
Devon tidak melepaskan pegangannya. Binna menatapnya dengan pandangan kesal.
"Kakak tenang saja, aku punya tau cara sendiri nantinya, tidak perlu memakai baju itu. Daripada memakai baju yang malah kelihatan tidak memakai baju, lebih baik tidak usah memakai baju saja."
"Jadi itu rencana kamu nanti setelah kita menikah," bisik Devon.
Binna mukanya aneh, dia tadi bilang apa sih sebenarnya sama Kak Devon. "Em ... itu! Bukan begitu juga maksud aku, Kak, tapi daripada kita membeli mahal-mahal untuk baju yang memang kerawang di bagian semuanya, mending aku tidak memakai baju, kan sama saja?"
"Iya, kamu benar juga, aku setuju sama kamu. Ya sudah! Kita tidak usah membeli baju itu. Akan lebih menyenangkan melihat kamu tanpa balutan baju itu."
Binna semakin mengerucutkan bibirnya. "Dasar! Kak Devon mesum!" Binna kembali berjalan dan sekarang dia mau pulang."
Devon hanya tersenyum, dan mereka akhirnya pulang ke rumah.
Malam harinya. Uno yang sudah pulang ke rumah. Dan mereka semua makan malam bersama.
"Zia, mana? Kenapa dia tidak ikut makan malam?" tanya Juna pada istrinya.
__ADS_1
"Tidak tau, tadi pulang kuliah dia langsung ke kamarnya, aku juga melihat mukanya seolah kesal begitu." Arana melihat pada Uno yang tengah menikmati makan malamnya. "Uno, kakak kamu Zia kenapa?"
"Aku tidak tau, Bu. Tadi aku suruh pulang sendiri, karena aku masih ada urusan lain, dia tadi di temani sama Kak Dion pemilik toko aksesoris di dekat kampus itu."
"Pacarnya, Zia?"
"Belum, Bu. Aku melihat kak Dion menyukai kakak, tapi kak Zia sepertinya tidak ada respon sama dia."
"Kak Zia itu normalkan, Bu?" celetuk Binna.
"Tentu saja dia normal, Binna. Kenapa kamu tanyakan hal itu?"
"Kenapa malah membawa-bawa namaku? Aku kan memang menjadi kesayangan kak Zia. Wajar, aku kan cowok sendiri."
Tidak lama Tommy datang, sepertinya dia sedang menghubungi Diandra. Diandra belum pulang dari rumah Mara. Besok dia akan pulang setelah mengajar les. "Kalau begitu besok ayah akan menjemput kamu pulang dari tempat mengajar kamu, kamu bilang saja sama tante Mara kalau besok ayah yang akan menjemput kamu."
"Waduh! Kalau besok Diandra di jemput paman Tommy. Aku tidak bisa mengajak Diandra jalan-jalan berdua." Uno berdialog lirih sendiri.
__ADS_1
"Paman, kalau besok Paman sibuk, biar aku yang akan menjemput Diandra, kebetulan aku besok ada urusan di kampus dan bisa menjemput Diandra pulang."
"Tidak perlu, Uno. Paman besok mau mengajak Diandra makan siang di luar, karena paman juga ada janji dengan teman baik paman, dia ingin bertemu dengan Diandra.
"Nina maksud kamu, Tom?" tanya Juna.
"Iya, aku akan memperkenalkan Diandra dengan Nina. Nina ingin berkenalan dengan Diandra."
"Awal yang bagus, Tom."
"Oh ya aku juga lupa mau mengundang Paman serta semua di sini untuk hadir ke acara bazzar amal di kampusku. Binna, kamu juga ajak calon suami kamu itu. Tolong sampaikan sama dia."
"Kenapa pakai mengundang kak Devon."
"Sudah, ajak saja."
Mereka kembali makan malam bersama. Dan Keesokan harinya, Zia lagi-lagi tidak ikut makan bersama dengan mereka. Arana yang akhirnya mencari tau kenapa Zia tidak makan dari kemarin. Arana takut jika Zia sakit.
__ADS_1
Arana mengetuk pintu kamar Zia, Zia masih dengan baju tidurnya membuka pintu. "Kamu tidak ke kampus, Zia? Kenapa belum bersiap-siap? Apa kamu sakit, nak?" Arana memeriksa keadaan Zia.
Zia menepis tangan Arana, dia melihat Arana dengan tatapan yang kesal.