Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Merasa Bersalah


__ADS_3

Arana melihat ke arah Sabinna yang tiba-tiba berdiri di depannya. "Kamu itu! Kakak kamu dan Diandra itu kan memang dari dulu berteman baik. Ya! Walaupun kadang mereka sering bertengkar apalagi kakak kamu, sering sekali membuat Diandra marah bahkan sampai menangis." Arana mengusap pelan rambut Sabinna.


"Iya, Sih! Kakak Uno itu memang usilnya kebangetan, tapi kalau mereka pacaran, bahkan menikah, kan, tidak apa-apa? Paman Tommy dan ayah kan bukan saudara kandung?"


Zia yang mendengar hal itu langsung melihat ke arah Sabinna dan ibunya. "Boleh sih, Sayang. Malahan hubungan paman kamu sama ayah kamu akan semakin baik."


"Tapi kasihan Uno, Bu," celetuk Zia cepat, dan mereka berdua melihat ke arah Zia.


"Kasihan kenapa, Kak?"


"Diandra itu buta, Binna. Kalau dia sama Uno, apa Uno akan selalu menuntunnya?" Zia memutar bola matanya jengah. "Uno seharusnya mendapat seseorang yang bisa membuat Uno tidak mendapat kesulitan. Kalau Uno dengan Diandra, yang ada kehidupan Uno tidak akan berjalan dengan baik, Uno harus mengurus Diandra terus."


"Tapi kakak Diandra itu meskipun buta, dia bisa mandiri." Binna seolah-olah tidak suka dengan apa yang dikatakan Zia.


"Anak kecil. Kamu kan tidak tau dengan kehidupan orang berumah tangga, orang berumah tangga dan sendiri itu beda. Dan Diandra itu tidak cocok sama Uno, lihat saja, baru sehari dia bersama Diandra, Uno sudah mengalami masalah."

__ADS_1


"Maksud kakak apa?"


"Uno mukannya lebam dan ada luka, aku tadi menanyakan dia kenapa, tapi dia bilang dia tidak apa-apa."


"Muka Uno lebam?" Seketika Arana tampak panik.


Uno yang turun dari anak tangga dengan tersenyum sendirian, dia mengingat di mana dia membaringkan tubuh Diandra di atas ranjang dan menyelimutinya, Uno juga sudah mencuri kesempatan untuk mengecup dahi Diandra. Uno yakin, kalau Diandra tau akan hal itu, dia pasti langsung membulatkan mata indahnya dan marah pada Uno.


"Uno, kata kakak kamu, wajah kamu terluka. Mana ibu lihat." Arana dengan cepat memeriksa wajah putra gantengnya itu.


"Iya, wajah kakak terluka, kakak habis bertengkar, Ya? Pasti gara-gara cewek, kakak merebut kekasih orang, Ya?" cerocos Binna.


"Ya ampun, Ibu! Kenapa malah mendengarkan celotehan anak kecil ini? Aku tidak mungkin merebut pacar seseorang, lagian tanpa aku rebut pun, pacaranya pasti lebih memilih aku, tapi aku juga tidak akan menerimanya," ucapnya sombong.


"Lalu kenapa dengan muka kamu itu?"

__ADS_1


"Aku tadi mengajak Diandra jalan-jalan, dan saat aku meninggalkan Diandra sendirian untuk membeli minuman, ada beberapa orang mengganggunya, aku hajar mereka."


"Apa?! Tiba-tiba suara Tommy menyaut di sana. "Apa itu benar, Uno. Lalu keadaan Diandra bagaimana?" tanya Tommy cemas.


"Diandra tidak apa-apa, Paman, dia sekarang sedang tidur di kamarnya, tadi dia ketiduran di jalan dan aku membawanya ke kamarnya."


Tommy terdiam sejenak. "Lain kali jangan tinggalkan Diandra sendirian, Uno. Kamu tau, Kan? Diandra itu tidak bisa melihat, dan pasti dia tidak akan bisa melindungi dirinya jika ada orang yang ingin berbuat jahat sama dia."


"Iya, Paman, aku minta maaf, aku tadi hanya ingin mengajak Diandra jalan-jalan, tidak taunya akan ada kejadian itu."


"Paman tidak menyalahkan kamu, paman malah berterima kasih kamu sudah mengajak Diandra jalan-jalan."


"Aku janji, hal ini tidak akan terjadi lagi, Paman," ucap Uno tegas.


Tommy mengangguk perlahan. Dan dia izin untuk naik ke lantai atas ingin melihat Diandra. Arana memeluk putranya dan dia ingin mengobati luka putranya.

__ADS_1


"Biar aku saja yang mengobati luka Uno, Bu." Zia menggandeng tangan Uno dan mengajaknya ke kamarnya.


Arana hanya bisa terdiam melihat sikap Zia pada Uno.


__ADS_2