Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Teman Baru Diandra


__ADS_3

Uno pulang ke rumah tepat jam dua belas malam, dia melihat kakaknya tidur di sofa di ruang tamu. “Kenapa kak Zia tidur di sini? Apa dia menungguku?” Uno melihat di meja makan juga sudah tersedia berbagai macam


makanan. Uno juga melihat baju tidur yang di pakai oleh kakaknya. Uno hanya terdiam dan mengangkat tubuh kakaknya masuk ke dalam kamar dan dia kembali duduk di sofa ruang tamu. Uno memilih tidur di sofa ruang tamu, dia melonggarkan dasinya dan merebahkan tubuhnya perlahan.


“Kamu sedang apa di sana Diandra?” Uno melihat foto gadis yang sangat dia cintai itu.


Malam itu rencana Zia tidak berjalan dengan baik alias gagal total. Uno tidur sendiri di sofa dengan memeluk foto Diandra yang ada di dalam galeri ponselnya.


Di Kanada yang sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Di mana terlihat seorang wanita cantik sedang duduk di depan


piano besarnya dan di sekitarnya berdiri beberapa anak kecil yang sedang mendengarkan wanita itu memainkan musik pianonya. Anak-anak itu tampak tersenyum senang bahkan ada beberapa yang mendendangkan lagu dengan diiringi musik dari tuts piano. Wajah Wanita itu tampak tersenyum bahagia.


"Miss Diandra, permainan piano Mis Diandra bagus sekali. Padahal mata Miss Diandra tidak bisa melihat?" tanya seorang gadis kecil dengan rambut keriting kecil-kecilnya.


Diandra tersenyum ke arah gadis itu. "Dari kecil miss Diandra sudah sangat menyukai musik dari piano, jadi tidak perlu mata untuk bisa melihat tuts piano mana yang mau miss tekan, semua berasal dari hati. Miss Diandra menggunakan hati miss Diandra untuk memainkan musik ini."


"Jadi apa aku harus tidak bisa melihat dulu agar bisa memaikan piano ini?" celetuknya polos dan berhasil membuat Diandra tersenyum.


"Bukan begitu, Sayang. Kamu hanya perlu belajar, dan meyakinkan hati kamu kalau kamu memang benar-benar serius ingin belajar, dan juga gunakan hati kamu untuk merasakan setiap nada yang ingin kamu ciptakan."


"Oh begitu! Okay! Kalau begitu aku akan belajar dengan baik dan bersungguh-sungguh."


"Sini peluk Miss Diandra." Diandra merentangkan kedua tangannya dan tidak hanya gadis dengan rambut keriting itu yang memeluknya, tapi semua anak-anak di sana memeluk Diandra.


Pemandangan indah itu dilihat oleh seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempat Diandra bermain piano. Setelah anak-anak memeluk Diandra, mereka semua kembali ke dalam kelas mereka masing-masing karena pelajaran bermain piano sudah selesai.


"Kamu memang sangat cocok jika berhubungan dengan anak-anak itu."


"Neil, kamu kah?" Diandra berdiri dan meraba-raba mencari seseorang yang berbicara dengannya.


"Iya, ini aku, Diandra." Pria yang dipanggil Neil memegang tangan Diandra.


"Kamu kenapa ada di sini? Apa kelas kamu sudah selesai?"


"Sudah, hari ini aku tidak memberi pelajaran melukis yang sangat sulit. Mereka boleh membuat lukisan dengan tema bebas seperti yang mereka inginkan."

__ADS_1


"Pasti lukisan mereka bagus-bagus. Andai aku bisa melihat pasti akan sangat menyenangkan." Diandra tersenyum manis.


"Kenapa kamu tidak melakukan transplantasi mata lagi, Diandra?"


Diandra langsung terdiam mendengar pertanyaan Neil temannya sesama guru yang juga mengajar di sekolah di mana Diandra mengajar seni musik dan Neil mengajar seni lukis. Mereka baru berkenalan beberapa hari di sana dan Neil ternyata bisa sangat baik berteman dengan Diandra


"Transplantasi mata?"


"Iya, transplantasi mata. Ayah kamu pasti mampu untuk membiayai transplantasi mata kamu, hanya butuh mencari donor yang cocok."


