
Devon dari seberang telepon menunggu suara Binna, kenapa sekarang Binna terdiam. "Binna, apa kamu masih di sana?" tanya kak Devon seketika.
"Iya, memangnya ada apa kak Devon menghubungiku?"
"Aku hanya mau bicara sama kamu, kamu sedang apa?"
"Aku sedang latihan menari."
"Apa aku mengganggu kamu?"
"Iya, kakak mengganggu aku, kenapa pakai telepon malam-malam begini?"
"Aku sedang tidak sibuk, makannya aku menghubungi kamu, kalau kamu terganggu, ya sudah kapan-kapan saja aku menghubungi kamu."
"Kak Devon," sahut Binna cepat.
"Ada apa?"
"Kenapa kakak tidak berpamitan sama aku malam itu, kenapa tiba-tiba pergi? Itu tidak sopan."
"Aku lupa, dan aku tidak mau membangunkan kamu, aku minta maaf, Ya? Apa kamu mengharapkan aku berpamitan sama kamu, Binna?"
__ADS_1
"Tidak juga." Binna manyun di tempatnya.
"Tenang saja, aku tidak akan lama akan kembali ke sana, dan segera kita akan menikah. Kamu kan tinggal menunggu kelulusan, dan aku akan segera menikahi kamu."
Seketika Sabinna terdiam. " Kalau kakak lama ke sini juga tidak apa-apa, akan lebih baik."
"Sayang sekali, harapan kamu itu tidak akan terjadi, karena secepatnya aku akan datang untuk Sabinnaku."
Entah kenapa dalam hati Sabinna seolah ada desiran yang menyenangkan. "Ya sudah, kamu pasti mau istirahat, selamat tidur ya, Binna."
"Iya." Binna dengan cepat menutup ponselnya, dan dia tersenyum.
"Kenapa salah lagi!" ujarnya kesal. Dia meremas-remas kertas itu dan membuang seenaknya.
"Selamat pagi, Mara," sapa seseorang yang berdiri tepat di depan mejanya.
Wanita itu mendongak melihat seseorang yang berdiri tepat di depannya, mata cantiknya membulat melihat siapa yang ada di depannya.
"To-Tommy." Mara Berdiri dari tempatnya.
"Tante Mara." Tangan Diandra meraba mencari sosok yang juga sangat dirindukan olehnya. Saat menyentuh tangannya, Mara dengan esmosi memeluknya. "Tante, aku sangat merindukan Tante Mara."
__ADS_1
"Tante juga sangat merindukan kamu, Diandra."
"Kalau Tante merindukan aku, kenapa Tante tidak datang pada saat aku mengikuti kompetisi piano itu?"
Mata Mara langsung melirik ke arah Tommy, dan Tommy juga sedang memandangnya. "Maaf, tapi tante sangat sibuk waktu itu, Diandra."
"Apa tante sedang marah sama ayahku? Katakan saja, apa yang sudah ayah lakukan sama Tante? Biar aku nanti yang memarahi ayah nantinya."
Wanita cantik itu tersenyum pada Diandra. "Tidak ada yang ayah kamu lakukan sama Tante. Kalian kenapa tiba-tiba ada di sini?"
"Kami akan tinggal beberapa hari di rumah Harajuna, Diandra ingin bertemu dengan Arana dan anak-anaknya. Dan aku di sini juga ada urusan yang belum aku selesaikan." Tommy pelan-pelan menautkan jarinya pada jari Mara.
Mara tampak sangat bingung, dia ingin menarik tanganya, tapi Tommy lebih erat memegang jari Mara. "Apa kita bisa bicara?" Bisik Tommy.
"Kalau kalian mau bicara. Aku akan jalan-jalan sendiri melihat butik Tante." Diandra tersenyum dan meluruskan tongkatnya dia berjalan pergi dari sana."
Tinggal Tommy dan Mara yang saling melihat. Mara tampak ingin membuang muka pada Tommy, tapi dengan cepat Tommy menarik tangan Mara dan mendekatkan tubuh Mara me arahnya.
"Apa kamu tidak merindukan aku, Mara?" Bisik Tommy. Kedua pasang mata itu saling menatap lekat, bibir Mara rasanya keluh, dia benar-benar bingung dengan sosok pria yang ada di depannya. Dia sebenarnya juga sangat merindukan pria itu, tapi---.
Maaf hanya bisa sebab, Thor benaran gak kuat nulis banyak, jaga kesehatan ya, Kakak
__ADS_1