Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Hari Ini


__ADS_3

Tommy mentap Uno dengan aneh. Uno merasa jika pamannya ini pasti berpikiran yang tidak-tidak, atau bahkan curiga.


"Aku mau mengantar Diandra ke kamarnya, karena sekalian aku mau ke kamarku, Paman Tommy."


"Ya sudah kalau begitu. Diandra, kamu istirahatlah. Besok pagi ayah akan membawa kamu ke rumah sakit untuk memeriksa lengkap kesehatan kamu."


"Ayah, aku tidak apa-apa, besok tidak perlu mengantar aku ke rumah sakit."


"Jangan membantah! Ayah ingin memastikan keadaan kamu baik-baik saja."


"Em ... Tom, apa besok aku boleh ikut menemani Diandra ke rumah sakit?" tanya Mara melihat Tommy dengan sayu.


Tommy terlihat sangat senang. Dia menganggukkan kepalanya. "Iya, besok kamu boleh ikut mengantar."


"Ya sudah, aku dan mama mau pulang dulu, kamu istirahatlah, Diandra pasti baik-baik saja." Mara dan mamanya berpamitan pulang dan Uno menggendong Diandra naik ke lantai atas kamarnya.


"Bu, aku akan membawakan obat untuk Diandra, supaya dia bisa minum obat dan bersitirahat," ucap Zia.


"Iya, Zia. Terima kasih."


"Zia, besok kamu ada kuliah?" tanya Juna sebelum Zia pergi ke lantai atas.


"Aku tidak ada, Yah. Aku besok mau keluar dengan Dion untuk membahas skripsiku. Memangnya ada apa?"


"Dion? Dion bukannya pria yang ayah temui di acara kampus waktu itu? Kamu ada hubungan dengan Dion?"


"Aku hanya berteman, Yah. Dia sangat baik mau membantu aku menyelesaikan skripsi aku, dia pria yang pandai."


Arana dan Juna saling melihat, mereka seolah teringat dulu Arana juga di ajari Juna menyelesaikan skripsinya, dan akhirnya mereka menikah. Siapa tau Zia juga begitu.


"Ayah ingat agar kamu hati-hati menjaga diri, apalagi kamu baru mengenalnya, walaupun dia tampak baik, Zia."


"Iya, Yah, Ayah tenang saja, aku bisa menjaga diriku." Juna ini belum tau saja kalau anaknya ini diam-diam menakutkan, mukanya saja yang terlihat baik.


"Ayah besok sebenarnya ingin bicara berdua sama kamu, Zia. Soal, hal yang kamu katakan dengan ibumu."


"Aku bisa bicara dengan ayah, besok pagi saja aku akan menemui ayah."

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu."


Zia naik ke lantai atas. Arana dan Juna saling memandang. "Juna, apa akan kamu katakan siapa ibu dia sebenarnya?"


"Dia sudah besar dan berhak tau semuanya, Arana, dia juga berhak tau betapa baiknya ibu Arananya ini." Juna memeluk Arana.


"Ehem ... em! Kamar kalian kosong, kenapa tidak di kamar saja?" celetuk Tommy yang baru masuk ke ruang tamu setelah mengantar Mara dan mamanya di luar.


"Kenapa? Kamu iri? Makannya cepat menikah lagi, suapaya kamu tidak kesepian."


"Lihat saja, sebentar lagi aku akan menikah, Juna."


"Dengan siapa, Tom? Nina atau Mara?" tanya Arana yang tubuhnya di peluk oleh Juna.


"Tentu saja dengan wanita yang aku cintai, kalau dia tidak mau aku culik saja dia dan aku bawa langsung ke penghulu," candanya.


"Ahahaha! Kasihan sekali kamu kalau sampai melakukan hal itu. Kamu menikah saja dengan Wanita yang mencintai kamu. Nina, aku lihat kamu dengan Nina tampak dekat."


"Iya, aku dan Nina memang dekat lagi, dia sangat baik, tapi aku tidak memiliki perasaan apa-apa sama dia." Tommy berkacak pinggang dengan tersenyum meratapi nasibnya.


Tommy tersenyum. "Aku dan Nina tidak ada apa-apa, Nina hanya membantuku untuk membuat Mara cemburu."


