
Di dalam kamarnya, Zia sedang mendapat telepon dari seseorang. "Bagus kalau begitu, nanti aku juga ada tugas lagi sama kamu?"
Zia menutup panggilannya. "Pasti hari ini mereka akan mengawali pagi dengan suatu keributan." Zia tersenyum licik.
Zia turun ke lantai bawah dan dia ikut bergabung makan pagi dengan yang lainnya. "Selamat pagi semua." Zia tampak sangat bahagia.
"Selamat pagi, Zia. Ayo makan pagi, setelah ini kamu mau berangkat ke kampus di antar supir saja, Ya? Soalnya ayah kamu dan paman Tommy ada meeting penting, jadi tidak bisa mampir ke kampus kamu."
"Aku nanti mau dijemput sama Dion, dan nanti aku juga akan pulang dengan Dion."
"Ya sudah, kalau begitu tidak apa-apa."
"Zia, apa hubungan kamu serius dengan Dion?" tanya Juna.
"Kita masih jalan berdua saja, Yah. Dion pria yang baik dan pintar, dia malah banyak mengajariku banyak hal."
"Kalau kamu serius sama dia, dan dia juga serius sama kamu, kamu bisa mengenalkan dia sama ayah dan ibu secara lebih formal."
"Ayah ini, aku masih belum ada pembicaraan serius sama dia. Lagian kita baru saja kenal."
__ADS_1
"Ya sudah, tetap jaga diri kamu ya, Zia? Sayang, apa nanti perlu aku ke rumah sakit untuk menjemput kamu dan Uno? Hari ini Uno pulang, Kan?"
"Tidak perlu, aku dan Diandra bisa menanganinya. Lagian keadaan anak jagoan kamu itu sudah sangat baik."
Zia meremas serebet makan yang ada di depannya sambil menatap Diandra. 'Sebentar lagi gadis buta, sebentar lagi aku akan menghancurkan senyum di wajah kamu, bahkan kamu tidak akan bisa tersenyum lagi.'
"Sayang, aku akan berangkat dulu dengan Tommy." Juna mengecup Arana. Dia berangkat dengan Tommy.
"Sayang, ayah berangkat dulu, oh ya! Nanti malam ayah mau mengajak kamu ke sebuah restoran."
"Ada acara apa, Yah?
"Iya, aku mau, Yah." Diandra tersenyum dan Tommy mengecup pucuk kepala putrinya.
Mereka berdua berangkat ke kantor Tuan Jason. Di kantor Tuan Jason ternyata di sana sudah ada Fabio yang dari tadi menunggu Juna datang.
"Fabio, kamu di sini?"
"Iya, Juna, aku menunggu kamu. Ini ada beberapa berkas yang perlu tanda tangan kamu." Fabio menyerahkan berkas yang di tangannya.
__ADS_1
Juna membaca berkas yang di berikan oleh Fabio. Kemudian dia menanda tanganinya. "Kerja sama ini akan sangat menguntungkan perusahaan kita berdua, Juna."
"Iya, kerja sama ini akan berjalan dengan baik." Tommy duduk dengan Juna. Sedangkan Fabio duduk di tempatnya dengan di dampingi seorang sekretaris.
"Juna, apa kamu yakin bekerja sama dengan Fabio?" bisik Tommy.
"Iya, Tom. Dia tidak akan bisa membohongiku, jika dia melakukannya, aku akan buat dia benar-benar akan meninggalkan perusahaannya."
"Semoga saja."
Rapat akhirnya di mulai. Semua para CEO yang bekerja sama dalam proyek itu berkumpul untuk membiacarakan langkah selanjutnya. Fabio tampak memperhatikan dengan baik renacana yang di jelaskan oleh sekretaris Fabio, dan semua menyetujuinya.
Arana berada di rumah sakit bersama dengan Diandra. Arana pergi sebentar ke ruang administrasi untuk menyelesaikan masalah adiministrasi Uno.
"Uno, Kak Zia sepertinya mulai dekat dengan Kak Dion." Diandra sedang bercerita dengan Uno.
"Benarkah? Bagus kalau begitu, Kak Dion orang yang baik, dan aku yakin Kak Zia akan bahagia dengan Kak Dion." Uno memainkan jemari Diandra.
"Aku juga senang melihat Kak Zia tampak bahagia dengan Kak Dion. Semoga mereka segera bisa bersatu."
__ADS_1