"Aku dan ayahku sudah berkali-kali melakukan hal itu, hanya saja selalu tidak cocok."


"Pasti nanti ada yang cocok buat kamu Diandra."


"Aku tidak mau berharap terlalu banyak lagi mengenai hal itu."


"Kenapa? Diandra yang aku kenal beberapa hari ini adalah sosok yang sangat kuat dan tangguh. Apa karena seseorang?"


Diandra terdiam, sebenarnya dia sudah tidak ingin melihat lagi karena semangat untuk melihatnya sudah pupus saat orang yang dia cintai dan dia ingin hidup bersamanya sudah tidak akan mungkin dia miliki lagi. Dulu Diandra ingin melihat agar bisa berumah tangga bersama Uno, dia tidak ingin menyusahkan suaminya kelak, bisa mengurus segala keperluan Uno dengan sangat baik.


"Tidak apa-apa, aku nikmati saja hidupku seperti ini. Aku sudah sangat bahagia."


"Aku mau pulang saja. Aku mau ke mana lagi. Lagian aku ingin menyelesaikan membaca bukuku."


"Bagaimana kalau kamu ikut aku?"


"Ikut ke mana?"


"Ke ruang melukisku."


"Untuk apa?"


"Kamu mau tidak, aku jadikan model untuk lukisan aku yang nanti akan aku pamerkan di galeriku?"


"Model lukisan?"

__ADS_1


"Iya, beberapa bulan lagi aku akan menggelar pameran lukisan, dan aku ingin mengangkat tema sosok wanita yang tangguh. Wanita yang memiliki kekurangan serta kelebihan yang luar biasa. Kamu bisa menjadi inspirasi yang baik nantinya."


"Apa aku pantas, Neil?"


"Tentu saja kamu pantas, aku seorang pelukis yang bisa melihat hal itu, Diandra. Nanti pada saat pameran lukisan aku di gelar, kamu akan aku undang untuk menghadirinya."


"Tapi aku juga tidak akan bisa melihat hasil karya lukisan kamu."


"Aku akan ceritakan sosok kamu secara dari sisi mata yang aku lihat. Sekarang aku hanya ingin meminta persetujuan kamu saja."


"Baiklah aku mau! Tapi jangan yang aneh-aneh ya?"


"Ahahahha! Tidak mungkin Diandra. Kamu tenang saja."


Lalu mereka berdua pergi ke ruang lukis di mana Neil bisa mengajar anak-anak, di sana Neil mulai memasang canvas yang berukuran sedang dan mulai menyiapkan alat-alat melukisnya.


Diandra duduk di sebuh kursi kayu tepat di depan Neil. Diandra memasang senyum manisnya. Neil tampak terkesima melihat wajah polos dan lembut mirip Diandra.


"Sempurna," ucapnya lirih.


Neil tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melukis wajah Diandra. Setelah melukis Diandra, Neil mengajak Diandra minum kopi di cafe dekat sekolah mereka mengajar.


Diandra duduk di luar cafe dengan Neil sambil menikmati minumannya. "Neil, apa kamu liburan sekolah nanti tidak ingin pulang menemui keluarga kamu di Sydney?"


"Aku mungkin tidak akan pulang, aku mau menyiapkan semua untuk pameran lukisanku. Kamu sendiri?"


"Tepat liburan sekolah anak-anak nanti akan ada pesta untuk pernikahan ayahku dan mama baruku, Neil."


"Oh ya? Jadi ayah kamu akan menikah?"


"Iya, aku sangat senang sekali karena ayahku akan hidup bahagia bersama dengan wanita yang sangat dia cintai setelah kepergian Ibuku."


"Huft! Bahagia sekali jika kita bisa mencintai lagi orang lain," ucapnya lirih.


"Maksud kamu apa?"

__ADS_1


"Sejak kematian istriku. Aku sudah tidak bisa memikirkan wanita lainnya, kenangan dengan istriku benar-benar tidak bisa aku lupakan. Dia sosok wanita yang sangat aku cintai dan aku tidak akan bisa melupakan dia walaupun dia sudah tiada," ucap Neil lirih terdengar sedih.


"


__ADS_2