"Apa? Jahat sekali kamu memanfaatkan Nina, Tom!" Muka Arana kesal.


"Bukan aku yang memanfaatkan Nina, Arana. Nina sendiri yang membuat ide gila ini. Nina bahkan tidak segan bersikap romantis denganku di hadapan Mara. Aku juga ingin melihat apa Mara cemburu, jika dia cemburu, itu berarti membohongi dirinya sendiri."


"Ya! Semoga sukses dengan rencana kamu." Juna melihat pada Arana dan tidak sungkan mencium bibir Arana tepat di depan Tommy."


"Kalian berdua menyebalkan!" Tommy berjalan pergi dari sana. Arana dan Juna malah terkekeh melihat Tommy.


Di kamarnya, Diandra sudah diberi obat oleh Zia, obat dari dokter pribadi tadi. "Kamu sebaiknya istirahat dulu, Diandra."


"Terima kasih, Kak Zia."


"Kamu benaran tidak merasakan sakit pada tubuh kamu, Diandra?"


"Aku tidak apa-apa, Uno. Kalian istirahatlah, kalian pasti capek seharian ini. Aku juga mau istirahat."

__ADS_1


"Iya, Uno. Sebaiknya kita pergi saja kembali ke kamar. Biar Diandra bisa istirahat." Zia memeluk lengan tangan Uno.


"Iya, Kak. Diandra, kita mau keluar dulu, kamu tiduelrlah."


Zia dan Uno keluar dari kamar Diandra. "Uno, kakak mau ke kamar dulu. Kamu kenapa mukanya sedih begitu?"


"Aku tidak apa-apa, Kak. Kakak pergi saja ke kamar Kak Zia. Aku mau mengambil sesuatu di bawah."


"Ya sudah, Kak pergi dulu." Zia berjalan naik ke lantai atas. Uno yang melihat kakaknya sudah naik ke lantai atas, perlahan-lahan masuk ke dalam kamar Diandra.


Zia yang melihat hal itu, mukanya tampak sangat marah. Dia meremasp pegangan anak tangga dengan sangat kuat seolah ingin menghancurkannya.


"Ini tidak bisa di biarkan lama-lama, aku tidak mau kalau sampai Uno di miliki oleh gadis buta itu. Aku tidak mau nasibku seperti si bodoh Karla. Lihat saja nanti gadis buta."


Uno yang berada di dalam kamar Diandra memandangi Diandra yang sedang tidur. Uno berbaring perlahan di sebelah Diandra. Diandra yang merasa ada pergerakan di sampingnya, dia langsung terbangun.


"Diandra, kamu jangan takut, ini aku Uno." Uno malah memeluk Diandra.


"Uno! Kenapa kamu di sini? Bagaimana jika ada yang tau?"


"Tidak akan ada yang tau, aku sudah mengunci pintunya, dan besok sebelum ada yang masuk ke kamar kamu, aku bisa berpura-pura mau membantu kamu, atau aku bersembunyi."


Diandra tersenyum, dia malah membalas pelukan Uno. Diandra menyandarkan kepalanya pada dada Uno. "Nyaman sekali," ucapnya.


"Aku sebenarnya khawatir sama kamu, Sayang. Aku benaran shock melihat kamu tadi jatuh pingsan seperti itu."


"Aku tidak apa-apa, Uno. Kamu jangan khawatir."


Uno mengecup pucuk kepala Diandra dengan lembut. "Kamu tidurlah, aku akan menjaga kamu di sini, dan jika kamu memerlukan sesuatu, aku akan membantu kamu."


"Terima kasih, Sayang." Diandra memejamkan matanya.


Uno memeluk Diandra semakin erat, dia tidak tidur. Uno malah memikirkan tentang kejadian yang menimpa Diandra.


"Apa memang Diandra jatuh sendiria? Tapi jika ada yang mendorong, tapi siapa yang mendorong? Di sini tidak ada yang membenci Diandra?"


Mobil Devon sudah sampai di parkiran apartemen milik Devon. Binna yang dari tadi duduk diam tidak mau melihat sama sekali ke arah Devon.

__ADS_1


__ADS_2