Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Meyakinkan Uno


__ADS_3

Benar apa yang diperkirakan oleh Zia. Arana datang ke sana dan mencoba menenangkan Zia yang tampak menangis dan ada koper besar di atas tempat tidurnya.


"Zia, kamu mau ke mana?"


"Aku mau pergi dari rumah ini, Bu. Untuk apa aku di sini jika kalian tidak ada yang menginginkan aku karena kejadian yang bukan semuanya adalah salahku."


"Kamu tidak boleh ke mana-mana, ayah kamu sudah memutuskan jika kamu akan menikah secepatnya dengan Uno dan nanti kalian akan menempati rumah pribadi milik ayah kamu."


"Aku tidak mau menikah dengan Uno. Aku tau Uno tidak ingin menikah denganku, aku paham kenapa dia bersikap begitu karena memang yang terjadi adalah hal yang benar-benar tidak pernah kita bayangkan." Zia pura-pura menangis kembali.


"Tapi Uno memang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sama kamu, Zia."


"Aku tau, Bu, tapi aku tidak ingin membuat Uno menderita karena hal ini. Dia hanya menganggap aku kakak, bagaimana bisa tiba-tiba dia harus menjadi suamiku."


"Kalau memang takdirnya kalian harus bersama sebagai suami istri, mau bagaimana lagi. Besok kita akan pergi ke butik untuk fitting baju pengantin untuk kalian berdua."


"Apa? Besok aku dan Uno akan fitting baju pengantin?" Tampak raut wajah Zia kaget, tapi dia juga sangat senang hanya saja dia mencoba menyembunyikan kebahagiaannya itu.


"Iya, kalian akan segera menikah."


"Bu, aku ingin pernikahan inu sederhana saja, hanya dihadiri pihak keluarga, aku tidak mau orang lain tau, pasti mereka akan kaget kenapa aku dan adikku sendiri menikah."


"Iya, kita akan mengikuti keinginan kamu. Sekarang kamu jangan sedih lagi karena semua akan kita selesaikan secepatnya."


Dalam hati Arana sebenarnya dia merasa gelisah, dia memikirkan perasaan Diandra dan Uno sendiri, tapi bagaimana lagi. Kejadian antara Uno dan Zia benar-benar hal yang mengejutaka, dan suaminya sudah mengambil keputusan yang sepertinya tidak ada yang bisa merubahnya.


Saat mereka berbicara, tiba-tiba Binna menyelonong masuk ke dalam kamar Kakaknya dan dibelakangnya ada Devon serta serta Juna, Uno yang mengikutinya.


"Kak, tolong jelaskan tentang pria ini yang juga masuk ke dalam kamar Kak Zia." Binna menunjukkan rekaman CCTV di hotel yang dia ambil tadi."

__ADS_1


Tampak seorang pria dengan tato yang kata Zia dia adalah salah satu anggota EO.


"Dia pria yang waktu itu aku jelaskan sama kamu, dia masuk ke dalam kamarku karena dia


ingin memberikan sepatu yang akan aku gunakan di acara pesta itu. Coba kamu lihat dia membawa goodie bag dan itu adalah sepatu untukku."


"Binna, ayah bilang sudah cukup. Minggu depan Uno akan menikah dengan Zia dan ini keputusan Ayah."


"Apa? Minggu depan aku akan menikah dengan Kak Zia?" tanya Uno tidak percaya.


"Iya, kamu akan menikah dengan kakak kamu. Kamu tidak mungkin akan lepas tanggung jawabkan, Uno? Kamu cucu dari Bisma Atmaja dan keluarga kita adalah keluarga yang memiliki etika yang baik."


"Ayah jangan lakukan itu. Apa ayah tidak kasihan dengan Kak Uno dan gadis yang Kak Uno cintai, bahkan mereka akan merencanakan pernikahan mereka juga."


"Apa kamu juga tidak kasihan dengan Kakak kamu Zia. Hidupnya sudah rusak karena kejadian waktu itu. Uno tidak akan menderita dengan menikahi Zia. Zia juga bukan orang yang tidak benar."


