Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Dasar, Uno!


__ADS_3

Malam ini keluarga Harajuna Atmaja berkumpul di meja makan, dia sana ada mama Mitha, dan ayah Hardy. Arana dan Juna juga ada di sana serta kedua anak mereka, Uno dan Binna.


Kalian pasti tanya, di mana keberadaan kakek Bisma. Kakek Bisma sudah sangat tua, beliau diajak tinggal oleh Bagas-- ayahnya Juna, mereka tinggal di luar negeri, dan kadang satu bulan sekali Juna dan Arana berkunjung ke sana menegok kakek Bisma dan bertemu dengan ayah dan mamanya.


"Mama senang sekali bisa berkumpul seperti ini sama kalian, sudah lama ya kita tidak berkumpul seperti ini, Arana?"


"Iya, Ma. Kebetulan sekali pekerjaan Juna juga tidak terlalu sibuk jadi aku bisa mengajak kita makan malam bersama seperti ini," ucap wanita cantik itu.


"Oh ya, Sayang. Apa besok keluarga Tia jadi datang ke sini?" tanya mama Mitha.


"Iya, Ma. Besok aku akan mengundang mereka makan malam, aku sangat rindu sama Tia. Dia juga akan datang bersama suami dan putranya. Mereka akan tinggal di rumahnya dalam beberapa hari."


"Binna, kamu akan bertemu dengan cowok yang akan menjadi suami kamu, aku jadi penasaran bagaimana wajah pria itu? kalau dia gendut dan ada brewoknya bagaimana? pasti lucu. Ahahahah!" Uno malah tertawa.


"Kak Uno tidak lucu!" Sabinna mengerucutkan bibirnya kesal.


Juna melirik ke arah ke dua anaknya itu, dan dia tau jika Uno putranya itu sedang menggoda adiknya Sabinna. "Uno, kapan kamu mau melihat ke perusahaan ayah?" celetuk Juna dan seketika membuat Uno terbatuk-batuk kaget.


"Hati-hati, Uno." Zia yang duduk di samping Uno langsung memberikan minuman untuk Uno yang terbatuk.


"Ayah sudah menunggu kamu untuk datang ke perusahaan kita, apa kamu tidak mau melihat perusahaan dan belajar menjalankan bisnis ayah?"


Uno hanya terdiam, di bingung mau menjawab apa? dia masih belum tertarik untuk bekerja di perusahaan ayahnya, dia masih ingin bersenang-senang menikmati masa kuliahnya. "Aku kan masih kuliah, Yah. Apa tidak bisa menunggu aku lulus dulu?"


"Kamu kan bisa bekerja sambil kuliah, Nak. Kalau kamu tidak belajar dari sekarang nanti kamu akan bingung untuk meneruskan perusahaan ayah, kamu satu-satunya putra ayah yang bisa ayah andalkan untuk meneruskan bisnis ayah, Uno."


"Iya, Yah aku mengerti," ucapnya pelan.


"Kak Uno itu masih suka bersenang-senang, Yah. Nikahkan saja dia sama seorang cewek yang bisa membuat dia menurut," oceh Binna.

__ADS_1


"Ank bandel, jangan ikut-ikut pembicaraan pria dewasa, kamu masih kecil, lagian tidak akan wanita yang bisa membuatku menurut kecuali Ibu. Aku juga masih muda, Yah. Aku masih ingin menikmati kuliahku, aku janji kalau aku sudah menyelesaikan kuliahku, aku akan fokus dengan perusahaan kita."


"Aku tunggu, Nak," ucap Juna singkat.


Tidak lama terdengar suara bel pintu utama, salah satu pelayan di sana membukanya dan ada seseorang yang mengirim barang, pelayan itu membawa masuk barang yang di kirim oleh seseorang.


"Maaf, Nyonya Arana. Ini ada paket untuk Anda," ucap pelayan itu sambil membawa sebuah paper bag berwarna coklat.


"Paket untukku? siapa yang mengirimkannya?" Arana menerimanya dan mengucapkan terima kasih pada pelayan itu.


Arana membukanya dan dia sedikit terkejut mendapat bingkisan sebuah dompet yang jika di lihat dari merknya, ini termasuk dompet yang mahal. "Dari siapa ini? kenapa memberikan aku dompet?" Arana mencari siapa tau ada tulisan nama pengirimnya.


