
Muka Binna ditekuk kesal, entah kenapa setiap bicara dengan pria ini dia begitu kesal, kata-kata Devon seolah selalu bisa mematahkan apa yang Binna ucapkan.
"Lepaskan tanganku!" Binna yang baru saja sadar jika tangannya dari tadi tidak dilepaskan oleh Devon.
Devon langsung melepaskan tangannya, karena dia melihat ada mamanya ada ibunya Binna berjalan menuju mereka. "Kalian sudah berpamitan? Binna. Keluarga tante Tia tidak jadi menginap karena neneknya Devon ingin mereka tinggal di sana dalam beberapa hari."
"Bagus itu, Bu," celetuk Binna, dan seketika Arana melihat ke arah putrinya dengan tatapan aneh. "Em ... maksud aku, orang tua kan harus lebih diutamakan, nenek dan kakek Kak Devon kan pasti kangen sama Kak Devon." Binna nyengir aneh.
Devon yang melihatnya tersenyum gemas sebenarnya. "Tante tau maksud kamu, Binna. Tapi bulan depan kalau urusan papanya Devon sudah selesai dan Devon sudah mengurus kepindahannya di sini, kalian akan bisa bertemu." Tia tersenyum, tapi Binna dalam hati dongkol, kepindahan? dia akan pindah di sini benaran? Oh tidak!
"Kalau begitu kami pulang dulu ya, Sabinna." Keluarga Tia izin pulang. Arana dan Juna akhirnya membawa Sabinna ke kamarnya, Juna menggendong putirnya itu dan Sabinna mengikuti dari belakang.
"Nak, bagaimana menurut kamu tentang Devon?" tanya Arana.
"Biasa saja, Bu. Ibu apa lusa Ibu jadi bertemu dengan Lukas? aku sudah bilang sama Lukas kalau Ibu mau bertemu dengan dia. Dia mau datang ke sini!" seru Binna senang.
"Ibu kira kamu sudah lupa sama si Lukas itu setelah bertemu Devon," ucap Arana malas.
Juna yang sudah sampai di depan kamar Binna, Juna meletakkan Binna di atas ranjangnya dan menyelimuti putrinya itu. "Sayang, ayah cuma mau bilang, bukannya ayah dan ibu tidak memberi kamu kesempatan untuk memilih siapa orang yang akan bersamamu kelak, tapi ayah percaya sama ibumu, dan feeling seorang ibu itu pasti benar. Ibumu yakin dengan Devon, jika Devon akan bisa membahagiakan kamu."
"Tapi Lukas juga baik, Yah. Dan piihan aku tidak akan salah."
"Kamu tau, Binna. Dulu ibu juga mencintai seseorang, dan ibu yakin dia pria yang baik buat ibu."
__ADS_1
"Hem ...!" Juna malah berdehem dan melihat Arana. Wkakaka! masih saja Juna cemburuan.
"Aku hanya mau membagi pengalamanku ke putri kita." Arana mengusap lembut pipi Juna. "Tapi apa yang ibu dapat, pria itu ternyata tidak baik buat ibu, padahal nenek kamu sudah mengatakan jika beliau tidak menyukai kekaasih ibu, sampai akhirnya ayah kamu datang, ibu malah tidak suka sama ayah kamu, karena ibu sudah punya kekasih, tapi ayah kamu yang ternyata juga sudah tau siapa kekasih ibu mencoba merebut ibu dari kekasih ibu, ayah kamu ternyata ingin melindungi ibu dari kekasih ibu yang tidak baik itu. Sampai akhirnya ibu jatuh cinta sama ayah kamu, bahkan sangat mencintai ayah kamu."
Binna mendengarkan dengan fokus cerita ibunya. "Bu, tapi Lukas memang anak yang baik, aku mohon, ibu mau bertemu dengan dia dulu, aku berjanji, jika lusa Lukas tidak datang menemui Ibu. Aku akan mau menikah dengan Devon, setelah aku lulus sekolah." Binna mencoba meyakinkan orang tuanya. Dan Akhirnya Arana menyanggupinya.
