Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Bertemu Seseorang


__ADS_3

Binna sudah bersiap-siap dengan celana jeans berwarna hitam dan atasan kemeja bermotif bunga-bunga kecil berwarna hijau dan coklatnya.


"Begini saja, pasti menyusahkan kalau aku nanti memakai dress, apalagi naik motor. Kenapa Kak Devon itu suka sekali naik motor, aku itu kan tidak suka jika dia naik motor, selain anginnya kencang, aku juga tau kalau kak Devon sengaja supaya aku bisa memeluknya," umpatnya kesal.


Binna turun ke lantai bawah dan ternyata di bawah sudah ada pangeran bermotornya menunggu. Binna tampak agak kaget.


"Ini dia sudah siap, Binna, Devon akan mengajak kamu untuk melihat baju pengantin yang nanti akan kalian kenakan. Tante Tia yang menyuruh untuk mengajak kamu ke butik langgananya."


"Apa? Fitting baju pengantin maksudnya?" Kedua mata Binna membulat.


"Iya, nanti mamaku juga akan ke sana, tapi kita ke sana dulu karena mamaku harus ke tempat lain."


"Maafkan tante tidak bisa ikut, nanti, kan, ada orang datang untuk membuat rencana mendekorasi tamat yang akan kalian gunakan."


"Iya, Tante, tidak apa-apa."


"Tante percaya sama mama kamu." Arana tersenyum, "ya sudah, kalian segera ke sana, hati-hati di jalan. Sampaikan salam tante buat mama kamu nanti, ya Devon?"


Devon mengangguk dan dia mengajak Binna keluar dari dalam rumah. Di luar ternyata Devon tidak membawa motor, dia kali ini mengajak Binna naik mobilnya. "Tumben pakai mobil? Apa motor Kakak rusak?" Binna ini sebenarnya meledek.


"Motorku tidak rusak, aku sengaja membawa mobil karena aku tidak mau dikira mencari kesempatan mencuri pelukan kamu." Kak Devon membuka pintu untuk Binna.


Binna mengerutkan keningnya, dia bingung, kenapa kak Devon seolah tau apa yang tadi dia pikirkan. Di sepanjang perjalanan Binna melihat ke arah luar jendela. Devon pun serius menyetir mobilnya.


"Binna, apa kamu sudah berbicara dengan Lila? Lalu bagaimana hubungan pertemanan kamu sama Lila?"


"Kemarin aku sudah bicara sama Lila, dan hubungan kami baik-baik saja. Aku juga sudah menjelaskan semua pada Lila. Dan sepertinya dia nanti akan bicara pada kekasihnya."


"Semoga mereka putus, pria seperti Nico tidak pantas mendapatkan gadis sebaik Lila."

__ADS_1


Binna melihat ke arah kak Devon, "kenapa Kak Devon malah yang bersemangat supaya Lila putus?"


"Memangnya kamu masih berharap Lila dengan cowok brengsek yang sudah mempunyai kekasih malah menggoda gadis lain yang tak lain sahabat kekasihnya. Apalagi itu kamu calon istriku, aku tidak akan memaafkannya." Sekarang gantian kak Devon menatap tajam pada Binna. Binna mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.


"Memangnya Kak Devon cowok yang setia? Aku saja masih tidak yakin walaupun Kakak serius mau menikahiku."


Kak Devon menghentikan mobilnya, dan dia mendekat ke arah Sabinna. Dan sekali lagi Sabinna merasa takut jika Kak Devon sudah bersikap seperti itu.


"Lalu, kamu mau bukti apa? Apa yang yang harus aku lakukan supaya kamu percaya aku akan menjadi suami yang setia buat kamu?"


Binna juga bingung? Apa dia harus menyuruh Kak Devon terjun dari jurang? Wkakaka! Sadis.


"A-aku juga tidak tau? Apa kita pendekatan lebih dulu saja? Dari situ aku bisa melihat Kak Devon setia apa tidak." Modus ini Binna supaya pernikahan mereka di undur.


Seringai devil dikeluarkan oleh Kak Devon. "Jangan mencari alasan untuk mengulur pernikahan kita, setelah menikah kita bisa berpacaran bahkan pendekatan yang sangat dekat. Ayo, sekarang turun." Kak Devon turun dari dalam mobilnya.


