Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Ancaman Lagi


__ADS_3

Jam istirahat tiba, sesuai janji Binna dia akan mengantarkan Lukas ke tempat kesehatan.


Binna berjalan dengan Lukas berdua ke tempat kesehatan. Binna tampak memegangi lengan tangan Lukas yang satunya. Di dalam kelas Lila tampak bingung. Apa dia sebaiknya mengikuti Binna dan Lukas ke ruang kesehatan?


“Aduh!” Lila menabrak seseorang saat akan berlari keluar dari kelasnya.


“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap orang yang di tabrak Lila.


“Kamu, Kian? Ada apa kamu ke sini?”


“Aku mau mencari ruangan kelas ini, jadi ini kelas kamu, Lila?” Kian melihat bagian dalam kelas itu, memperhatikan sekelilingnya.


“Iya, memangnya kamu mau ke kelas ini? Kamu akan jadi anak baru di sini?”


“Kalau iya memangnya kenapa? Masih ada bangku, Kan?” celetuknya polos.


“Ahahahah! Malah di tanya masih ada bangku? Nanti kalau tidak ada bangku, aku ambilkan bangku milik dosen di sini, atau kamu duduk di depan papan tulis sana.”


Lila dan Kian yang asik mengobrol membuat Lila sampai lupa tujuannya untuk ke ruang kesehatan. Di ruang kesehatan Lukas tampak di periksa oleh dokter yang berada di sana. Luka yang dialami Lukas tidak terlalu parah dan hanya memar saja, dokter itu akan memberikan obat penghilang nyeri dan sebuah salep.


“Binna, kamu ngapain di sini dengan pria itu?” tanya Uno yang ternyata ada di ruang kesehatan karena tadi melihat Binna yang berdua bersama Lukas masuk ke ruang kesehatan.


“Kak Uno, aku tadi mengantar temanku ke sini karena pundaknya terlukas setelah menolongku.”


“Menolong kamu? Memangnya apa yang sudah terjadi sama kamu?” Uno duduk di samping Sabinna. “Kamu baik-baik saja, Kan?”


“Aku bisa baik begini karena Lukas menolongku saat pot bunga di atas hampir jatuh menimpaku, pot itu malah menimpa pundaknya Lukas.”


“Lukas? Apa ini Lukas teman SMA kamu dulu?” Binna mengangguk. “Dia kuliah di sini juga?”

__ADS_1


“Iya, dia anak baru di sini, Kak. Em ... Lukas, kamu istirahat saja sebentar di sini, aku mau berbicara sebentar dengan Kakakku.” Lukas mengangguk dan Binna keluar bersama dengan Uno ke kantin kampus.


“Lukas itu cowok yang kamu sukai waktu SMA itu, kan? Dan dia kuliah di sini? Apa jangan-jangan kamu dan dia diam-diam masih memiliki hubungan dan kalian selingkuh di belakang Devon?”


“Kakak ini,kenapa pikirannya seburuk itu sama adik sendiri? Aku itu tipe istri setia. Lagian kak Devon juga sudah aku kenalkan dengan Lukas, dan mereka berdua tidak ada masalah.”


“Bagus kalau begitu, tapi Binna kamu jujur sama kakak, apa kamu sudah tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Lukas?”


“Tidak ada, aku hanya mencintai Kak Devon suamiku. Awalnya aku kan memang hanya sebatas kagum dan senang dengan perlakukan Lukas yang lembut dan perhatian sekali denganku, tapi lama kelamaan saat kenal dengan kak Devon yang agak bar-bar dan seenaknya, aku jatuh cinta sama dia karena di balik sifatnya itu dia ternyata sangat romantis dan bisa membuat aku merasa nyaman dan bahagia saat di dekatnya.”


“Huft! Apa nanti aku akan seperti itu sama kak Zia?” Uno terlihat berpikir.


“Aku gak bisa mengatakan apa-apa kalau masalah itu, Kak. Bisa saja kalau Kak Uno keseringan dengan Kak Zia jadi jatuh cinta benaran. Aku tidak mengharapkan itu sih sebenarnya,” celetuk Binna.


“Kamu tau Binna, aku kemarin bertemu dengan Cerry dan dia menceritakan sesuatu sama aku tentang kak Zia.”


“Cerita apa?” tanya Binna penasaran.” Uno kemudian menceritkan tentang apa yang Cerry katakan waktu itu pada Binna, Binna tampak terkejut mendengar apa yang kakaknya katakan.


