
Gadis itu tidak bergeming dari tempatnya, dia masih saja menatap cowok yang di cintainya itu. "Uno, aku bisa jelaskan semuanya, itu tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Apa gadis dalam video dan foto itu adalah kamu?" tanyanya dengan suara dingin.
"I-iya itu aku, tapi aku--."
"Pergi dari sini," suara Uno mulai tenang. "Jangan mencoba menjebakku untuk bertanggung jawab pada hal pertama kali yang tidak aku lakukan."
"Uno aku tidak menjebak kamu, aku melakukan hal itu karena terpengaruh minuman, dan aku tidak tau siapa pria itu, mungkin ada yang menjebakku, Uno."
"Apapun itu, kamu sudah tidak pantas denganku lagi." Uno mengusap lembut pipi Cerry. "Aku tidak akan membenci kamu, tapi aku tidak bisa menerimamu lagi."
"Uno," suara gadis itu bergetar.
Hari ini mungkin adalah hari terburuk bagi Cerry, Uno sudah tidak bisa memaafkan dia, tapi Uno juga tidak membencinya. Hari ber
lalu seperti biasanya. Binnapun selalu menunggu kehadiran Lukas, dia benaran penasaran ada apa dengan Lukas, sampai pernah bertanya kepada salah satu guru di sana, tapi tidak mendapat jawaban
Makan malam kali ini hanya ada Sabinna dan kedua orang tuanya, sedangkan Zia memilih menyibukkan diri di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Zia kenapa tidak ikut makan malam?" tanya si ayah yang masih tampan itu.
"Katanya dia sedang sibuk mengurusi tugas kuliahnya, dia memang sangat rajin jika mengenai pendidikannya."
"Ibu, apa benar besok Kak Diandra dan paman Tommy akan datang?"
"Iya, sayang, mereka sudah berangkat dari hari ini, dan besok mereka akan tiba ke sini, ibu sangat senang sekali. Dan ingin segera bertemu mereka," suara Arana tampak bahagia.
"Apa kamar mereka sudah di siapkan?"
"Sudah, Juna, aku sudah menyiapka. kamar mereka, kamar Diandra aku letakkan di sebelah kamar Uno dan Sabinna, biar mereka bisa berkumpul. Aku juga sudah menyiapkan bahan masakan untuk besok aku dan para maid memasak makanan kesukaan Diandra."
"Memangnya kamu tidak pernah mengajak kakak kamu Zia mengobrol?"
Binna menggeleng pelan dengan pertanyaan ayahnya. "Kak Zia tidak cocok denganku, dia malas kalau aku cerita tentang sekolah dan kegiatan aku, dia lebih senang berduaan dan bercerita dengan kak Uno. Kenapa mereka malah seperti sepasang kekasih?" celetuk Binna.
Arana terdiam melihat ke arah Sabinna. "Mungkin mereka satu kuliah dan banyak bahan pembicaraan yang bisa mereka bicarakan. Binna," jawab Juna.
Mereka melanjutkan makan malamnya. Dan tidak lama Binna yang sudah selesai makan malam. Izin untuk naik ke atas kamarnya, dia mau latihan menari sebentar, setelah itu istirahat.
__ADS_1
Sabinna berada di dalam ruangan latihannya, dia berdiri menatap dirinya di cermin, kemudian suara lantunan musik slow berbunyi, Binna mulai menggerakkan tubuhnya perlahan-lahan.
Saat dia berputar dan hampir terjatuh, entah kenapa tubuhnya seolah ada yang menahannya dan dia melihat bayangan kak Devon.
"Kak Devon?" saat dia tersadar, kak Devon yang memang hanya bayangan itupun tidak ada. Muka Binna berubah kesal.
"Kenapa aku jadi memikirkan dia? Menyebalkan!" gerutunya marah.
Tidak lama terdengar suara dering ponsel miliknya dan Sabinna berjalan mendekat ke arah ponselnya diletakkan. "Siapa ini? Kenapa hanya nomor?"
"Halo."
"Hai, Binna."
"Kak Devon," jawab Binna cepat.
"Kamu mengenali suaraku? Apa kamu memang sedang memikirkan aku?"
Binna seketika menutup mulutnya dengan satu tangannya, dan dia merasa sangat bodoh, kenapa expresi suaranya seperti orang kegirangan begitu?
__ADS_1
Besok lagi ya, kalau author uda sembuh besok aku kasih 2 bab 🙏🙏