Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Prom Night part 2


__ADS_3

Arana masih menunggu jawaban putrinya--Sabinna. "Em ... itu?" Binna tampak Bingung.


"Binna, Ibu kan sudah bilang, kamu akan segera bertunangan dan menikah dengan Devon, jadi, Ibu harap kamu melupakan cowok yang bernama Lukas itu. Kamu harus menghargai perasaan tante Tia dan Devon. Devon juga sudah serius sama kamu."


"Kak Devon saja pergi dalam beberapa hari ini tidak pernah menghubungiku. Mungkin dia di sana sudah menyukai gadis lain."


"Devon bukan cowok seperti itu, dan Ibu yakin sama tante Tia. Mungkin dia sedang sibuk untuk mengurus kepindahannya di sini. Dan satu lagi, di atas ada kiriman hadiah buat kamu, kamu lihat saja, tadi ada kurir yang mengirimnya, katanya buat kamu."


"Hadiah? Dari siapa, Bu?"


"Kamu lihat saja sendiri. Sudah ibu mau menyiapkan makan siang. Ibu sudah di tunggu Diandra di dapur." Arana mengusap kepala putrinya dan dia berjalan menuju dapur.


Binna segera mengambil tasnya dan naik ke lantai atas kamarnya. Saat dia membuka kamarnya, Binna melihat ada kotak berwarna hitam dengan pita merah di sana. Binna tampak bingung, siapa yang mengiriminya kado.


"Dari siapa ini? Ini kan bukan hari ulang tahunku." Binna mencari nama pengirimnya di depan tapi tidak ada.


Binna membuka kado itu dan matanya membulat lebar, dia melihat ada sebuah gaun berwarna merah menyala. Binna membentangkan gaun itu, jujur saja Binna menyukai model gaun itu.


"Ini dari siapa?" Binna kembali mencari di dalam kotak itu dan ada kertas note kecil di sana.


" Maaf "


"Aku harap kamu menyukai gaun pemberianku"


"Devon"


"Kak Devon? Jadi ini dari kak Devon?" Binna masih tampak bingung. "Aku tidak akan memakai gaun ini. Enak saja, dia meminta maaf seperti ini, katanya mencintaiku, katanya ingin menjadi suamiku, tapi dia beberapa hari di Belanda tidak pernah menghubungiku sama sekali. Aku tau, dia pasti sudah punya kekasih di sana." Binna memasukkan kembali gaun itu.


"Aku bukan anak kecil yang bisa di suap seperti ini. Aku tidak suka gaun itu," Lanjutnya dengan sebal. Dan Binna meletakkan kotak gaun itu seenaknya di ranjang, tapi dia tetap melihat kotak itu.


Siang itu, Binna dan Diandra makan bersama dengan Arana. Binna tampak malas makan siang. "Kamu kenapa, Binna? Kenapa makannya malas begitu?"


"Binna malas makan? Apa tidak enak makanan buatan aku, Binna?" sahut Diandra.

__ADS_1


"Enak kok, Kak. Aku hanya sedang memikirkan tentang acara prom night malam ini, aku bingung mau memakai baju apa pada acara itu?"


"Memangnya kamu tidak punya gaun, Binna. Biasanya acara seperti itu memakai gaun, atau kamu bisa meminjam gaun milikku, kebetulan aku membawa beberapa gaun ke sini."


"Kak Diandra ini kan tinggi, aku imut, gaunnya pasti tidak pas untukku."


"Kamu itu! Ibu kan pernah membelikan gaun untuk kamu, kamu pakai saja itu, Binna."


"Sudah tidak muat, Bu," jawabnya malas.


"Kamu sih! Tidak pernah memakai gaun-gaun itu, kamu sukanya memakai celana dan kaos. Jadinya gaun itu tidak muat sekarang. Oh ya! Memangnya tadi ada kado buat kamu, itu isinya apa?"


Binna terdiam sejenak. "Itu dari kak Devon, gaun untuk aku," Jawab Binna lirih.


"Gaun dari Devon, lalu kenapa kamu tidak memakai itu saja?"


Binna tidak menjawab malah mengerucutkan bibirnya.