"Ibu punya penggemar rahasia, Ya?" celetuk putra usilnya itu.


"Mau mati dia," ucap Juna singkat sambil melirik pada Uno. Uno malah terkekeh melihat sikap dingin ayahnya.


'Selamat Ulang Tahun untuk tante Arana yang sangat cantik. Maaf aku tidak bisa datang, semoga tante senang akan hadiah yang aku berikan. Salam sayang, Cerry.'


"Oh my God!" Uno mengusap mukanya kasar. Gadis itu ternyata percaya dengan apa yang Uno katakan di kampus, dan mengira Arana memang hari ini ulang tahun dan dia mengirimkan hadiah untukny.


"Uno, apa kamu bilang pada kekasih kamu kalau ibu hari ini ulang tahun?" tatap Arana pada putranya itu.


"Maaf, Bu. Aku sebenarnyan tidak bermaksud membohongi dia, habisnya dia memaksa aku untuk ke rumahnya, aku bilang saja kalau hari ini ibuku ulang tahun dan aku akan merayakan dengan keluargaku."


"Hem ...!" Arana melihat anaknya dengan tatapan kesal.


"Jangan melihatku seperti itu, Ibu. Aku akan kembalikan hadiah itu."


"Kakak kan sudah bilang, kamu putuskan saja gadis menyusahkan itu, Uno."

__ADS_1


"Sepertinya memang aku harus memutuskan dia, setelah aku mengembalikan hadiah itu."


"Bagus! itu baru Uno ku!" seru Zia tampak bahagia.


Sabinna malah aneh melihat ke arah kakaknya Zia, dan melihat kesal pada kakaknya Uno. Dia seenak jidatnya main putusin anak orang. "Dasar kakak Uno yang tidak punya perasaan," gerutunya pelan.


Makan malam dilanjutkan kembali, setelah selesai makan malam, Arana dan Juna duduk di ruang keluarga untuk berbincang, sedangkan Binna ke tempat favorite milik dia yaitu tempat di mana dia bisa berlatih menari.


"Huft! capek sekali." Uno membaringkan tubuhnya di atas ranjang miliknya, dia juga meletakkan hadiah dompet pemberian Cerry, besok dia akan memberikan dompet itu pada Cerry, dan mungkin dia akan memutuskan Cerry hari itu juga.


Uno kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri di depan laci di samping ranjangnya, dia sepertinya sedang mencari sesuatu. "Kotak yang berisi hadiah dari para gadis itu di mana? aku mau menyimpan kalung pemberian Cerry, tapi kotak milikku kenapa tidak ada.


Uno mencari kotak berukuran sedang berwarna Hitam yang dia gunakan untuk menyimpan benda-benda pemberian para kekasihnya, Uno akan meneriman hadiah pemberian kekkasihnya saat mereka masih pacaran, asalkan itu pemberian dengan harga yang tidak mahal, Uno malah tidak suka jika mereka memberi Uno barang-barang mahal.


Uno ini sebenarnya sangat baik hati, baik hati pada setiap gadis. Wkakakaka.


Saat mencari kotak miliknya dia tidak sengaja menemukan foto masa kecilnya, saat mereka masih sekolah taman kanak-kanak.


"Inikan si gadis kecil yang sok berani waktu itu, dia sekarang pasti sudah dewasa, bagaimana wajahnya Ya?" Uno tersenyum sendiri memandangi foto yang ada di tangannya.


"Uno!" Tiba-tiba Zia menyelonong masuk, dan seketika membuat Uno terkejut.


"Kakak! apa tidak bisa mengetuk pintu dulu? bagaimana kalau aku sedang berganti baju!" Uno terlihat kesal.


"Memangnya kenapa? kamu malu kalau dilihat kakak kamu sendiri?" Zia malah tersenyum lebar. "Ini kakak bawakan kamu coklat hangat, kamu pasti suka." Zia menyerahkan secangkir coklat hangat pada Uno.


"Terima kasih, Kak." Uno menerimanya dan kemudian meminumnya.


"Kamu sedang apa?" Zia duduk di tepi ranjang Uno, dan dia melihat ada foto tergeletak di sana. "Inikah foto kita dan Diandra, anak om Tommy yang tidak bisa melihat."

__ADS_1


In Sha Allah besok ada visulanya si cowok yang mau dijodohkan sama Binna


__ADS_2