
Binna dan Devon meninggalkan Ken setelah mereka bisa menengkan Ken. Devon terlihat mukanya agak kesal berjalan menuju ke dalam kamarnya. “Kak Devon cemburu?”
“Menurut kamu?” Kak Devon melihat Binna dengan berkacak pinggang di depan Binna.
“Jangan begitu.” Binna mencoba merayu suaminya yang mukanya sudah ditekut kesal saja. Binna memeluk suaminya dan mencoba mengelus pipi suaminya itu.
“Aku butuh penjelasan, bukan sentuhan seperti ini. Nanti malam saja kalau ingin melakukan hal itu,” ucapnya tegas dan terdengar dia sangat serius.
“Tadi itu aku juga kaget mendengar suara ponselku dan aku melihat ada nama Ken, aku mencari Kak Devon tapi ternyata Kakak tidak ada. Aku panik mendengar ucapan Ken yang seolah sudah putus asa dalam hidupnya, aku segera datangi saja ke kamarnya, aku takut jika dia akan nekat dan mengakhiri hidupnya.”
“Tapi apa harus dengan memeluknya seperti itu?”
“Bukan aku yang memeluknya, tapi dia yang tiba-tiba memelukku dengan cepat, aku mau melepaskan tapi dia malah memelukku erat, dia sepertinya sangat bersedih setelah menghubungi Giza dan berakhir dengan penolakan sekali lagi dari Giza.”
“Kenapa aku sekarang menjadi tidak suka dengan Ken, dia terlalu lemah dan ingin dikasihani.”
“Jangan berkata seperti itu, Kak.” Binna memeluk suaminya itu. “Ada beberapa tipe pria di dunia ini, salah satunya ada yang lemah seperti Ken. Kalau seperti Kak Devon semua pasti hidup ini akan lebih mudah.”
Tangan suami Sabinna mulai mau memeluk istrinya itu. “Lain kali kamu jangan bertindak seperti itu lagi. Aku benar-benar tidak suka, Binna.”
“Iya, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Lagian tadi Kakak Devon ke mana sih? Kenapa tiba-tiba tidak ada di sebelahku.” Binna cemberu.
“Aku tadi ke bagian resepsionis karena lusa aku ingin mengajak kamu pergi dari sini. Kita akan ke Spanyol.”
“Cepat sekali? Apa karena ada Ken?”
“Rencana itukan sudah dari awal kita bicarakan, kita di sini hanya beberapa hari dan nanti di Spanyol kita akan banyak menghabiskan banyak waktu.”
“Lalu Ken bagaimana?”
Kedua alis kak Devon naik salah satu. “Kita bawa saja dia kalau kamu mau?” jawabnya asal.
“Di bawa? Memangnya anak kucing main bawa saja?” Binna memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
“Lalu? Kamu kenapa malah membingungkan keadaan Ken? Dia itu pasti punya saudara, dan dia pasti orang mampu, buktinya dia bisa berada di sini. Kamar di lantai ini hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menginap,
dan jika dia bisa menginap di sini, dia benar-benar orang yang lebih dari segalanya.”
“Tapi harta tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang, Kak.”
“Aku tau, tapi setidakanya pasti ada keluarga dia yang mengetahui dia sini dan tidak akan membiarkan saja.”
Binna terdiam sejenak. “Kak, sebelum kita pergi ke Spanyol. Kita sebaiknya menerima ajakan Ken makan malam bersama, siapa tau kita bisa membuat hatinya terhibur. Dan kita bisa meyakinkan lagi supaya dia bisa semangat dalam hidupnya.”
“Ya sudah, kita akan menerima undangan makan malam dengannya. Setelah itu kita akan pergi dari sini.”
“Iya, aku setuju.” Binna mengecup bibir suaminya. “Kak.”
“Hem ...!”
“Sebenarnya aku ingin memperkenalkan Ken dengan Lila, bagaimana menurut kamu, Sayang?”
