Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Telepon yang Menyenangkan


__ADS_3

Tok ... tok ... tok


Terdengar suara ketukan dari luar kamar ya, di mana seorang gadis cantik dengan rambut di kepang besarnya sedang duduk sambil tangannya menata beberapa baju di dalam kopernya.


"Masuk," ucapnya lembut.


Seorang pria masuk dan tersenyum melihat putri cantiknya duduk di atas ranjang dengan tersenyum padanya. Kamar yang di dominasi warna coklat dan gold itu menambah suasana tampak sangat hangat, selain wajah teduh dari si empunya kamar itu.


"Kamu sedang apa, Sayang?" tanya pria yang sekarang duduk di kursi dekat ranjang gadis itu.


"Aku sedang menyiapkan baju yang nanti akan aku bawa untuk tinggal beberapa hari di rumah Ibu Arana. Apa ayah juga sudah menyiapkan keperluan ayah?" tanyanya balik.


"Bibi sudah menyiapkan semuanya, tapi ayah mungkin tidak membawa banyak. Ayah mungkin nanti akan bolak balik Indonesia- Kanada, karena tadi di kantor, ayah ada beberapa urusan yang tidak bisa di tinggal."


Gadis itu menghentikan gerakannya. Sekarang dia menoleh ke arah ayahnya. "Apa kita tidak jadi ke rumah ibu Arana?" tanyanya dengan raut wajah yang mulai sedikit kecewa.


Tommy tersenyum dan sekarang dia berpindah duduk di samping putrinya, Tommy mengecup kecil kepala putrinya. "Kita jadi ke sana, apalagi kamu kan mau mengajari musik di sekolah musik yang ada di sana. Ayah tau kamu senang dengan anak-anak kecil, dan ini salah satu keinginan kamu, tapi mungkin hanya ayah yang akan sering pergi nanti ke Kanada. Kamu tidak takut, kan? Jika ayah kembali ke Kanada beberapa hari nanti?"


"Tidak, di sana kan ada ibu Arana dan paman Juna, lagipulan nenek Tiara sama tante Tatia juga ada."


"Kamu kan memang anak ayah yang berani." Tommy memeluk tubuh putrinya.


"Tapi ayah jangan lama-lama, aku kangen nanti sama ayah." Tangan Diandra membalas pelukan ayahnya.


"Ahahaha! Belum di tinggal sudah bilang kangen. Oh ya, Sayang, apa kamu tidak mau menghubungi Ibu Arana kamu? Tanyakan dia mau di bawakan apa saat kita datang ke sana."


"Iya, aku lupa. Aku juga mau menghubungi tante Mara, aku mau memberitahunya jika kita mau ke Indonesia, dan bertanya, apa yang mau aku bawakan untuknya," Diandra berkata dengan raut wajah yang bahagia. Beda dengan expresi wajah dari Tommy, ada sesuatu yang mengganggunya. Apa Mara akan bahagia mengetahui Diandra dan dirinya yang akan datang, atau malah dia akan mencoba menghindar. Tommy juga masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Mara.


Tommy yang beberapa bulan yang lalu mencoba menghubungi Mara, tapi tidak pernah di jawab, bahkan pesan Tommypun tidak ada yang dibalas.


"Yah, sama Ibu Arana tidak di angkat ponselnya."


"Coba kamu hubungi telepon rumahnya saja, mungkin ibu Arana kamu sedang sibuk di bawah, di sana kan sekarang malam hari, mungkin ibu Arana kamu sedang menyiapkan makan malam. Ayah mau ke ruang kerja ayah dulu, ada berkas yang ayah belum siapkan." Tommy beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Diandra di dalam kamarnya.


"Halo," sapa Diandra lembut di telepon.

__ADS_1


"Halo , ini siapa?"


"A-aku Diandra, apa aku bisa bicara dengan ibu Arana?"


"Ibu Arana, apa kamu Diandra anak dari paman Tommy?" tanya pria di seberang telepon.


"I-iya, ini siapa? Apa kamu Uno?"


"Iya, aku Uno. Kamu si gendut yang lucu dan sok berani itukan?"


