
Binna agak takut dengan tatapan suaminya itu. Sepertinya akan ada hal penting yang akan dia sampaikan.
"Binna, kemarin malam aku melihat kamu dengan seorang laki-laki. Aku tidak tau siapa dia, tapi yang jelas, dia telah memasukkan sesuatu ke dalam minuman kamu."
"Apa? Memasukkan sesuatu dalam minumanku?" Binna berpikir, apa Lukas yang melakukannya? Tapi untuk apa? Lukas tidak mungkin sejahat itu?
"Iya, pria itu ingin membawa kamu ke dalam mobilnya, tapi kebetulan dia bertabrakan denganku waktu itu?"
"Apa Kak Devon tau siapa pria itu, wajahnya? Penampilannya?"
"Dia agak pendek, hitam dan memakai baju sweeter berwarna hitam."
Binna menghela napas lega, ternyata dari ciri-cirinya itu bukan Lukas, lalu itu siapa?
"Kak, apa yang dia masukkan ke dalam minumanku? Lalu, kenapa aku bisa di mobil bersama Kak Devon dan tidak memakai apa-apa?" suara Binna tampak lirih.
Kak Devon terdiam sejenak, dia ini rada bingung, mau menjelaskan hal yang terjadi apa tidak. Namun, dia juga ingin mengetahui kenapa Binna bisa sampai di cafe itu."
"Aku sebenarnya tadi mau ke Singapura, tapi entah kenapa perasaanku tidak enak. Aku memutuskan kembali saja. Saat aku di perjalanan aku melihat ke arah ponsel dan aku tau kamu di cafe itu, karena aku diam-diam memasang alat pelacak di ponsel kamu, aku ingin tau kamu ada di mana?"
"Apa? Kak Devon, melacak ponselku? Kenapa Kak Devon lakukan itu?" Kedua alis Binna berkerut.
"Karena aku suami kamu, dan aku ingin tau apa yang sedang disembunyikan oleh istriku, Binna. Kamu adalah tanggung jawabku sekarang, apapun yang terjadi sama kamu, aku nanti yang akan mempertanggung jawabkan itu semua."
"Apa Kak Devon curiga aku berselingkuh?"
"Iya," jawab Devon tegas.
"Aku tidak berselingkuh, aku katakan sekali lagi, aku tidak seperti Kak Devon."
"Aku juga tidak berselingkuh Binna. Aku setia dan sangat mencintai kamu."
Binna melirik ke arah Kak Devon. "Lalu kenapa memasang pelacak itu pada ponselku? Itu berarti Kak tidak percaya denganku."
"Aku sekarang percaya sama kamu, dan karena hal itu aku bisa menyelamatkan kamu dari pria itu. Hal itu juga yang membuat aku percaya kamu tidak selingkuh."
"Maksud, Kakak?"
__ADS_1
"Pria itu memberi obat perangsa pada minuman kamu, dan aku yang menolong kamu dari efek obat itu."
"Memang efeknya apa?" tanya Binna polos, makhlum dia tidak tau obat-obat seperti itu.
"Efeknya, kamu menginginkan seseorang untuk melampiaskan hasrat untuk bercinta dengan lawan jenismu. Jika hal itu tidak terjadi, akan sangat fatal akibatnya," jelas Kak Devon pelan-pelan.
Binna mencoba mencerna apa yang di katakan oleh suaminya. "Jadi, kita kemarin malam sudah melakukan malam pertama?" Binna bertanya pelan-pelan.
Kakak Devon mengangguk, dan seketika tangis Sabinna pecah. Kak Devon hanya melihati Sabinna yang menangis dengan kerasnya.
"Binna." Tangan Kak Devon membelai lembut pipi Sabinna. "Aku minta maaf jika sudah melukai hati kamu, tapi aku harus melakukan hal itu untuk menolong kamu. Kan, lebih baik aku yang melakukannya dari pada pria yang tidak kamu kenal itu."
"Tapi, kita melakukannya kan tidak dengan cara yang baik." Binna yang mukanya sembab terlihat sangat cantik bagi Kak Devon. Muka Lusuh Binna malah membuat aura kecantikan Binna terpancar.
"Apa kamu mau kita melakukannya dengan cara yang baik?" goda Kak Devon.
