
Devon beranjak dari atas tubuh Sabinna. Sabinna menangis di atas tempat tidur, Binna merasa maalam ini benar-benar di buat ketakutan setengan mati oleh suaminya.
"Aku akan tidur di sofa, di lantai bawah. Aku bukan manusia yang tidak punya perasaan Binna, itu tadi aku hanya ingin memberitahu kamu kalau aku ini adalah suami kamu, dan aku sangat cemburu jika ada seseorang yang mendekati kamu walaupun itu hanya teman kamu."
"Dasar egois!" teriak Binna kesal dengan memegang erat selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Namun, suaminya itu tidak memperdulikan malah keluar dari dalam kamar mereka.
Binna beranjak dari tempatnya, dia dengan cepat mengunci pintu kamarnya dan berjalan menuju lemari bajunya. Binna mengambil baju tidurnya, dia tidak mungkin tidur dengan memakai baju yang sudah disobek seenaknya oleh suaminya tadi.
"Aku semakin membenci kamu, Kak Devon si bar-bar," umpatnya kesal. Saat membuka bajunya dia melihat ada beberapa tanda merah pada lehernya. Binna mencoba mengusap-usap tanda merah itu, berharap tanda itu bisa hilang dari tubuhnya. "Kenapa dia sangat kasar seperti ini? Kenapa dia tidak bisa lembut seperti Lukas." Binna berdialog di depan cerminya.
Tidak lama ponsel Sabinna berdering dan dia melihat ada nama Lila di ponselnya. "halo, Binna."
"Iya, ada apa, Lila?" suara Binna tampak malas.
"Kamu kenapa? Apa kamu bertengkar lagi dengan suami kamu? Apa dia tau kamu tadi bertemu dengan Lukas?" cerocos LIla di telepon.
"Dia tidak tau aku bertemu Lukas, yang dia tau aku mendapat kue dari seseorang dan dia membaca note permintaan maaf yang Lukas tulis di sana, aku bilang saja dari temanku cowok karena dia pernah berbuat salah sama aku."
"Lalu dia marah sama kamu atau apa? Kamu tadi sudah membeli baju-baju yang sexy, lalu apa tidak kamu pakai, coba kamu pakai, pasti Kak Devon tidak akan marah," celetuk Lila malah ngasal.
"Justru karena aku memakai baju yang tadi aku beli, sekarang dia merobeknya dengan seenaknya, dia benar-benar suami bar-bar, aku kesal sama dia. Hanya karena aku di beri kue sama cowok saja, dia sudah berbuat yang kasar sama aku."
"Berbuat kasar? Memangnya dia ngapain kamu? Apa kak Devon memukul kamu?"
"Lebih dari itu," jawab Binna singkat.
"Hah? Lebih dari itu? Dia menyiksa kamu? Kamu kamu diikat terus di cambuk begitu sama kak Devon?" Ini temannya malah ngasal tidak karuan.
"Bukan seperti itu, Lila! kamu kebanyakan lihat film penyiksaan ya? Aku di bawah sama kak Devon ke dalam kamar dan dia memaksakan kehendaknya sama aku," suara Binna terdengar lirih sekarang."
__ADS_1
"Maksud kamu dengan memaksakan kehendaknya itu bagaimana?": Di tempatnya Lila sedang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Dia hampir meminta haknya sebagai suami padaku, tapi dengan pemaksaan dan kasar."
"Jadi suami kamu akhirnya bisa membuka segel kamu? Kamu dan dia sudah begituan?" suara Lila tampak ingin tertawa geli.
"Aku masih tersegel, Lila, dia ternyata hanya ingin membuatku ketakukan agar aku ingat jika dia adalah suami aku dan dia tidak suka aku di dekati oleh siapa saja, terutama cowok. Dasar suami egois. dia saja yang sudah melakukan apa saja dengan Karla seolah tidak merasa bersalah, dia kan yang memulai duluan."
