Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Ada apa dengan semua ini?


__ADS_3

Diandra bingung mau menjelaskan apa pada ayahnya. "Aku juga tidak tau kenapa Uno tiba-tiba ada di sana. Dia mungkin kebetulan lewat sana dan melihatku."


"Iya, jujur saja ayah sangat salut dengan keberanian Uno melindungi kamu, di sudah seperti seseorang yang sangat mencintai kamu, dan dia ingin melindungi kamu."


Diandra menunjukkan senyum anehnya. "Yah, aku masuk dulu."


"Iya, kamu masuklah dulu, nanti ayah akan menjemput kamu." Tommy mengecup pucuk kepala Diandra.


Diandra berjalan dengan tongkatnya masuk ke dalam ruangannya. Tidak lama ponsel Tommy berdering. Tommy melihat ada panggilan dari salah satu orang suruhannya.


"Halo, Pak Tommy."


"Iya, apa ada informasi tentang orang yang sedang aku cari?"


"Pak, kami mendapat informasi jika para perampok itu sudah tewas."


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Dia di duga merampok seseorang yang ternyata orang itu bisa bela diri, dan malah mereka berdua yang jatuh meninggal."


"Oh Tuhan! Jadi kamu tidak dapat info apa-apa?"


"Iya, dua orang itu memang seorang penjahat. Jadi mungkin bukan suruhan seseorang."


"Lalu, apa kalian menemukan barang-barang yang dia curi dari putriku?"


"Kami tidak menemukan apa-apa, mungkin dia sudah menjualnya atau menggunakannya."


"Ya sudah kalau begitu."


Tommy menyudahi pembicaraannya dan dia segera ke kantor untuk menemui Juna kembali. Di kampusnya Zia yang duduk sendirian sambil menikmati jus mangga kesukaannya melihati kalung yang sangat dia inginkan ada di tangannya.


"Kalung ini akan lebih indah jika aku memakainya. Ini tidak akan pantas jika digunakan untuk si buta itu."


Zia tersenyum licik. Zia kemudian memasukkan kalung itu ke dalam tasnya, dia mengambil ponselnya dan dia membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Sudah selesai semuanya. Bukti semua sudah hilang" dari orang tak dikenal


"Bagus, kamu ambil uang kamu yang ada di tempat yang aku janjikan, dan mulai sekarang jangan menghubungiku lagi. Kita tidak pernah saling kenal" Zia.


Zia kemudian mengeluarkan kartu telepon miliknya, dan dia mengganti dengan kartu baru.


"Hai, Zia!" tiba-tiba ada suara Dion di belakangnya.

__ADS_1


"Dion, kamu kagetin saja." Zia segera menata kembali ponselnya, dan mematahkan kartu telepon miliknya.


"Memangnya kenapa dengan kartu telepon kamu? Kenapa kamu buang? Kamu ganti nomor?"


"Tidak, nomorku masih sama, itu nomor lama aku yang kapan hari ketemu, aku tadi coba ternyata sudah tidak aktif, di sana ada beberapa kontak telepon teman-temanku sewaktu SD. Aku niatnya mau menyimpannya."


"Oh begitu, aku kira kamu ganti nomor. Kalau kamu ganti nomor aku nanti bingung mencari kamu."


"Kamu, kan, bisa mencariku di sini. Oh ya! Apa kamu mau makan siang dengaku? Aku lapar," ucapnya manja.


"Tentu saja, setelah makan siang kita akan ke rumah sakit, aku mau menjenguk Uno."


Ini Zia habis kejedot kayaknya. Masak dia bersikap manja sama Dion? Atau dia punya rencana baru lagi, tapi kenapa sama Dion?


Dion mengajak Zia makan di sebuah restoran. Zia tampak berbeda kali ini, dia banyak bercerita dengan Dion.


"Zia, bagaimana dengan skripsi kamu?"


"Sudah beres dan semua ini berkat kamu. Sebentar lagi aku akan lulus. Aku senang sekali."


"Zia, setelah lulus apa yang ingin kamu lakukan?"


"Em ... aku belum memikirkannya, sebenarnya aku mau melanjutkan kuliah S2, tapi aku juga ingin bekerja di perusahaan ayahku nantinya."