“Percaya,” jawab Binna cepat. “Jujur saja aku tidak percaya dengan kebaikan dan muka sok lembutnya kak Zia itu. Dia seperti menaruh rasa cinta sama Kak Uno dari dulu, makannya saat kejadian Kak yang tertusuk dia seperti marah dengan kak Diandra karena cemburu.”


“Aku tidak merasa apa-apa, sih! Aku memang hanya menganggap rasa sayang kak Zia sebatas kakak dengan adiknya.”


“Kak, kamu pernah melihat orang ini lagi tidak saat bersama Kak Zia?” Binna menunjukkan ponselnya pada Uno tentang ayah kandung Zia yang di bilang Zia adalah EO.


“Aku tidak pernah melihat dia bersama Zia. Memangnya kenapa?”


“Aku curiga dia bukan orang EO melainkan kaki tangan kak Zia dalam melakukan hal yang Kak Zia rencanakan. Malam di mana kamu dan Kak Zia terpergok di dalam kamar, dia ada di sana sebelumnya. Aku pernah melihat dia dan dia seolah takut saat aku mendekatinya. Aku jadi curiga jika dia tau semua tentang Kak Zia.”


“Dia takut melihat kamu?” Binna mengangguk. Uno memperhatikan foto dari orang itu, Uno juga tidak yakin dia orang EO dari penampilannya.

__ADS_1


Hari berlalu dengan cepat dan kurang 3 hari lagi keluarga Arana akan pergi ke Kanada untuk menghadiri pernikahan Tommy dan Mara.


Zia yang tampak senang sekali karena waktu memeriksakan kandungannya dan berkonsultasi dengan dokter, dokter mengatakan jika Zia boleh ikut pergi ke Kanada.


Pagi itu di rumahnya Zia sedang menyiapkan baju dan barang bawaan yang akan dia bawa ke Kanada, dia juga menyiapkan satu set baju bayi yang nanti akan dia buat untuk membuat Diandra sakit hati. Dasar rada ini ya si Zia.


Tidak lama dia mendengar suara bel pintu rumahnya di bunyikan oleh seseorang dari luar. “Siapa yang datang ke sini? Apa Uno kembali karena ada barangnya yang tertinggal?”


Zia segera turun dan menuju pintu, dia ingin tau siapa yang bertamu ke rumahnya. Saat pintu di buka, Zia tampak terkejut melihat ada seseorang yang berdiri di depan pintunya sambil tersenyum manis.


“Halo Zia,” sapanya.


“Cerry? Kamu kenapa bisa datang ke sini? Kamu tau dari mana rumah Uno?”


“Tau dari mana? Tentu saja aku tau dari Uno mantan kekasihku itu. Oh ya! Apa kamu tidak menyuruhku masuk ini? Sebagai tuan rumah yang baik itu harus menyuruh tamunya masuk.”


Ini tamu istimewah, belum disuruh masuk malah nyelonong duluan masuk ke dalam. Raut wajah Zia tampak terlihat sangat marah dan kesal. “Keluar kamu dari rumahku! Aku tidak sudi kamu menginjakkan kaki kamu ke dalam rumahku. Apa yang kamu cari di sini? Uno sudah menikah denganku dan kamu bukan siapa-siapanya lagi.”


“Aku memang bukan siapa-siapanya Uno lagi, tapi kamu sendiri juga mendapatkan Uno bukan karena Uno memang mencintai kamu, aku tau, kamu pasti menjebaknya seperti kamu membuat aku dan Uno putus waktu itu.” Cerry menatap tajam ke arah Zia.


“Apa maksud kamu?”


“Kamu benar-benar wanita iblis dan licik, tampang kamu saja yang sok baik dan lembut, tapi ternyata kamu serigala yang berbulu domba. Aku kasihan sekali dengan gadis buta yang di cintai oleh Uno itu. Dia pasti sangat menderita akibat ulah kamu.”


“Jaga mulut kamu! Sekarang keluar dari rumahku!” usir Zia ketus.


“Aku akan pergi, tapi aku ingin kamu tau jika aku sudah mengetahui siapa yang menjebakku waktu itu sehingga Uno memutuskan aku gara-agara videoku dengan pria yang sengaja kamu kirim itu.”


“Aku tidak tau maksud kamu.”

__ADS_1


“Jangan berpura-pura, pria itu mengatakan jika kamu pelakunya.”


Zia tersenyum dan mendekat ke arah Cerry. “Coba saja kamu katakan pada Uno tentang ini semua, aku pastikan kamu akan langsung pergi dari dunia ini.” Seketika Cerry merasa takut melihat sorot mata Zia.


__ADS_2