
Arana di dalam dapur memikirkan kata-kata Zia. Bukannya dia merasa tidak tersiksa, dia awalnya sangat tersiksa, tapi Arana bukan wanita yang egois, dia melihat bayi Zia yang masih polos dan tanpa dosa itu, kasihan jika dia harus di rawat di sana hanya dengan pengasuh, atau bahkan dititipkan di panti asuhan, setiap melihat wajah Zia, Arana juga teringat tentang kekasih yang juga pernah di sayangi oleh Juna sebelum dia.
Siang itu di apartemen Devon, Mama Tia dan keluarganya izin pulang. Tinggal Binna dan Devon hanya berdua di dalam apartemen itu.
Binna berdiri di depan wastafel sedang mencuci peralatan makan yang kotor. Devon berdiri di samping Sabinna dan hendak membantu pekerjaan Sabinna, tapi lagi-lagi Sabinna cuek terhadap Devon.
"Aku bisa sendiri, aku tidak perlu di bantu. Lagian aku bukan anak manja yang tidak bisa apa-apa, bahkan mudah di bodohi oleh Kak Devon."
"Aku tidak pernah membohongi kamu, Binna. Apa tidak cukup penjelasan mamaku tadi?"
"Foto dan bukti yang aku lihat, itu juga adalah bukti yang kuat." Binna menatap kesal pada Devon.
"Kenapa kamu cemburu terlalu begini denganku? Apa kamu sangat mencintaiku?"
Binna langsung terdiam. Dia memandang Kak Devon dengan tatapan tajamnya. "Aku tidak mencintai, Kak Devon, aku malah membenci Kak Devon! Aku marah karena aku merasa di bohongi, aku merasa di khianati oleh cowok yang aku berusahan mempercayainya, menerimanya sebagai suamiku."
"Binna." Devon mencoba memegang tangan Sabinna, tapi Binna mengibaskan tangannya kesal. "Binna, dengarkan aku?"
"Tidak mau!" Binna malah akan pergi, tapi dengan cepat. Devon mengerjanya, Binna yang kesal mencoba melepaskan tangan Kak Devon. "Lepaskan, aku benci sama Kakak. Aku benci di bohongi seperti ini. Aku baru kali ini merasakan sakit seperti ini." Binna mencoba berontak.
"Aku tidak membohongi kamu!" Devon malah mendorong tubuh Sabinna pada tembok dan mengukungnya. Devon mencium paksa pada Sabinna.
"Le-lepaskan." Binna berusaha berontak tidak mau di cium, tapi sekali lagi, kekuatan Binna tetap kalah sama Devon.
Binna dengan kekuatan terakhirnya mendorong tubuh suaminya dan--
Plak ...
Tamparan mendarat pada pipi suaminya. Terlihat napas Sabinna naik turun, Binna menatap kesal pada suaminya.
"Ciumanku itu adalah bukti, kalau aku sangat mencintai kamu, dan aku tidak membohongi kamu, kamu marah karena kamu mencintaiku, tapi kamu terlalu cemburu karena apa yang kamu lihat antara aku dan Karla."
Binna tidak menjawab, dia malah berlari pergi dari sana, Binna naik ke lantai kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, dia menangis. Entah menangis kenapa? Apa karena ciuman itu atau karena kata-kata Kak Devon memang benar.
__ADS_1
Binna mencintai Kak Devon, dan dia cemburu dengan Karla, Binna baru pertama kali ini benar-benar jatuh cinta, tapi cintanya merasa dikhianati.
Devon di bawah mengelap mukanya kasar, dia bingung bagaimana menjelaskan pada istrinya itu. Binna itu gadis yang keras kepala.
Tidak lama dia mendapat telepon dari Dimitri saudara sepupunya. "Halo."
"Halo, Devon," terdengar suara seorang wanita yang tampak cemas.
"Kamu siapa?"
"Dev, aku Miranda kekasih dari Dimitri. Tolong Dimitri, Devon."
"Ada apa dengan Dimitri?"
"Rumah kita sedang di datangi oleh mantan kekasihku, dan Dimitri sedang berbicara dengan mantan kekasihku di luar. Aku takut jika mantan kekasihku membuat masalah dengan Dimitri. Hanya kamu yang aku tau yang bisa dihubungi seperti waktu itu."
