Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Pertemuan Dengan Lukas Lagi


__ADS_3

Sabinna tidak menoleh sedikitpun ke arah suaminya sampai suaminya itu selesai memakai bajunya, saat sudah selesai, Sabinna beranjak dan masuk ke dalam kamar mandinya, dia diam-diam membawa ponselnya.


"Binna, aku akan menunggu kamu di bawah, hari ini aku mau mengajak kamu untuk makan pagi di luar, cepat bersiap-siap." Kak Devon berkata dari luar, dan Binna hanya menjawabnya dengan berdehem.


Tidak lama Sabinna mengirim pesan pada Lukas, dia minta maaf karena dia tidak bisa menerima ajakan Lukas hari ini, dia sedang ada urusan dengan ibunya.


Selesai mengirim pesan, Binna segera mandi dan bersiap-siap. Binna keluar dari kamarnya membersihkan rambutnya, tidak lama dia mendengar ada suara bunyi ponsel.


"Ini bukan suara bunyi ponselku? Ini suara ponsel Kak Devon."


Binna melihat ponsel Kak Devon ada di atas laci. Dia mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata itu dari Karla.


"Untuk apa cewek ini menghubungi suamiku lagi?" Binna tampak kesal. "Halo."


"Halo, eh, kok kamu yang mengangkat? Mana Devon, aku kangen mau bicara sama dia?"


"Kangen? Kamu baik-baik saja? Apa kamu lupa kalau Kak Devon itu sudah menikah, dan dia adalah suamiku."


"Iya, aku tau, tapi apa salahnya jika aku ingin berbicara dengan Devon? Dia itu sahabat aku dari dulu, dan dia bilang walaupun dia sudah menikah, dia akan tetap menganggap aku sebagai sahabatnya."


"Sahabat itu ada batasnya, Kak, yang kakak lakukan dengan suamiku itu kelewatan batas."


"Kamu tidak perlu menasehati aku ya, Binna. Itu berlaku di negara kamu, di tempatku dan Devon tidak, bahkan aku yakin, aku cewek yang bisa membahagiakan Devon di atas ranjang."


"Maksud kakak apa?"

__ADS_1


"Aku yakin, kamu dan Devon belum melakukan apa-apa, kamu itu masih bocah, mau saja Devon menerima tawaran mamanya di jodohkan sama bocah manja seperti kamu." Di tempatnya Karla tersenyum miring, dia tau sifat Binna dari Zia. Binna itu jika disakiti seperti waktu pernikahan, dia akan lama marahnya, apalagi kemarin pas pernikahan Karla malah mencium Devon di atas ranjangnya, dan foto-foto itu.


"Kakak jangan bicara yang tidak-tidak, aku bukan gadis manja dan aku bisa melakukan lebih baik dari yang pernah kakak lakukan pada kak Devon!" seru Binna marah."


Devon yang melihat sedang membawa ponselnya dan marah-marah tampak sangat bingung.


"Binna, kamu bicara sama siapa?" tanya Kak Devon yang masuk ke kamar karena mencari ponselnya.


Binna menoleh dan melihat dengan tatapan marah sama Devon. "Aku sedang bicara sam kekasih Kak Devon!" Binna melemparkan ponselnya di atas kasur.


Devon dengan cepat mengambil ponselnya. "Halo, Karla."


"Devon, bagaimana kabar kamu, aku sangat merindukan kamu."


"Apa yang kamu katakan sama Binna? Karla, kalau kamu memang sahabat baikku, sebaiknya jangan berbicara di luar batas. Kita tidak pernah ada hubungan apa-apa, dan kamu jangan bicara yang tidak-tidak."


"Cukup, Karla! Jangan hubungi aku lagi, dan satu lagi. Aku yang memilih Sabinna untuk menjadi istriku, bukan karena perjodohan ini." Devon langsung mematikan ponselnya. Devon melihat ke arah Sabinna yang berdiri masih dengan handuknya menatap Kak Devon kesal.