Devon calon tunangan kamu itu ya, Binna? Wah! Dia tau banget, ya, kamu ada acara malam ini, jadi dia mengirim gaun untuk kamu," celetuk Diandra.


"Binna tidak menyukai Devon ya, Ibu Arana?"


"Dia menyukai teman sekolahnya, namanya Lukas, Ibu pernah menyuruh untuk memperkenalkan Lukas, tapi anak itu malah tidak datang, dan sampai sekarang saja dia tidak masuk sekolah, Ibu tidak mau kalau sampai Binna mengenal cowok yang salah."


"Oh begitu. Lalu, apa Ibu yakin jika Devon ini cowok yang cocok untuk Binna?"


"Entah kenapa feeling Ibu pada Arana sangat kuat pada Devon, dia mencintai Binna dari kecil, dan Tia juga akan menjadi Ibu mertua Binna yang baik."


"Cinta perlahan-lahan akan tumbuh jika mereka nanti terua bersama, Bu. Dan aku yakin feeling seorang ibu itu tidak akan salah."


Tidak lama Uno bersama Zia datang, mereka memasukin mansion. "Kak, kenapa kakak tidak sama pria tadi saja? Sepertinya Dion itu menyukai kakak."


"Kakak tidak tertarik sama dia. Kakak hanya menyukai ka--. Maksud kakak, kakak hanya menyukai pria yang kakak ceritakan sama kamu, hanya dia," ucapnya tegas. Zia langsung pergi ke kamarnya.

__ADS_1


"Uno, kakak kamu kenapa?"


"Dia tidak apa-apa, Bu. Aku kan sudah bilang, kakak itu sedang jatuh cinta."


"Dan kamu pasti menggodanya terus." Uno terkekeh pelan. "Uno, apa kamu sudah makan siang? Kalau belum kamu makan dulu."


"Tadi aku sudah makan sama kakak, karena kita di traktir seseorang. Bu, Diandra mana?"


"Dia sedang makan di ruang makan, ya sudah kalau kamu sudah makan. Sebenarnya hari ini Diandra yang memasak, tapi hanya kita bertiga tadi yang makan."


"Diandra memasak? Kalau begitu aku mau makan, entah kenapa tiba-tiba perutku lapar lagi." Uno berjalan menuju ruang makan. Arana yang melihatnya tampak heran.


Uno duduk di sebelah Diandra, dia makan masakan buatan Diandra, Uno menyukai masakan Diandra.


Malam itu, Binna yang berada di kamarnya tampak bingung, dia mau memakai baju apa? "Apa aku harus memakai gaun lamaku?" Binna memilah baju lamanya yang ada di lemari.


Tidak lama dia turun ke bawah, Binna berpamitan pada kedua orang tuanya, dan kakaknya. "Adikku ternyata bisa tampil cantik juga, Ya," celetuk Uno.


"Jangan memulai, Kak. Aku sedang tidak ingin bercanda dengan Kakak." Muka Binna di tekuk kesal.


"Kamu berangkat sama siapa, Sayang? Apa mau ayah antar?"


"Tidak perlu, Yah. Aku berangkat sama Lila dan cowoknya."


"Kasihan sekali, kamu jadi nyamuk dunk! Nanti buat Lila dan cowoknya." Uno terkekeh


"Uno!" Arana mendelik ke arah putranya yang usil itu.


"Kakak menyebalkan!" Binna kesal dan berjalan menuju ruang tamu. Dia menunggu Lila dan cowoknya datang menjemput.


"Lila mana sih? Kenapa dia lama sekali? Pasti masih pacaran sama Nico?" umpatnya kesal.


Tidak lama pintu ruang tamu diketuk oleh seseorang, pelayan di rumah itu akan membuka pintunya, tapi Binna bilang dia yang akan membukanya. "Itu pasti Lila."

__ADS_1


Binna berjalan menuju pintu dan membuka pintunya. Saat pintu terbuka, mata Binna tampak membulat sempurna melihat seseorang berdiri di depan pintu dengan setelan jas Rapi.


Maaf, ya telat. Author lagi seru lihat Gopi wkakaka


__ADS_2