Pria di depannya itu berpikir sebentar. “Binna, kita belum begitu mengenal Ken, ya walaupun kita tau sedikit cerita tentang Ken, tapi hal itu tidak bisa menjadia kita menganggap bahwa Ken orang yang baik, dan belum
“Iya juga, aku juga melihat jika Ken sangat mencintai Giza, apa dia bisa menerima gadis lain? Eh, tapi tidak menutup kemungkinan Lila bisa membuat Ken melupakan Giza.”
“Kita tidak perlu memikirkan hal ini, biarkan nanti Lila menemukan kebahagiaannya sendiri. Sekarang kita kita mandi dan aku akan mengajak kamu makan di luar, pemandangan pagi ini sangat indah. Di dekat sini
ada tempat makan yang sangat indah dengan desain interiornya yang kamu pasti menyukainya.”
Mereka segera mandi dan bersiap- siap untuk makan pagi bersama ke tempat yang kak Devon katakan. Sesampai di sana memang benar apa yang dikatakan oleh kak Devon, tempatnya sangat indah, apalagi makanan yang dihidangkan sangat lezat, Binna sangat menyukainya.
“Kak, kenapa tidak dari kemarin kita ke sini, aku bisa berswan foto bersama Kakak di sini.”
“Kitakan bisa berswan foto sekarang. Sini, kamu mau berfoto bagaimana? Kita ciuman atau kita berpelukan.”
Binna melirik dengan tatapan aneh. “Biasa saja, kita foto biasa saja.”
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua melakukan berswan foto dengan gaya yang malah Binna yang bersemangat dengan berbagai gaya, bahkan dia mencium pipi suaminya dengan sangat lekat.
“Kamu itu yang malah sangat bersemangat, mau kamu pamerkan pada Karla lagi?”
Binna mengggeleng. “Aku sudah menghapus bahkan memblokir nomor Karla dari ponsel Kak Devon. Jadi kita tidak akan di ganggun oleh nenek sihir itu lagi.”
“Ahahah!” Devon malah terkekeh.
“Kak, aku mau membeli kue ini lagi, apa boleh aku pesan untuk di bawa pulang?” Binna tampak menghabiskan dua potong kue dengan hiasan buah blueberry di atasnya.
“Kamu minta saja di dalam, kamu boleh membeli kue itu sesuka kamu, Sayang.”
“Terima kasih!” Binna beranjak dari tempatnya dan mengecup dengan cepat bibir suaminya, Binna tampak girang membawa kartu atm milik suaminya.
Binna memesan kue yang dia inginkan. Pegawai tempat itu menyuruh Binna menunggu sebentar karena aku memasukkan ke dalam box.
“Aku juga mau pesan kue dengan buah blueberry dan kiwi di atasnya.Tolong jadikan 5 box, satu box isi 5 kue ya?” Gadis dengan rambut pirangnya itu tersenyum kepada pegawai yang melayaninya.
Binna tampak mengamati wajah dari gadis yang berdiri di sampingnya. Binna seolah pernah melihat wajah dari gadis itu tapi di mana.
“Hai! Kenapa kamu melihatiku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?” Tiba-tiba gadis yang dilihati oleh Binna bertanya langsung pada Binna.
“Maaf, aku seperti pernah melihat kamu, tapi aku lupa di mana.” Binna berpikir sebentar.
“Aku tidak pernah melihat kamu, apa kamu orang baru di sini? Atau kamu sedang berlibur di sini?”
“Aku sedang berbulan madu di sini dengan suamiku, kami tinggal di hotel dekat sini. Itu dia hotelnya.” Binna menunjukkan hotel tempat dia menginap dengan suaminya.
"Kamu sudah menikah? Selamat kalau begitu." Gadis itu tersenyum pada Binna.
"Kamu sudah lama di sini? Apa nama kamu Giza? Aku ingat wajah kamu, foto kamu ada di dalam kamar Ken. Kamu Giza, kan?"
Binna baru ingat jika wajah gadis itu pernah dia lihat dalam kamar Ken.
__ADS_1
"Ken." Gadis itu terlihat agak kaget.