"Maksud Kakak apa?" Binna malah cemberut.
"Aku mencintai kamu, Binna. Kita lupakan saja semua masalah yang kita hadapi. Kita mulai dari awal, dan percayalah padaku." Kak Devon mengecup bibir Sabinna.
Binna berpikir mungkin benar apa yang di katakan suaminya, dia lebih baik mencoba melupakan semua, dan percaya pada suaminya, apalagi dia dan kak Devon sudah benar-benar menyatu.
"Masih sakit?"
"Tentu saja, Kakak pasti semalan kasar sekali." Binna cemberut.
"Ya sudah, aku akan bantu kamu." Kak Devon beranjak dan dia menggendong Sabinna masuk ke dalam kamar mandi.
"Kakak keluar saja, aku mau mandi sendiri. Aku malu di lihati oleh Kakak."
"Apa? Kamu malu sama aku? Setelah semalam kita sudah melakukannya, dan aku bahkan sudah melihat dan merasakan semuanya."
"Cukup! Aku tidak mau dengar kata-kata Kak Devon yang mesum. Sekarang Kakak keluar saja, nanti aku pasti bisa sendiri."
Devon akhirnya menuruti perintah istrinya itu sambil ngedumel. Kesal saja dengan sikap Binna, kenapa dia masih saja malu dilihat suaminya.
Kak Devon ingat sesuatu, dia sebenarnya masih penasaran kenapa Binna bisa ada di cafe itu, dia ingin sekali mengetahuinya, mungkin dengan begitu dia bisa tau pria yang ingin berbuat jahat dengan Binna.
__ADS_1
"Halo,"
"Halo, Lila. Lila, apq nanti siang kita bisa bertemu?"
"Bisa, memangnya ada apa, Kak?"
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, kamu bisa ke kantorku saja nanti waktu makan siang, dan tolong jangan sampai Binna tau."
Lila sudah tidak enak saja ini hatinya, apa ini tentang Lukas. Binna pasti ketahuan kemarin malam keluar sama Lukas."
"Iya, Kak, nanti aku akan ke kantor Kakak pas jam makan siang."
Setelah itu mereka mengakhiri panggilan teleponnya.
Tidak lama Binna membuka pintu kamar mandi, dia menyembulkan kepalanya keluar pintu. "Kak, apa Kak Devon bisa membantuku mengambilkan handukku?"
"Kamu keluar saja sendiri. Kamu tidak perlu malu denganku, Binna."
Binna cemberut di balik pintu. "Tidak mau! Sini, berikan handukku, Kak," rengeknya.
Kak Devon yang tidak mau Binna kedinginan mengambilkan handuknya, dia berjalan menuju Sabinna memberikan handuknya. Binna melilitkan handuknya pada dadanya, kemudian dia keluar dengan tertatih-tatih.
"Aku sudah bilang, aku akan membantu kamu, ksnapa kamu keras kepala sekali?"
Kak Devon menggendong Sabinna dan mendudukannya di atas ranjang. "Terima kasih."
"Mau aku bantu untuk mengganti baju kamu?"
"Tidak perlu! Kak Devon mandi saja, aku bisa berganti baju sendiri. Lalu aku akan menyiapkan sarapan untuk Kakak."
"Tidak perlu memasak, aku akan mengajak kamu makan pagi di luar saja, kamu jangan capek-capek. Kemarin malam pasti membuat kamu lelah." Setelah mengatakan hal itu, Kak Devon mendaratkan kecupannya pada kening Binna, dan pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Binna melihat suaminya sudah masuk ke dalam kamar mandi dia segera beranjak perlahan menuju lemari bajunya, dia memilih dress panjang di bawah lutut dan lengan 3 per 4 dengan bagian leher berbentuk kotak.
"Tanda merah di leherku di dadaku banyak sekali, di leher juga. Kalau aku pakai baju ini pasti kelihatan," gerutunya sendiri.
Binna tiba-tiba merasa ada yang memperhatikannya. Dia segera menoleh ke belakang, dan benar di sana suaminya bersandar pada pintu kamar mandi dan sedang memperhatikan tubuh polosnya.
__ADS_1
"Kak Devon!" serunya kesal.