menjalankan mobilnya dan sekitar 15 menit mereka sampai di parkiran apartemen milik Kak Devon.


Kak Devon membukakan pintu dan menyuruh Binna keluar, tapi saat mau beranjak keluar, Binna lagi-lagi merasakan nyeri pada bagian intinya. dia meringis kesakitan. "Aku akan menggendong kamu, kamu kenakan suit milikku agar tidak terlihat bagian atas kamu karena kamun tidak memakai dalaman Binna."


Binna segera memakai suit milik suaminya dan Kak Devon menggendong istrinya ala bridal style. Mereka berdua masuk ke dalam aparatemen, dan Kak Devon langsung membawanya menuju kamar mereka. BInna diletakkan di atas ranjang, dan Kak Devon segera melepaskan kemeja yang dia pakai karena sudah tidak nyaman.


"Kak Devon bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Binna penasaran.


Kak Devon mengambilkan Binna segelas air dan menyuruhnya minum agar lebih tenang. "Minum dulu" Binna menghabiskan airnya dan kembali melihat ke arah suaminya. Kak Devon duduk di atas ranjang, tepat di depan istrinya. Dia menatap wajah Binna lekat.

__ADS_1


__ADS_2