Muka Diandra langsung di tekut kesal. "Siapa yang gendut? A-aku tidak gendut, lagipula aku tidak sok berani. Dari kecil aku memang tidak takut apapun walaupun aku tidak bisa melihat."


"Oh, ya? Bukannya kamu dulu memang gendut, kalau kamu tidak gendut, mana foto kamu? Aku mau lihat."


"U-untuk apa? Aku tidak suka menyebar-sebarkan fotoku."


"Kan tidak kamu sebarkan, hanya kamu berikan padaku. Lagian aku cuma ingin kamu membutikan apa benar kamu tidak gendut seperti saat kamu masih kecil dulu." Uno terkekeh pelan di tempatnya.


Hadew! Tuan Vampire ini anaknya tolong di kondisikan. Wakakkak!


"Tidak mau. Kenapa aku harus bertanya pada ibuku, kalau aku bisa bertanya langsung sama kamu."


"Tunggu saja aku datang, nanti kamu bisa melihatnya sendiri. Uno apa ibu kamu ada? Aku ingin bicara sama ibu kamu, tadi aku mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak diangkat. Jadi aku menelepon rumah."


"Ibuku sedang sibuk, bicara saja sama aku, kita kan tidak pernah bicara. Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan sama ibuku, nanti aku yang akan menyampaikan."


"Em ... aku ingin bertanya pada ibu kamu, apa yang ingin aku bawakan saat aku dan ayahku ke sana, itu saja sebenarnya, aku juga kangen sama ibu kamu."


"Oh soal itu. Ibuku tidak ingin apa-apa, tapi kamu bisa membawakan aku coklat yang terkenal di Kanada."


"Coklat? Kamu mau coklat? Aku akan membelikanya nanti."


"Belikan yang banyak ya? Aku mau membaginya untuk para mantan aku di sini."


"Pa-para mantan? Jadi pacar kamu banyak di sana, Uno?"

__ADS_1


"Ya begitulah, para gadis itu mengejarku, aku tidak mau melukai perasaan mereka dengan menolak mereka. Kamu sendiri, apa banyak cowok yang mengejarmu?"


"A-aku, aku tidak punya pacar. Uno, aku tidak mau membahas masalah seperti ini. Aku akan membawakan coklat yang kamu mau."


"Kenapa? Apa para cowok itu menghina kamu?"


"Tidak ada yang menghinaku, Uno."


"Pacaran saja denganku bagaimana? Aku tidak akan menyakiti kamu nantinya," celetuk Uno. Ya Ampun! ini cowok serius apa bercanda sih? Kalau di bercandain Diandra, itu keterlaluan.


"Pacaran sama kamu? Uno, kamu playboy, pacar kamu banyak, aku tidak mau menjadi salah satu korban kamu."


"Ahahhah!" Uno malah tertawa dengan puasnya. "Kamu kan belum mencobanya, aku yakin bisa membahagiakan kamu, Gendut,"


"Aku tidak gendut, Uno!" serunya kesal.


"Benarkah? Foto kamu mana?" Tetep ini si Uno perlahan-lahan usaha penasaran sama Diandra.


"Tidak mau! Sudah aku mau menyiapkan barang bawaan aku."


"Jangan lupa bawa coklat yang banyak, tapi untuk kamu sendiri. Kamu dulu kan suka sekali makan coklat. Mukamu yang gendut tambah kelihatan lucu."


Diandra tidak menjawab hanya diam saja. "Sudah puas menertawakan aku?" tanya Diandra kesal.


"Uno ...!" terdengar suara panggilan Arana dari belakang Uno.


"Ibu?" Uno tampak bingung. "Gendut, nanti kita bicara lagi, aku tunggu kedatangan kamu." Uno langsung menutup panggilannya.


"Dasar! Dia masih saja suka usil! Nanti aku beritahu ibu Arana baru tau rasa."


Maaf baru up, lagi sibuk buat pendaftaran anak yang mau masuk SMP, Kak 😩 ribetnya.


Tebak ... ini siapa? Yang jelas bukan kembaran author 😁


__ADS_1


__ADS_2