
Binna tampak kesal, padahal dia serius takut dan memikirkan hal itu terus. Binna ini hampir mirip Arana dulu pas mau nikah sama Juna. Dia takut malam pertamanya sama Juna.
"Sudahlah! Aku salah membahas hal ini sama Ibu dan Kak Diandra."
"Kenapa aku jadi ikut di salahkan? Aku kan memang tidak tau masalah itu. Kakak kan meskipun lama tinggal di luar negeri, tapi kakak tidak pernah melakukan pergaulan bebas. Ayahku sangat menentang hal itu, dan kakak juga belum menikah. Jadi kakak tidak tau harus bicara apa?"
"Kamu tenang saja, Sayang. Kamu kan juga sudah belajar hal seperti ini di sekolah. Nanti juga kamu tidak akan merasa takut, apalagi kamu melakukannya dengan suami kamu. Hati kamu akan lebih tenang."
"Tetap saja aku masih takut, dan banyak ketakutan lainnya."
"Ibu dulu begitu, tapi kamu lihat sekarang, ibu bisa menjalani semua." Binna masih dengan muka di tekuknya.
Tidak lama salah satu pelayan di sana memberitahu jika ada Mara di luar. Diandra tampak sangat senang. Arana menyuruh Mara untuk masuk.
"Arana, apa kabar?" Mara memeluk Arana.
"Mara, kamu juga apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu, kamu sibuk sekali, Ya?"
"Maaf, Arana. Aku akan mengadakan acara untuk peluncuran desain baju baruku, jadi aku sangat sibuk."
"Wow! Acara itu pasti akan sangat menakjubkan nantinya," puji Arana.
__ADS_1
"Semoga, Arana. Kamu tau? Aku sedikit takut dan benaran nervous. Ya walaupun aku sering mengadakan acara seperti itu, tapi entah kenapa kali ini aku tidak yakin dengan apa yang akan aku lakukan."
"Apa kamu sedang memikirkan suatu hal?"
"Em ... tidak ada Arana. Ya sudah! Aku mau mengajak Diandra ke rumah, mamaku sangat merindukan Diandra.
"Sebaiknya kita segera ke rumah nenek, aku juga sangat merindukan nenek. "
"Kalian pergi sekarang saja, supaya Diandra bisa lebih lama bersama dengan nenek dan tante kamu."
Mara mengajak Diandra pergi dari sana setelah berpamitan dengan Arana dan Binna. Sekarang tinggal Binna yang cemberut.
Saat mereka mau ke dapur. Tiba-tiba telepon di rumah berdering, Arana mengangkat teleponnya, dan telepon itu dari Devon. Arana memberikan telepon pada Binna.
"Halo, Kak, ada apa?"
"Maaf aku menelepon di sini karena tadi aku menghubungi ponsel kamu, tapi tidak kamu angkat."
"Tidak apa. Ponselku tadi aku letakkan di kamar. Memangnya ada apa, Kak?"
"Apa kamu sibuk hari ini?"
__ADS_1
"Aku tidak ada acara, aku kan libur sekolah, dan aku sedang belajar dengan ibuku. Memangnya ada apa?"
"Aku mau mengajak kamu pergi hari ini, tapi kalau sibuk membantu ibu kamu, ya sudah, lain kali saja."
"Mau mengajak pergi?" Binna terdiam sejenak. Arana yang mendengarnya tampak senang.
"Binna, bilang sama Devon kalau kamu mau, lagian lain kali saja kamu bisa belajar memasak sama ibu. Cepat bilang!"
Binna mengkerut melihat Arana. Kenapa ibunya malah yang semangat? Arana memaksa pelan agar Binna mau menerima ajakan Devon.
"Iya, Kak. Aku bisa pergi dengan kakak. Tapi kita mau ke mana?"
"Kamu bersiap-siap saja. Beberapa menit lagi. Aku akan menjemput kamu. Ya sudah! Bye, Binna." Devon menutup panggilannya.
Binna menoleh pada ibunya. "Ibu ini! Tadi aku si suruh belajar memasak, ini malah menyuruh menerima tawaran kak Devon?"
"Sudah pergi sana. Dari pada ibu harus melihat wajah kamu yang cemberut begitu. Sudah sana naik ke kamar kamu dan bersiap-siap."
Binna naik ke lantai atas. Dia masih berpikir, ke mana memangnya kak Devon mau mengajaknya kali ini.
Uda ikut aja, enak, kok. Wkakakal
__ADS_1