
Binna sampai di cafe, tempat dia janjian sama Lukas. Di sana keadaanya masih sepi. Binna di arahkan pada meja yang sudah disiapkan oleh Lukas, Binna menunggu Lukas yang belum datang.
"Selamat malam, Nona." Seorang pelayan wanita menyapa Sabinna.
"Oh iya, selamat malam, Kak."
"Ini ada surat untuk Nona." Pelayan itu memberikan secarik kertas kepada Binna.
Binna tampak bingung dengan surat yang diberikan oleh pelayan itu. Binna membukanya dan membaca tulisan yang ada pada kertas itu.
"Kamu cantik sekali, apa boleh aku berkenalan dengan gadis secantik kamu?"
Binna mengkerutkan kedua alisnya membaca tulisan itu. "Lukas ini apa-apan sih? Kenapa dia malah bilang mau kenalan sama aku? Dia itu aneh sekali?" Binna tersenyum.
Tidak lama Binna mengedarkan pandangannya dan mencari di mana Lukas. Lukas belum tampak di cafe itu. Tidak lama seorang pelayan datang lagi ke meja Sabinna. Dia memberikan surat lagi pada Binna.
"Senyum kamu sangat manis. Kamu bagai bidadari yang turun dari langit. Aku serius ingin berkenalan sama kamu"
"Lukas ini! Kenapa dia malah mengirimi aku surat-surat ini?"
Tidak lama ada seseorang yang menghampiri meja Sabinna. Dia berdiri tepat di depan Sabinna. "Hai! Apa boleh aku duduk di sini?"
Binna agak sedikit kaget melihat tiba-tiba ada seorang pria ada di depan Sabinna. "Maaf, kamu siapa?"
"Perkenalkan, namaku, Rio. Aku yang mengirim kamu surat-surat itu." Pria itu mengulurkan tangannya mengajak Sabinna berkenalan.
"Maaf, aku sedang menunggu temanku. Kita akan merayakan ulang tahunnya."
Pria itu belum di suruh duduk malah seenaknya duduk di sana. "Hanya teman, kan? Bukan cowok kamu? Jadi aku bisa berkenalan sama kamu?"
"Tidak bisa. Maaf, ya, kamu bisa pergi karena teman aku mau datang. Tolong."
"Kamu cantik, tapi kenapa angkuh sekali. Aku hanya ingin mengajak kamu berkenalan."
Tidak lama Lukas yang baru datang melihat ada Binna dan seorang cowok, dengan cepat Lukas menghampiri meja itu.
"Maaf, kamu siapa? Binna, apa kamu kenal orang ini?"
"Oh jadi kamu cowoknya?" Pria itu berdiri di depan Lukas. "Aku tadi hanya mau mengajal kenalan dia. Aku lihat dia di sini sendirian, jadi aku mau mengajak dia kenalan."
"Dia kekasihku." Lukas langsung mencengkeram baju pria itu dengan tatapan dinginnya.
__ADS_1
Binna mendelik dan langsung berdiri dari tempatnya. "Lukas, sudah! Jangan bertengkar di sini. Kita biarkan saja dia." Binna memegang tangan Lukas.
"Pergi kamu dari sini!" usirnya ketus.
Pria itu hanya melihat Lukas dengan tatapan yang tajam dan tersenyum meremehkan. "Pergi," ucap Lukas tegas.
Pria itu akhirnya memilih pergi dari sana. Binna dan Lukas kembali duduk. Wajah Lukas putih tampak merah karena menahan marah. Binna mencoba menenangkan Lukas.
"Kamu tidak apa-apa, kan, Binna?"
"Aku tidak apa-apa, kamu jangan marah lagi. Dia mungkin hanya orang iseng yang ingin menggangguku."
"Maaf, aku datang terlambat. Tadi pagi dokter di mana mamaku di rawat, lusa mamaku akan dipindahkan di rumah sakit di sini, dan aku harus ke rumah sakit yang menjadi tempat mamaku di rawat. Kamu tidak marah, kan?"
"Tidak apa-apa." Binna tersenyum.
Tidak lama ada seorang pelayan membawa makanan dan minuman untuk mereka, serta ada kue ulang tahun di sana. "Terima kasih, Kak," ucap Lukas.