"Kamu itu harus menurut sama suami. Lagian kamu sih! Kenapa tidak kamu kasih saja itu yang seharusnya dia dapatkan? Itu kan sudah tugas kamu. Coba kamu dan kak Devon berbulan madu, pasti kehidupan rumah tangga kalian akan baik-baik saja."
"Tidak mau, aku masih kesal, dan sekarang aku kesal sama kamu. Kamu itu sahabatku, tapi seolah-olah kamu itu kaki tanganya kak Devon, belain dia mulu. Sudah! aku mau tidur." Binna menutup panggilan teleponnya.
Keesokan harinya Binna masih belum bangun dari tidurnya. Devon yang sudah berada di depan pintu kamar Sabinna berusaha membuka pintunya, tapi tidak bisa karena di kunci dari dalam.
"Binna ...Binna, buka pintunya." Kak Devon mengetuk pintunya sambil memanggil nama Sabinna.
Binna yang masih terlelap tidak mendengar panggilan dari Kak Devon. "Apa dia masih tidur atau dia marah dan tidak mau membuka pintunya?"
Kak Devon berhasil membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam, dia melihat Sabinna yang masih tertidur dengan lelap di atas ranjangnya.
Kak Devon tidak mau membangunkan Sabinna, dia malah memilih masuk ke dalam kamar mandi.
"Hoam ...!" Binna samar-sama membuka kedua matanya, dia melihat jam yang ada di dinding tepat di depannya. "Hah! Jam sembilan pagi?" Binna mengucek-kucek kedua matanya.
"Aku belum membuat sarapan, bagaimanapun juga walaupun marah, aku tidak mau di kira istri yang malas." Binna beranjak dari tempat tidurnya. Namun, tidak lama ponselnya berdering, Sabinna melihat nama Lukas di sana. Sabinna agak kaget, dia celingukan melihat sekelilinya.
"Halo, Binna."
"Halo, Lukas," suara Binna tampak lirih.
__ADS_1
"Kenapa suara kamu tampak lirih begitu? Apa kamu sedang sakit?"
"A-aku tidak sakit, aku tidak enak jika ibuku mendengar kalau aku bicara sama kamu, kamu ada apa menghubungiku pagi-pagi begini?"
"Binna, aku mau bertemu sama kamu, aku mau kita makan ice cream kesukaan kamu di cafe dekat sekolah kita, apa kamu mau?"
"Apa? Kamu mau mengajakku makan ice cream?"
"Iya, aku mau mengajak kamu makan ice cream seperti dulu, aku juga kangen sama kamu."
Binna kembali duduk di atas ranjangnya. Binna terdiam dan berpikir sebentar, seketika bayangan masa lalu saat dia bersama dengan Lukas kembali teringat.
"Binna, kamu masih di situ?" tanya Lukas yang tidak mendengar jawaban Sabinna.
"Em! A-aku--?" Binna tampak bingung, tidak lama Binna mendengar suara knop pintu kamar mandi di buka seseorang dari belakang. Binna tertegun saat melihat suaminya baru keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya, dengan beberapa butir air yang menetes dari ujung-ujung rambutanya.
"Maaf, Ya, aku tidak bisa ikut latihan menari lagi, aku mau berhenti dulu. Sampai jumpa." Binna langsung menutup panggilannya dan langsung menghapus panggilan masuknya.
"Kamu sudah bangun, Binna? Siapa tadi yang menelepon kamu?"
"Orang dari tempat menariku, aku ingin berhenti sebentar latihan menari."
"Kenapa berhenti? Aku tidak melarang kamu?"
"Tidak apa-apa, memangnya aku tidak boleh beristirahat sejenak?"
"Terserah kamu, aku tidak pernah mengatur hobi yang kamu sukai itu."
Seketika Binna membuang mukanya saat Kak Devon tiba-tiba membuka seenaknya handuk yang dia pakai, dan santai memilih baju di dalam lemarinya.
__ADS_1
"Dasar mesum! Apa Kakak tidak bisa bersikap wajar sedikit?" ujar Binna kesal melihat ke arah jendela kamarnya.