
"Kalau begitu, aku saja yang mengantar Binna dan Diandra nanti ke tempat dia mengajar," ujar Uno.
Zia yang mendengar hal itu langsung mengkerutkan kedua alisnya. "Uno, bukannya kamu bilang mau mengantar jemput kakak nanti di kampus?"
"Memangnya kamu tidak kuliah, Jagoan?" tanya Tommy.
"Aku libur selama tiga hari, Paman. Makannya aku bingung di rumah mau ngapain libur selama tiga hari?"
"Kamu ke perusahaan bersama ayah saja, Nak. Ini kesempatan kamu untuk belajar dunia bisnis."
Uno memutar bola matannya jengah. "Yah, ayah tau, Kan? Kalau aku tidak tertarik dunia bisnis, aku lebih suka dengan otomitif."
"Kalau kamu tidak tertarik dunia bisnis, lalu kelak siapa yang akan meneruskan bisnis ayah kalau ayah sudah tua?"
"Ayah tidak akan tua. Ayah akan selalu muda dan gagah. Sudahlah, aku mau mengantarkan kedua bidadari ini pergi, nanti mereka telat." Uno beranjak dari tempatnya.
"Kok hanya dua? Aku tidak Kaka sebut?" celetuk Binna dengan muka kesalnya.
__ADS_1
"Kamu itu bukan bidadari, tapi peri penyihir."
"Enak saja!" Uno berlari keluar dan Binna mengejar kakaknya itu. Mereka mulai seperti anak kecil.
"Itulah Uno, Tom. Aku tidak tau, siapa besok yang meneruskan bisnis ini?"
"Menantu kamu, Juna. Bukannya kamu cerita tentang Binna yang akan menikah dengan anaknya Tia. Ya! Walaupun seharusnya putramu sendiri, tapi jangan memaksakan keingingan kamu jika tidak sesuai dengan keinginan dan bakat Uno." Tommy menepuk pundak sahabatnya itu.
Setelah mereka semua berpamitan dan Uno mengantar Zia, Binna, dan Diandra. Zia langsung mengambil duduk di sebelah Uno.
Uno mengantar Binna lebih dulu ke sekolahnnya karena jarak sekolah Binna searah dengan kampus. "Kak, nanti tidak perlu menjemputku, karena aku mau pulang dengan temanku Lila."
"Iya! Dasar cerewet!" Binna berpamitan juga pada kakaknya dan Diandra. Kemudian Uno mengantar Zia ke kampusnya.
"Uno, jangan lupa nanti siang kamu jemput kakak, Ya? Kamu kan tau kalau mobil kakak masih di bengkel."
"Iya, Kak."
__ADS_1
"Diandra, aku pergi dulu, semoga kamu sukses mengajar di hari pertama kamu, jangan membuat kesalahan, Diandra." Zia tersenyum miring.
"Terima kasih, Kak. Aku tidak akan membuat kesalahan." Zia keluar dari dalam mobil dan menuju ke dalam gedung kampusnya.
Uno terdiam melihat ke arah belakang di mana Diandra duduk dengan tenangnya. "Hei, Si mata Indah, apa kamu tidak bisa pindah duduk di depan?"
"Apa? Apa maksud kamu, Uno?"
"Maksudku, aku mau kamu duduk di sampingku, karena kita hanya berdua sekarang, aku tidak mau kamu duduk di belakang dan aku di depan. Memangnya aku supir kamu?"
Diandra terdiam sejenak. "Memangnya kenapa kalau aku duduk di belakang? Dari tadi kan aku duduk di belakang, lagian tidak akan ada yang mengira kamu supirku. Mana ada supir muda dan setampan kamu," celetuk Diandra.
"Apa? Kamu bilang aku tampan? Akhirnya, kamu mengakui juga kalau aku tampan." Uno tampak tersenyum senang.
"Maaf, aku salah bicara," ucap Diandra lirih. "Sudah, Uno, ayo kita berangkat, aku tidak mau telat di hari pertama aku mengajar."
Uno keluar dari dalam mobil dan membuka pintu belakang di mana Diandra duduk. "Kamu duduk di depan, atau aku yang menggendong kamu, dan memindahkan tempat duduk kamu?"
__ADS_1
Diandra kaget, dia tau Uno bisa berbuat nekat Siapa dulu ayahnya, Juna saja suka berbuat nekat. Mau tidak mau Diandra akhirnya berpindah tempat duduk.
Terlukis senyuman di bibir Askanno Hadju Atmaja.