
Devon akhirnya mau mengikuti gerakan Sabinna, Sabinna sampai sakit perut tertawa melihat suaminya bergoyang ke sana ke mari.
"Kakak kaku sekali, sih?"
"Tentu saja aku kaku, aku tidak pernah melakukan ini. Kalau gerakan di atas ranuanh sama kamu aku paling bisa. Mau mencobanya lagi?"
"Tidak mau! Sudah pernah. Ayo! Lakukan gerakan lagi sekarang. Tirukan aku?"
"Iya-iya!"
Kak Devon mulai lagi, dan kali ini gerakannya mulai bagus, bahkan membuat Binna tengangah.
"Apa kamu suamiku?"
"Iya, suami kamu, yang kamu cintai dan sayangi. Puas?"
Binna memeluk suaminya sambil berjinjit untuk mencapai bibir Kak Devon. "Kak, aku mau tanya. Aku nanti daftar kuliahnya sehabis kita berbulan madu atau sebelumnya?"
"Terserah kamu saja, tapi menurutku kamu lebih baik daftarnya sesudah kita bulan madu saja."
"Aku masuk semester satu kita dapat berita bahagia. Aku hamil."
"Tidak apa-apa, Kan? Aku malah tenang, tidak akan ada cowok yang mengoda kamu nanti di sana karena kamu sudah menikah dan akan memiliki seorang anak."
"Dasar!" Binna berjalan keluar dari ruangan menarinya.
"Binna, jangan pura-pura lupa sama tadi yang kamu bilang."
"Memangnya aku bilang apa?" Binna pura-pura lupa.
"Jangan pura-pura lupa, Binna!" Kak Devon tiba-tiba menggendong Sabinna ala kuli panggul dan membawanya ke atas ranjang. Dia menggulat Binna, dan mereka saling bercanda di atas ranjang. Bukan bercanda biasa ya.
Malam itu semua dapat tidur dengan nyenyak, kecuali Tommy, dia masih terjaga di atas teras kamarnya, Tommy mengingat kejadian tadi saat merayakan ulang tahun Nina.
Ponsel Tommy tidak lama berdering. Tommy tidak tau siapa yang menghubunginya karena nomornya tidak dikenal.
"Siapa ini?"
"Halo, apa benar ini Tommy?" suara laki-laki terdengar di seberang telepon.
"Iya, ini siapa?"
__ADS_1
"Hai, Tom, aku Asta teman baik Diandra."
"Asta?" Tommy mengkerutkan kedua alisnya. "Iya aku ingat kamu. Ada apa?"
"Tom, maaf aku mengganggu kamu malam-malam begini. Namun, ada hal penting yang ingin aku katakan sama kamu, Tom."
"Kamu ingin bicara apa?"
"Soal Mara, Tom. Aku tau kamu dan Mara saling mencintai, bahkan aku melihat kamu tadi mencium Mara di toilet restoran."
"Oh soal itu, apa kamu ingin marah denganku karena mencium kekasih kamu? Aku minta maaf Asta, tapi apa yang kamu katakan tentang aku dan Mara memang benar. Aku mencintai dia, dan tadi aku tidak bisa menahan emosiku untuk tidak menciumnya karena aku cemburu dengan kalian."
"Kamu cemburu padaku? Aku dan Mara tidak ada apa-apa, bahkan namaku sedikitpun tidak ada di hati Mara. Nama kamu yang ada di hati Mara, Tom."
"Apa maksud kamu?"
"Tom, apa besok kita bisa bicara berdua, ada hal peng yang harus kamu ketahui tentang Mara supaya kamu tidak salah paham. Setelah kamu tau semuanya, kamu boleh ingin tetap mencintai Mara atau berpaling."
"Apa maksud kamu?" Tommy tampak bingung.
"Besok kita bertemu pada saat jam makan siang, aku akan kirim alamatnya sama kamu. Kita akan bertemu besok, Tom."
"Baiklah." Mereka mengakhiri panggilannya.
Keesokan harinya pun tiba. Mereka sarapan pagi semua. "Bu, apa boleh aku meminta sesuatu saat aku sudah lulus kuliah nanti?" tanya Zia.