"Sepertinya dia Edward Culen yang bisa membaca isi hatiku," gerutu Binna kesal. Dia kemudian turun dari mobilnya, Binna melihat ada butik yang sangat besar dan indah, di kaca depan butik itu terpampang berbagai model baju pengantin yang sangat indah.


"Akan lebih indah jika kamu yang memakainya, kamu akan menjadi pengantinku yang sangat cantik. Ayo kita masuk!" Devon menggandeng tangan Binna.


"Kak." Binna menahan tangan Kak Devon.


"Ada apa?"


"Apa benar kita akan menikah secepat ini?" Muka Binna tampak cemas.


"Tentu saja. Kedua orang tua kita sudah setuju, kamu juga sebentar lagi akan lulus sekolah, kamu tidak perlu secemas itu, aku bukan pria yang menakutkan yang harus kamu takuti. Aku pria yang sangat mencintai kamu, dan tidak akan membuat kamu bersedih." Tangan Kak Devon mengusap lembut pipi Sabinna.


'Kenapa dia seolah selalu bisa menyihirku dengan sikapnya?

__ADS_1


"Binna, kamu mikir apa lagi, Sih?" Kak Devon tidak sabaran melihat Binna dengan cepat dia mengendong Binna ala bridal style masuk ke dalam butik itu."


"Kak Devon, ini apa-apa, Sih?! Jangan membuat aku malu," ucap Binna kesal. Binna melihat ada beberapa orang karyawan di sana yang tersenyum melihat mereka.


"Devon? Kamu Devon, Kan? Dan ini pasti Binna? Tante sudah lama menunggu kalian. Mama kamu kemarin sudah menghubungi tante. Ayo! Kalian ikut tante ke dalam, baju kalian sudah tante siapkan."


Devon mengangguk dan masuk ke dalam dengan masih menggendong Sabinna. "Kalian ini memang pasangan yang menggemaskan, datang ke sini saja sambil gendong-gendongan begitu, tante senang sekali melihat calon pengantin ini."


"Kak Devon, turunkan aku. Aku malu," bisik Binna. Kak Devon menurunkan Sabinna, Sabinna dengan kesal merapikan bajunya. "jangan berbuat yang aneh-aneh lagi, Kak. Jangan membuat malu aku."


"Makannya jangan membuatku gemas sama kamu. Atau kamu memang sengaja memancingku," balas Devon berbisik.


"Ehem ... hem! Kalian ini sedang berbisik apa, Sih? Apa tentang acara bulan madu kalian nantinya, Ya?" Goda wanita pemilik butik itu.


"Maaf, Tante, aku sedang menenangkan calon istriku yang malu karena aku gendong tadi."


"Kenapa malu? Seharusnya kamu senang, berarti Devon sangat mencintai kamu. Oh ya! Tante lupa memperkenalkan diri. Nama tante adalah Mona. Dan ini baju pengantin kalian." Tante Mona menunjukkan baju kebaya pengantin berwarna silver dengan paduan brukat dan ada payetan yang sangat indah, dan juga di taburi oleh swaroski, di bagian lengannya. Sedangkan model baju Devon adalah setelah jas dengan bahan satin berwarna silver.


"Ini indah sekali bajunya," ucap Binna takjub.


"Bagaimana? Kalian suka? Aku sudah menunjukkan sama mama kamu, dan dia langsung menyetujuinya. Sekarang, tante akan membantu Binna untuk ganti baju ini, nanti kalau ada kurangannya bisa tante rubah."


Binna ikut dengan tante Mona masuk ke ruang ganti dan Devon juga berganti bajunya di ruangan lain.


Tidak lama Devon sudah keluar, dia melihat penampilannya pada kaca besar di luar kamar ganti.


"Halo, Devon!" seru seseorang di sana, dan dia segera menghampiri Devon, bahkan memeluk Devon dengan tiba-tiba.


"Karla? Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Devon kaget dan heran.

__ADS_1


Hiahhh! Ada cewek yang suka pake banget sama Devon datang. Author lihatin aja kalau nanti ada yang kesel dan cemburu


__ADS_2