Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Dari Hati Ke Hati part 2


__ADS_3

"Kak Devon mau apa?"


"Katanya kamu mau aku bersikap lembut sama kamu, aku bisa." Tangan Kak Devon mengusap-usap lembut kepala Sabinna, Sabinna mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa mengelus-elus begitu? Memangnya aku anak kucing di elus-elus."


"Katanya disuruh bersikap lembut, sekarang lembut malah salah."


"Huft!" Binna menghela napasnya pelan.


Kak Devon menarik tangan Sabinna dan menyandarkan lagi Binna pada tubuhnya seperti posisi awal. Binna terdiam, dia menyukai sebenarnya hal itu. "Sudah kita begini dulu saja, kalau kamu mengantuk kamu tidur saja. Nanti kalau hujan sudah redah akan aku bangunkan."


"Aku tidak bisa tidur," ucap Binna cepat.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Lapar, Kak. Ini sudah malam, biasanya aku makan malam dengan keluarga aku."


"Tapi di dalam kulkas aku tidak ada bahan makanan, hanya ada minuman. Bagaimana? Kalau kita keluar pasti kehujanan."


"Bagaimana kalau kita pesan?"


"Jangan Binna, apartemenku ini jauh dari pusat kota, lagian hujan deras, kasihan nanti yang mengirim. Aku akan mencari sesuatu di dalam kulkas, siapa tau kita menemukan sesuatu yang bisa kamu makan. Semoga saja hujannya segera redah, nanti kita langsung mencari makan dan pulang."


"Aku punya coklat di dalam tas aku." Binna mengambil tasnya dan membukanya. Ada beberapa bungkus kue coklat kecil-kecil berwarna-warni. Maaf, ya, author gak boleh sebut merek.


"Kita makan ini saja, aku selalu sedia kue ini, tapi kalau ibuku tau pasti tidak boleh makan banyak-banyak kue ini, dan Kak Devon, jangan bilang sama mamaku."


Tidak terasa Sabinna tertidur pada dada bidang Kak Devon. Kak Devon yang mengetahui hal itu tampak bingung, kalau membangunkan Sabinna pasti kasihan. Tapi apa mereka akan menginap di sini? Ini juga sepertinya hujan belum ada tanda-tanda berhenti.


"Aku sebaiknya menghubungi tante Arana dan memberitahu, supaya tante Arana tidak khawatir."

__ADS_1


Kak Devon mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya Arana, kebetulan Arana sendiri yang menjawab, dan kak Devon menjelaskan jika mereka menginap di apartemen Kak Devon sampai hujan reda, dan sekarang Sabinna tertidur di sana.


"Ya sudah kalau begitu besok pagi-pagi saja kalian pulang. Devon, tolong jaga Sabinna baik-baik, Ya? Tante percaya sama kamu."


"Iya, tante, tante tenang saja." Mereka mengakhiri panggilannya.


Arana memberitahu Juna yang duduk di sebelahnya, si ayah tampan itu agak sedikit khawatir sebenarnya. "Arana, apa aku menjemput saja Sabinna ke sana? Dan membawa mereka pulang?"


"Aku sih percaya sebenarnya dengan Devon, Sayang, dia tidak akan macam-macam dengan Sabinna."


"Iya, aku tau, tapi di sana sedang hujan dan lampu mati, aku saja pernah hampir khilaf waktu itu jika mama tidak menelepon ponsel kamu waktu aku di rumah kamu pas lampu mati itu."


"Itu kan kamu, Tuan Vampire!" Arana memutar bola matanya jengah.


"Aku akan menjemput Sabinna saja, ayo apa kamu mau ikut. Kamu minta Devon mengirim lokasi apartemennya, bagaimanapun juga aku-- ayahnya tidak bisa membiarkan putriku di luaran dengan seseorang pria, walaupun dia calon suaminya."

__ADS_1


Si ayah tampan ini akhirnya memutuskan menjemput putrinya, karena dia memang sangat mengkhawatirkan Sabinna.


Benar juga sih ini sikap ayahnya, apalagi Sabinna kan masih polos dan unyu-unyu.


__ADS_2