
Arana melihat ke arah Sabinna. "Binna, kenapa ibu merasa Diandra itu punya hubungan batin yang kuat dengan Uno, Ya? Ya! Semacam ada hubungan terikat dari mereka." Binna tampak bingung. Walaupun dia tau ada hubungan apa antara Uno dan Diandra, tapi bukan porsi dia untuk menjelaskannya, biar nanti kakaknya yang menjelaskan.
"Kak Diandra kan memang orang yang baik, Bu. Apalagi dari kemarin aku melihat kak Diandra sangat cemas melihat keadaan kak Uno."
"Iya, dia merasa bersalah karena dikiran lebih mempertahankan kalungnya di banding dengan memikirkan nyawa Uno. Zia bahkan sekarang bersikap berubah dengan Diandar."
"Berubah bagaimana?"
Arana duduk di samping Binna, mereka tidak lagi melihat Diandra yang sedang berbicara dengan Uno. "Kakak kamu Zia marah dengan Diandra, gara-gara melihat Uno seperti ini, kamu sendiri tau jika Zia sangat menyayangi Uno. Dia mengira semua ini kesalahan dari Diandra. Ibu sudah menjelaskan pada kakak kamu, tapi dia sepertinya masih belum bisa menerima penjelasan ibu, ibu biarkan saja, nanti lambat laun juga akan berubah."
"Kak Zia kan aneh, Bu. Dia, sama kak Uno, kayak pacarnya aja, terlalu berlebihan aku melihatnya."
"Itu tidak benar, Zia. Dia begitu karena terlalu menyayangi Uno."
Di dalam kamar rawat, Uno bertanya di mana kalung Diandra? Diandra mengatakan jika kalungnya berhasil di bawa oleh para perampok itu, Diandra tidak mau jika Uno memikirkan masalah kalung itu, dia tidak mau memikirkannya walaupun sebenarnya Diandra juga memikirkan kalung itu.
"Maaf, aku tidak menjaga kalung pemberian kamu, tapi bagiku sekarang adalah kesehatan kamu yang terpenting Uno, aku sangat senang mengetahui kamu baik-baik saja. Lainnya aku tidak mau memikirkannya."
"Diandra, nanti kalau aku sudah sembuh, aku akan membelikan lagi kalung yang lebih indah itu untuk kamu."
__ADS_1
"Aku tidak mau. Cukup kamu berada di sampingku saja itu sudah kebahagiaan buatku. Uno, waktu berkunjung sudah habis, aku mau keluar dulu. Kamu cepat pulih, ya?"
"Sayang, apa tidak ada kecupan buatku?" celetuk Uno.
"Uno, di luar ada ibu dan adik kamu, mereka dari tadi melihat kita di depan kaca itu, tadi saja aku mengecup dahi kamu dengan sedikit was-was. Entah apa yang aku harus jelaskan jika ibu Arana nanti bertanya?"
"Ya sudah, nanti saja jika aku sudah smebuh, aku akan menagihnya." Uno memberikan senyuman pada Diandra. Diandra keluar dari ruangan Uno dan kembali berkumpul bersama dengan Araana dan Sabinna.
Devon sudah sampai di depan kampus Zia, Zia mengucapkan terima kasih pada Devon. "Oh ya, Devon. Bagaimana hubungan pernikahan kamu dengan Sabinna?" tanya Zia.
"Maksud, Kakak?"
"Tidak ada yang serius, kita hanya salah paham saja waktu itu,dan semua sudah baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu? Kamu harus bersikap sabar dengan Sabinna, dia masih muda untuk menjalani rumah tangga seperti ini. Apalagi dia dulu memiliki orang yang sangat dia cinta. Dan perjodohan ini mungkin membuatnya terkejut dan terpaksa dia harus menerimanya." Zia mulai beraksi.
"Aku sudah tau masalah ini, Kak. Binna hanya dekat saja dengan cowok itu, dan aku yakin, aku bisa menjalani rumah tangga yang baik dengan Sabinna. Kak Zia tidak perlu khawatir.
Zia izin turun dan dia masuk ke dalam gedung kampusnya, dia berjalan dengan menyeringai devil. Devon berangkat ke kantornya untuk bekerja. Waktu berjalan dengan tidak terasa. Sore itu Devon menjemput Sabinna dan mengajak Sabinna pulang. Juna dan Tommy juga ada di sana.
__ADS_1
Di dalam mobil Binna memikirkan apa dia harus menerima ajakan Lukas, tapi tadi Lila mengatakan lebih baik Binna tidak menerima ajakan Lukas, dan sebaiknya dia mengatakan hal yang sebenarnya dengan Lukas. Lila takut jika kak Devon tau, Binna bisa mendapat masalah nantinya, tidak hanya dari kak Devon, bahkan dari kedua orang tuanya.
Binna mendapat telepon dari kakaknya Zia. "Ada apa, Kak?"
"Binna, tolong kamu lihat apa bros kakak terjatuh di dalam mobil suami kamu? Soalnya kakak baru sadar tadi bros yang kakak pakai tidak ada, di rumah tadi kakak cari tidak ada, apa terjatuh di sana?"
"Bros? Sebentar, Kak, aku carikan dulu." Binna menengok ke bawah jok kursinya, Binna melihat ada bros berbentuk bunga mawar merah dan mengambilnya, tidak hanya itu dia juga menemukan sesuatu yang lain di sana."
"Ada tidak, Binna?"
"Ada, Kak. Bros bunga mawar merah, dan ini parfum milik kakak juga ada di sini."
"Parfum? Kakak tidak pernah membawa parfum di dalam tas kakak, lagian parfum kakak cuma satu dan ada di kamar kakak."
Binna langsung melihat ke arah Kak Devon yang sedang fokus menyetir. "Jadi bukan milik kak Zia?"
"Bukan, mungkin milik suami kamu, Ya sudah! Kamu simpan saja bros milik kakak, nanti kalau kamu ke rumah kamu bawa bros milik kakak itu."
"Iya, kak." Binna masih terdiam di sana, dia memikirkan, kalau parfum ini tidak mungkin milik suaminya, ini parfum cewek, dan suaminya tidak memakai parfum ini."
__ADS_1
]