Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Berdua Di Kamar Lagi


__ADS_3

Seorang bocah laki-laki sedang bercerita dengan kakak. dan kakaknya itu melihat wajah adiknya yang tampak bahagia.


"Kamu suka sama Diandra, Uno?" tanya gadis perempuan itu.


Dengan cepat kepala bocah laki-laki itu mengangguk. "Diandra meskipun tidak bisa melihat, tapi dia sangat baik, dan suka marah-marah, tapi aku suka sama dia, matanya sangat indah," ujarnya dengan suara lucunya.


Zia sedang mengingat hal yang dulu pernah Uno katakan kepadanya. "Apa Uno masih menyukai Diandra? Tapi itukan dulu, lama sekali, pasti hanya ucapan anak kecil yang hanya kagum saja, buktinya Uno sekarang malah banyak sekali memiliki pacar." Zia terdiam sejenak.


"Uno pasti hanya sedang mengoda Diandra saja, tidak mungkin juga Uno menyukai gadis buta itu, mana mungkin dia mau menurunkan seleranya dalam memilih seorang gadis." Zia menatap langit-langit kamarnya.


Tok ... Tok


Suara pintu kamar seseorang di ketuk. "Diandra, ada apa kamu ke kamarku malam-malam begini?" Tanya Uno di depan pintu dengan satu tangannya menyangga pada tepian pintu kamarnya.


"Ini, coklat kamu." Diandra memberikan paper bag hitam yang berisi coklat milik Uno. "Kamu kan bilang kalau aku harus memberikannya sendiri buat kamu. Punya Binna dan Kak Zia sudah aku berikan barusan, dan ini aku memberikan punya kamu."


"Punya kak Zia? Kamu naik ke lantai atas kamar kak Zia sendirian?" Mata Uno mendelik.

__ADS_1


Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tadi Binna yang mengantarku, sambil menunjukkan setiap ruangan, kemudian kita ke kambali ke kamar, dan Binna izin mau tidur. Aku teringat kalau punya kamu belum aku antar, makannya aku ke sini."


"Oh! Terima kasih kalau begitu."


"Ya sudah ambil coklat kamu." Diandra masih menjulurkan tangannya membawa coklat Uno.


Uno menoleh ke kanan dan ke kiri, dia melihat jika di luar sudah sepi, karena memang sudah malam. Tiba-tiba Uno menarik tangan Diandra masuk dan menutup pintu kamarnya. Diandra sangat terkejut, apalagi dirinya di sandarkan Uno pada daun pintu kamarnya, dan Diandra dapat merasakan aroma napas Uno yang dekat sekali dengannya.


Wakakak. Buah memang tidak jauh jatuh dari pohonnya, kek Juna ini Uno.


"U-Uno, kamu mau apa?" Tanya Diandra dengan suara bergetarnya.


"Jangan menghinaku Uno, kamu kan tau aku tidak bisa melihat." Diandra hendak mendorong Uno, tapi dengan cepat Uno memegang tangannya.


"Aku serius Diandra. Aku tidak pernah menghina tentang kebutaan kamu," ucap Uno tegas.


Diandra terdiam sejenak. "Uno, aku mau kembali ke kamarku, aku juga tidak mau kalau sampai ada yang melihat aku berada di dalam kamar kamu malam-malam begini, jangan membuatku mendapat masalah Uno."

__ADS_1


"Katakan dulu, apa kamu masih marah denganku?"


"Marah? Marah kenapa?"


"Kamu kan dari tadi marah denganku Diandra, apalagi tentang masalah salah kamar itu."


"A-aku sudah tidak marah, dan memaafkan kamu, sudah puas? Sekarang aku mau kembali ke kamar aku.


"Ya sudah kalau kamu sudah tidak marah denganku. Maaf, ya, jika aku membuat kamu kesal di hari pertama kamu datang ke rumahku," Kali ini ucapan Uno terdengar lembut dan tulus di telinga Diandra. Diandra mengangguk perlahan.


Saat Diandra akan keluar, Uno kembali menarik tangannya. "Diandra, ada yang mengetuk pintu kamar kamu," bisik Uno. Mereka berdua mendengarkan siapa yang mengetuk pintu kamar Diandra malam-malam begini.


"Ayah!" Seru Diandra pelan dengan mata mendelik. "Ayah pasti mencariku untuk mengucapkan selamat malam. Lalu bagaimana ini Uno?" Diandra tampak takut dan cemas.


Uno masih terdiam dan bingung. Apa yang harus mereka lakukan? Diandra juga takut kalau ayahnya tau dia malam-malam berada di dalam kamar Uno.


Maaf ya telat up nya, hpnya di sita sama anak. Hadeww!

__ADS_1


Ini siapa hayo ...! Yang jelas ini kembarannya Author. Wkakakak



__ADS_2