"Sama-sama, selamat ulang tahun, Ya," ucap pelayan itu pada Lukas
Binna tersenyum. "Selamat ulang tahun ya, Lukas. Ini ada kado untuk kamu." Binna menyerahkan kado berbentuk kotak berukuran sedang.
"Buka saja, dan semoga kamu senang." Binna terlihat sangat bahagia.
Lukas membuka kado dari Sabinna. Ternyata dalamnya berisi sweter berwarna biru laut dan dari bahan rajutan. Lukas sangat menyukai memakai sweeter, di sekolahpun dia sering menutupi seragam sekolahnya dengan memakai sweeter.
"Ini bagus sekali, Binna. Apa kamu yang membuatnya?"
"Hihihi! Maaf, Lukas, aku tidak bisa membuatnya, aku tadi membelinya. Ada satu lagi hadiah buat kamu."
Lukas melihat ke dalam kotak kado itu, dan ternyata ada miniatur berbentuk sepeda vespa. Lukas juga sangat menyukainya. "Binna, banyak sekali hadiah pemberian kamu."
"Tidak apa-apa, aku ingin memberikan kado yang terindah buat kamu."
"Binna." Tangan Lukas tiba-tiba memegang tangan Binna. "Kado terindah yang aku inginkan adalah kamu mau menjadi kekasihku, Binna."
Deg ...
Binna kembali terkejut mendengar apa yang di ungkapkan oleh Lukas. "Apa kamu mau menjadi kekasihku? Aku mencintai kamu, Binna."
"Lukas, a-aku--?" Binna bingung. Apa hari ini dia mengatakan pada Lukas jika dia sudah menikah? Tapi ini hari ulang tahunnya, dia bisa membuat Lukas kecewa dan sedih.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk menjawabnya. Apa kamu mau berdansa sama aku?" Lukas berdiri dan mengajak Binna berdansa di dekat meja mereka."
Binna tampak benar-benar canggung dan agak bingung. Binna melihat wajah Lukas dengan agak gugup. "Kamu cantik sekali malam ini, Binna," pujinya.
Binna mencoba memberikan senyumannya pada Lukas. "Terima kasih, Lukas."
Lukas mendekatkan wajahnya, agak menunduk, Lukas sepertinya ingin menciuma Binna. Bibir Lukas hampir mengenai bibir Binna.
"Lukas." Binna mencoba menghindar. Binna membuang mukanya. "Kita makan dulu sebelum makanannya menjadi dingin."
Binna melepaskan tangan Lukas dan dia duduk di meja mereka. Lukas tersenyum dan dia duduk di depan Sabinna.
Sabinna segera menghabiskan minumannya dengan sekali teguk. Binna mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Kamu kenapa, Binna?"
"Aku tidak apa-apa, Lukas."
"Maaf, Ya. Apa yang aku lakukan tadi keterlaluan?"
Binna menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, hanya saja aku belum siap, Lukas."
"Tidak apa-apa. Aku yang harusnya menyadari semua ini."
"Lukas aku mau ke belakang dulu." Binna membawa tasnya dan dia izin ke toilet sebentar.
Di toilet Binna menatap dirinya di depan cermin besar yang ada di wastafel. "Aku harus menenangkan diriku. Aku tidak boleh memikirkan ucapan Lukas, aku harus ingat kalau aku sudah menikah. Bagaimanapun aku istri Kak Devon, walaupun dia menyakitiku."
Binna mencoba menarik napasnya panjang dan kemudian dia mencari tasnya mau keluar.
"Ini kenapa?" Binna seketika kepalanya pening, dan tubuhnya agak panas. Binna berjalan perlahan keluar dari dalam toilet.
Binna bersandar sebentar pada tembok. "Halo, cantik." Tiba-tiba ada suara dekat dengan Sabinna, Sabinna agak samar melihat siapa yang ada di depannya.
"Kamu siapa?"
"Aku pria yang ingin dekat dengan kamu tadi, tapi kamu angkuh sekali. Apa tubuh kamu terasa panas?"
Pria itu kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Sabinna. "Apa kamu ingin belaian seseorang?" Pria itu kemudian merangkulkan tangan Sabinna dan dia berjalan keluar dari cafe itu lewat pintu belakang, dan ada seseorang yang membantu menunjukkan jalannya. Binna tidak dapat melihat orang yang membantunya,
"Terima kasih uangnya," ucap wanita yang menerima uang dari pria itu.
__ADS_1