Binna melihat ke arah kakaknya yang tampak menahan air mata. Binna seumur-umur tidak pernah melihat kakaknya seperti itu. Binna memilih pergi dari sana. Pun dengan Kak Devon.


"Binna, apa kamu mau pulang saja?"


"Aku bingung, Kak. Aku tidak tega meninggalkan Kak Uno sendirian seperti ini." Binna menangis dan memeluk suaminya.


Uno yang berada di kamarnya sedang mencoba menghubungi Diandra. Namun, gadis cantik itu tidak mengangkat panggilan dari Uno. Diandra bukannya tidak mau, tapi dia ingin agar perlahan-lahan akan melupakan Uno. Dia merasa sangat menderita saat ini. Diandra juga tidak tau harus berbuat apa saat ini. Mendengar pernikahan Uno dan Kak Zia saja sungguh membuat hatinya remuk redam.


Terdengar suara ketukan dari luar kamar tidurnya, dia segera mematikan panggilannya. "Masuk," ucapnya lirih.


Zia ternyata menemui Uno di dalam kamar. Uno agak sedikit terkejut melihat Kakanya di sana.


"Uno, apa kita bisa bicara sebentar?"

__ADS_1


"Bisa, Kak. Ada apa?"


"Uno." Zia memegang tangan Uno dan Uno hanya melihat ke arah tangan kakaknya. "Kamu tau mungkin hal ini membuat kamu sedih dan bahkan mungkin kamu ingin membenciku. Kamu boleh melakukannya, aku juga waktu itu terselip pikiran untuk membenci kamu, tapi kembali aku memikirkan jika ini bukan semata-mata kesalahan kamu."


"Aku akan mencoba berbicara dengan ayah agar kita tidak perlu menikah. Kamu bisa menikah dengan gadis yang kamu cintai."


"Ayah tidak akan mendengarkan hal itu. Ayah tidak mau anaknya menjadi seorang yang tidak punya tanggung jawab."


"Kalau begitu kita terima saja pernikahan ini dan nanti selama enam bulan kita menikah, kita akan bilang jika kita akan berpisah. Apa kamu setuju?"


Uno agak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya. "Kakak mau mempermainkan suatu pernikahan? Kalau ayah dan ibu tau pasti mereka akan marah sama kita."


"Ayah dan Ibu tidak akan tau. Nanti kita akan buat seolah-olah pernikahan kita tidak bisa berjalan dengan baik. Jadi untuk apa dipertahankan jika tidak ada kecocokkan dan keharmonisan di dalam pernikahan kita."


"Aku tidak tau, Kak. Aku tidak bisa berpikir saat ini. Aku hanya ingin meminta maaf pada gadis yang aku cintai saat dia mendengar aku akan menikah, dia pasti sekarang sangat bersedih."


"Ya sudah, kamu ikuti saja cara kakak ini. Setelah kita berpisah, kamu bisa bersama gadis itu kalau dia mau menunggu kamu, sedangkan aku. Aku akan memulai hidupku mulai dari awal."


"Kakak masih mencintai dan memikirkan Kak Dion?"


"Tentu saja, bagaimanapun Dion adalah cinta pertama kakak. Kamu tau sendiri jika kakak selama ini tidak pernah memiliki hubungan dengan siapapun."


"Iya, sangat menyakitkan jika menjadi Kak Zia harus ditinggalkan seseorang yang sangat Kakak cintai karena harus di jodohkan dengan gadis pilihan orang tua dan Kakak harus menerima kejadian denganku."


"Ini perjalanan dan takdir hidup seseorang, Uno. Aku akan menerima saja ke mana hidup akan membawaku nantinya. Kamu jangan sedih lagi, aku juga tidak akan menuntut apa-apa sama kamu, kita akan hidup seperti halnya di sini."


"Apa akan bisa seperti itu?"


"Tentu saja, kita akan tetap seperti kakak dan adik." Zia memeluk Uno.

__ADS_1


__ADS_2