"Menikah?" Zia berpikir sebentar. Dia ingin menikah, tapi dengan Uno, dengan pria yang sangat dia cintai. "Tentu saja aku ingin menikah, siapa yang tidak ingin membina suatu rumah tangga?"


"Iya, aku juga ingin menikah suatu hari ini, bisa menikah dengan gadis yang aku cintai." Dion menatap Zia lekat.


Zia tersenyum pada Dion. Mereka akhirnya melanjutkan makan siang mereka dan kemudian mereka pergi ke rumah sakit untuk menemui Uno.


Di rumah sakit. Uno yang sedang bosan, dia mengambil ponselnya dan sedang memandangi foto Diandra. Arana sedang berbicara dengan Juna di luar kamar Uno. Arana di beritahu oleh Juna tentang perampok yang sedang dia cari.


Arana mengatakan jika Juna tidak perlu memperpanjang masalah ini, para perampok itu sudah mendapatkan balasannya.


"Halo, Ibu," Zia mengecup pipi Arana dan Dion mengecup punggung tangan Arana.


"Juna, nanti kita bicara lagi, di sini ada Zia dan Dion." Arana mengakhiri panggilannya.


"Bu, Ibu sedang bicara dengan ayah? Apa ada hal yang penting?"


"Bukan masalah yang penting. Kamu tumben ke sini dengan Dion?"


"Tante, maaf aku baru ke sini, aku baru bisa menjenguk Uno. Bagaimana keadaan Uno?"

__ADS_1


"Dia sudah baikkan, dan lusa dia sudah boleh pulang. Kalian masuklah." Arana mengajak mereka berdua masuk ke dalam dan menemui Uno.


Uno yang melihat ke datangan Zia dan Dion segera menekan ponselnya keluar dari galeri teleponnya. "Kak Zia, Kak Dion, kalian tumben datang berdua?"


"Dion itu beberapa hari membantu aku menyelesaikan skripsiku, dan dia ke sini ingin menjenguk kamu."


"Kalian kencan, ya?" goda Uno.


"Tidak, kita cuma saling membantu saja." Zia tampak malu.


"Iya, kita hanya jalan biasa saja, tapi aku kapan-kapan juga mau mengajak kakak kamu berkencan. Boleh, kan, Tante Arana?"


"Oh boleh! Tentu saja boleh, tapi izin ke rumah dulu ya nanti."


"Siap Tante."


Ini Arana tampak aneh melihat Zia. Kenapa dia tiba-tiba seperti menyukai Dion, padahal sebelumnya dia melihat Zia sangat tidak ada respon pada Dion. Apa Zia mulai menyukai Dion?


Malam hari di apartemen Binna, dia sedang duduk di meja makan dengan Lila, dan banyak hidangan makan malam di atas meja. Binna sedang menunggu suaminya.


"Kak Devon, mana sih? Kenapa dia belum datang? Katanya dia nanti tidak akan pulang malam."


"Coba hubungi ponselnya siapa tau dia hari ini masih sibuk di kantornya."


Binna menghubungi ponsel Kak Devon, tapi tidak di angkat. "Tidak di angkat, Lil."


"Coba telepon kantornya."


Binna mencoba telepon kantornya, tapi tidak di angkat juga. "Kak Devon ini mana?" Binna tampak kesal.


"Kita tunggu saja, aku akan menemani kamu sampai suami kamu datang."


Tidak lama ponsel Binna berdering dan itu dari suaminya. "Halo, Kak. Kak Devon ke mana? Kenapa belum pulang, aku sudah membuatkan makan malam buat Kakak."


"Kamu kalau lapar makan dulu saja sendiri, ada Lila kan di sana. Kamu makan saja dengan Lila."


"Kak Devon ini kenapa?"


"Aku baik-baik saja. Sudah dulu ya, Binna." Kak Devon mematikan panggilannya. Wajah Binna tampak aneh, dia melihat ke arah Lila.


"Kenapa, Binna? Apa yang suami kamu katakan?"


Binna terdiam memikirkan ada apa dengan suaminya ini. Kenapa dia tiba-tiba seperti marah dengan Binna?

__ADS_1


Haduh! Ribut lagi ini kayaknya.


__ADS_2