"Pegang janji kamu ya, Sayang!" tanya Arana, dan Binna mengangguk yakin.
Di dalam kamar Zia, Uno yang memang dari tadi ada di sana. Uno sedang bertanya apa benar kakaknya Zia pernah mendatangi Cerry dan menyuruh Cerry untuk memutuskan hubungan dengan Uno.
"Iya, memang kakak menyuruhnya, kakak menyanyangi kamu Uno, dan kakak tidak mau kamu di jebak oleh gadis itu nantinya."
"Tapi kak Zia kan tau,aku tidak suka jika urusanku dengan para gadisku itu di campuri oleh siapapun."
"Huft! Cerry memang pacar aku yang paling lama, aku sendiri tidak tau kenapa? mungkin dia memang satu-satunya gadis yang sangat penurut bagiku, dia juga gadis yang sangat baik dan tidak manja seperti lainnya, tapi jujur saja aku tidak merasakan hal luar biasa saat bersamanya." Uno malah berbaring dengan terlentang di kasur Zia. Zia ikut berbaring dengan posisi tengkurap di sebelah Uno.
"Lalu kenapa tidak kamu putuskan saja dia."
"Dia tadi meyakinkan aku jika dia tidak berselingkuh, kak. Mungkin kakak salah melihatnya, aku sudah memutuskan dia, tapi tadi dia datang menemuiku dan ingin memperbaiki hubungan denganku, aku akan memikirkannya lagi."
"Kamu mau balikan sama dia? sebaiknya kamu pikirkan lagi, Uno. Suatu saat dia akan menjebakmu, dan benar- benar akan membuat kamu terikat dengannya."
"Aku yakin dia bukan gadis yang seperti itu, Kak. Ya sudah aku mau turun dulu, sudah malam kakak tidur saja. Selamat malam, Kak." Uno beranjak dan pergi dari kamar Zia.
__ADS_1
Zia menggeleng kepalanya pelan "Kamu belum kenal siapa gadis itu, Uno," Zia bermonolog sendiri.
Keesokan harinya. Binna yang kakinya benar-benar sudah sehat. Dia hari ini berangkat ke sekolahan diantar oleh supir. Binna ada ulangan lagi hari ini dan nanti pulang sekolah dia izin tidak mengikuti latihan dulu, tapi dia ingin melihat teman-temannya latihan.
"Lukas, kamu di sini?" wajah Binna tampak sumringah melihat Lukas.
"Iya, aku belum mau pulang, kamu sendiri kenapa tidak latihan, kenapa malah duduk di sini?"
"Kakiku sedang sakit, jadi aku tidak ikut latihan dulu."
"Sakit? sakit kenapa? kamu habis jatuh?" Muka Lukas cemas.
"Iya, kemarin akubterpeleset, tapi kata tu--. Em ... maksud aku dokter, sudah tidak apa-apa, hanya saja dalam beberapa hari aku tidak dibolehkan untuk menggunakan kakiku untuk kegiatan yang berat, salah satunya menari. Jadi aku menurut saja kalau begitu." Binna tersenyum.
"Ya sudah, jaga baik-baik diri kamu, Binna. Aku tidak mau kamu sampai kenapa-napa." Lukas memeluk Sabinna.
"Lukas, besok ibuku menunggu kamu di rumah, apa kamu bisa datang?"
"Iya, aku akan datang." Lukas tersenyum.
Hari itu setelah selesai melihat teman-temannya latihan, Binna pulang bersama supirnya. Di rumah hari-hari berjalan seperti biasa, Uno dan Cerry akhirnya kembali berpacaran, Cerry sangat senang bisa kembali menjalin hubungan dengan Uno yang sangat dia cintai.
Sampai hari yang di tunggu Sabinna datang, malam itu kedua orang tua Binna sedang berada di ruang tamu menunggu kedatangan Lukas. Binna sudah tampil sangat cantik dengan dress berwarna salem, warna yang sangat di sukai oleh Lukas.
__ADS_1
Uno sedang tidak ada di rumah, dia kencan. Dan Zia, dia sedang berada di dalam kamarnya sedang bermain dengan ponselnya.