"Tentu saja boleh, Sayang. Memangnya kamu mau meminta apa?"
"Aku ingin mengadakan pesta kelulusanku dengan merayakan sebuah pesta kecil-kecilan di sebuah hotel, aku ingin mengundang teman-temanku, dan juga keluarga kita."
"Tumben kamu ingin merayakan suatu pesta seperti itu? Kamu biasanya lebih menyukai suasana yang tenang."
"Apa tidak boleh? Aku ingin merasakan suasana pesta, dan semua orang mengucapkan selamat atas kelulusan aku. Aku juga nanti mau mengundang Dion." Zia tersenyum.
"Iya, ayah akan adakan pesta untuk kelulusan kamu, kita akan merayakan di hotel milik ayah. Zia, kamu boleh mengundang semua teman-teman kamu nantinya," ucap Juna.
"Benar, Yah?"
"Iya, Sayang. Kamu boleh membuat pesta di sana. Kamu selama ini tidak pernah meminta apa-apa sama ayah. Anggap saja ini kado ayah untuk kelulusan kamu."
"Kalau begitu nanti ibu yang akan mengatur semuanya, bahkan gaun yang kamu pakai."
__ADS_1
"Bu, aku nanti yang akan mengatur dekorasi tempatnya, dan juga bajunya. Bolehkan?"
"Ya sudah kamu boleh."
"Wah! Kenapa aku mencium ada aroma bakal ada kabar bahagia ini untuk kita semua. Apa nanti di sana Kak Dion akan melamar Kak Zia."
"Memangnya kenapa kalau nanti Dion melamar kakak?"
"Tidak apa-apa, aku malah senang, setelah Kakak menikah, aku akan menyusul Kak Zia untuk menikah juga."
"Kamu mau menikah? Memang kamu sudah ada calonnya?" tanya Arana.
"Rahasia, Ibu. Pokoknya nanti Ibu dan Ayah akan senang mengetahui siapa calon istriku." Uno melirik sekilas pada Diandra. Zia tau akan hal itu, dia hanya memberikan senyuman licik untuk Diandra.
"Kalau sudah niat ingin menikah, seharusnya kamu juga sudah siap untuk bekerja di perusahaan ayah, tidak mungkin kamu menikahi seorang gadis, tapi kamu belum siap untuk semuanya."
"Ayah tenang saja, aku sudah memikirkan hal itu. Aku diam-diam membuka bisnis bengkel kecil-kecilan dengan temanku, dan usaha itu berjalan lancar."
"Apa? Kenapa kamu malah memilih bisnis hal itu, Uno? Kalau kakek Bisma kamu tau. Bisa-bisa dia akan sangat bersedih."
"Yah, ini kan hanya sebagian kecil saja. Aku suka dunia otomotif dan ini adalah salah satu cita-citaku, dan nanti soal bisnis di perusahaan ayah, tetap aku akan menjalankannya. Ayah tidak perlu khawatir."
"Iya, Juna, biarkan dia berkreasi dulu. Putra kamu termasuk orang yang mandiri dan pekerja keras," bela Tommy.
"Ya sudah! Terserah kamu."
Setelah makan pagi selesai Tommy dan Juna berangkat ke kantor, Zia pergi ke kampus, sedangkan Uno yang masih belum masuk kuliah, dia memilih rebahan di kamarnya."
"Binna, kamu mau aku antar ke rumah ibu kamu?"
"Iya, aku mau melihat kakakku. Kebetulan juga tanda merah ini sudah hilang, dan semalam kakak pintar sekali tidak memberiku tanda itu."
"Aku kasihan jika kamu merengek terus masalah tanda itu. Ya sudah kamu bersiap-siaplah karena sebentar lagi kita akan berangkat ke rumah kamu."
Mereka ini sedang makan pagi yang sudah Binna siapkan. Setelah itu mereka berangkat ke rumah Arana.
Di perjalana, Binna tidak sengaja melihat seseorang sedang bicara dengan Zia di tepi jalan. Binna tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu.
"Itu Kak Zia sedang bicara sama siapa?"
"Mana ada kak Zia, Binna?"
__ADS_1
"Itu, Kak." Binna menunjuk arah luar jendela mobilnya.