"Berengsek Dimitri! Memangnya aku bodyguardnya?" umpat Devon kesal.
"Devon, cepat ke sini!"
Devon naik ke lantai atas, dan saat akan membuka pintu ternyata pintunya di kunci. "Binna, aku pergi sebentar, kamu jangan ke mana-mana," Devon berbicara dengan Binna dari balik pintu. Devon segera kembali turun dan mengambil kunci motornya, tidak lupa dia menghubungi Lila, meminta tolong pada Lila untuk menemani Binna di rumahnya.
"Kalian ada masalah?"
"Please jangan banyak tanya dulu, Lila. Aku minta tolong kamu ke rumahku, dan jangan mencerikan kepada ibu Arana, aku harus pergi sebentar, saudara sepupuku ada masalah."
"Iya, Kak Devon."
Devon menghubungi Lila, siapa tau Lila bisa bicara dari hati ke hati dengan Binna, dan Binna tidak sendirian.
Devon memacu motornya dengan cepat ke sana, setelah mendapat alamatnya.
Saat tiba di sebuah rumah dengan taman yang tidak terlalu besar, Devon melihat Dimitri mau di pukul oleh pria yang sepertinya manta kekasih dari wanita yang menghubunginya itu.
__ADS_1
"Hei! Hentikan! Kalian tidak perlu bertengkar begini. Kita bicarakan saja ini semua."
Dimitri dan lainnya langsung melihat ke arah Devon. "Devon, kamu ke sini."
"Berengsek kamu, Dimitri. Bisa-bisanya membuat masalah seperti ini?" Devon memandang tidak percaya pada Dimitri
"Mereka yang membuat masalah denganku, aku sudah mengatakan jika Miranda sudah tidak mau dengannya dan lebih memilih aku."
"Kamu gila, ya? Lalu istri kamu mau kamu ke manakan? Dimitri sadarlah. Wanita itu sudah memiliki kekkasih, dan kamu salah jika kamu merebut kekasihnya."
"Aku tidak merebutnya, Miranda yang menyukaiku."
"Miranda tidak akan tertarik sama kamu jika kamu tidak menggodanya. Aku dan Miranda akan bertunangan kalau saja kamu tidak hadir di tengah-tengah kita. Dasar pria berengsek!"
"Jaga bicara kamu, kamu mau menikahi Miranda, kamu saja lelaki miskin, bisa apa kamu? Apa yang akan kamu berikan untuk Miranda? Hanya kesedihan."
"Dimitri!" Devon menarik baju Dimitri kasar. "Kamu kenapa seperti ini? Kamu bukan Dimitri yang aku kenal."
"Miranda itu mencintaiku, apa adanya. Dia tidak mencintai pria ini, pria ini akan di jodohkan dengan Miranda, tapi Miranda tidak mau. Pria bodoh ini saja yang suka memaksa."
"Jaga bicara kamu!"
Pria itu marah dan akhirnya memukul muka Dimitri, sampai Dimitri tersungkur. Terjadilah perkelahian antara mereka. Pria itu membawa 3 orang temannya memukuli Dimitri. Devon yang sebenarnya kesal dengan Dimitri, mau tidak mau dia harus membantu, Devon tidak bisa membiarkan Dimitri mati di pukuli orang-orang itu.
"Hentikan!" Devon mencoba membuat perkelahian itu berhenti, tapi sepertinya tidak ada yang mendengarkan Devon.
Devon akhirnya menghajar mereka satu persatu karena saat di lerai mereka main tangan pada Devon.
Empat orang tersungkur ke tanah, muka Devon juga terdapat beberapa lebam. "Kalian sebaiknya pergi dari sini, aku akan bicara dengan wanitamu, dan kalian jangan coba-coba mengganggu Dimitri lagi, atau kalian akan berurusan dengan pihak yang berwajib. Pergi!" usir Devon.
Mereka semua pergi, dan Devon membantu Dimitri bangun membawanya ke dalam rumah. Wanita bernama Miranda itu langsung menghampiri Dimitri, mencoba memeriksa luka Dimitri.
"Kamu tidak apa-apa, kan Sayang?"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa."
"Dengar ya, Dimitri, lain kali aku benar-benar tidak akan membantu kegilaan kamu itu."