"Jadi selain bersahabat, dia juga pernah menemani Kak Devon tidur? Persahabat kalian benar-benar di luar pikiranku yang polos dan terlalu kampungan mungkin kata kak Karla."


"Binna. Apa kita tidak bisa membahas terus masalah Karla, percayalah denganku, kita sudah menikah, dan kepercayaan antara suami istri yang penting dalam kehidupan rumah tangga." Devon menelungsupkan tangannya pada sela-sela leher Sabinna. Sabinna hanya menatapnya dengan kesal.


"Aku awalnya percaya sama Kakak, tapi semua yang aku lihat dan bukti itu, membuat aku tidak percaya dengan kakak." Binna mengambil bajunya di lemari dan mau masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.


"Binna tunggu. Katakan saja apa yang harus aku lakukan agar hubungan rumah tangga kita tidak seperti ini. Sangat tidak menyenangkan jika kita terus menerus seperti ini, Binna?" Kak Devon menahan tangan Sabinna.

__ADS_1


"Aku tidak tau, mungkin sebaiknya kita tidak dekat dan saling bicara dulu, sampai hatiku benar-benar tenang dan bisa percaya sama Kakak." Binna melepaskan tangan Kak Devon dan pergi dari sana.


Devon hanya bisa terdiam di tempatnya. Binna di dalam kamar mandi bersandar pada daun pintu. Di hatinya bertanya-tanya. Apa karena kak Devon pernah melakukan dengan kak Karla? Jadi semalam dia tidak memaksakan kehendaknya pada Binna? Kak Devon tidak bergairah dengan Binna?" Binna menggigitin kukunya dengan berpikir.


Bukannya Sabinna mengharapkan hal itu, dia jadi mikir begitu karena ucapan Karta tadi. Ini anak memang masih labil banget pikirannya. Aneh.


Binna sudah bersiap-siap, tapi dia turun dengan membawa tas menarinya, Binna ingin ke tempat latihan tarinya, dia ingin latihan menari di sana untuk menenangkan dirinya. Kak Devon setuju, asal dia yang mengantar. Mereka jadi makan pagi di cafe, sarapan pagi mereka tidak begitu baik karena mereka tidak saling berbicara, Kak Devon juga tidak mau mengeluarkan banyak kata-kata dia memilih diam saja. Setelah itu, kak Devon mengantar Sabinna ke tempat latihannya,


"Kamu kabari saja pulang jam berapa nanti biar aku jemput. Aku mau melihat kantorku sebentar, mulai lusa aku sudah mulai bekerja."


"Terserah," jawab Binna singkat dan masuk ke tempat latihan.


Kak Devon akhirnya mengalah, dia pergi dari sana meninggalkan Sabinna sendirian. Sabinna latihan dengan beberapa temannya. Mereka saling melepas rindu.


"Aku istirahat dulu." Binna duduk dengan napas naik turun. Dia mengelap keringatnya, dia merasa sedikit lebih baik hari ini.


"Binna, ini untuk kamu." Tiba-tiba ada seseorang menyodorkan sebotol minuman pada Sabinna. Sabinna melongo melihat sosok yang berdiri di depannya.


"Lukas? Kamu kok ada di sini?" Binna mengerjapkan matanya beberapa kali.


Cowok charming itu tersenyum pada Binna. Dia duduk di samping Sabinna. "Tadi aku ke sekolah sebentar untuk mengurus surat-suratku, dan aku melihat tempat tari ini, aku ingat kamu, dan saat aku masuk aku melihat kamu di sini."


"Em ... iya, tadi aku tidak jadi pergi sama ibuku, daripada aku di rumah tidak melakukan apa-apa, aku ke sini saja. Lagian aku sudah lama tidak ke sini."


"Minum dulu, Binna." Lukas membuka tutup botolnya dan memberikan pada Binna. "Tempat ini masih sama, kamu juga masih sama, kamu terlihat masih tetap seperti swan yang cantik yang sedang menari." Lukas terkekeh pelan melihat Binna.

__ADS_1


Air dan Api, satu keras dan bar-bara. Satunya kalem dan sangat lembut



__ADS_2