
Binna dan suaminya pulang dari belanja. Mereka membeli oleh-oleh untuk nanti di bawa pulang ke Indonesia.
Binna juga membeli beberapa baju, topi, dan tas. Suami Binna sangat memanjakan istrinya itu. "Capek sekali, Kak." Binna berbaring di atas ranjangnya dengan tangan merentang bebas.
"Aku juga capek, tapi malam yang kamu iginkan akan segera datang." Kak Devon melepaskan bajunya, dan celananya. Tubuhnya hanya menyisahkan celana boxernya.
"Kak Devon mau berendam sekarang?"
"Kamu tunggu saja di sini, dan bersiap-siaplah, aku akan menyiapkan air hangat dan menyalahkan aroma terapi."
Kak Devon masuk ke dalam kamar mandi. Binna tampak tersenyum melihat suaminya itu. "Dia tidak mengenal lelah kalau soal begini."
Tidak lama ponsel Sabinna berdering. Dan itu dari Lukas. "Lukas."
Binna tampak terdiam, dia juga bingung. Binna tidak mengangkat panggilan Lukas, dia tidak mau merusak mood suaminya dengan menerima panggilan dari Lukas.
"Sebaiknya aku kecilkan saja volumenya, atau aku mengaturnya hening saja."
Binna akhirnya mengatur panggilannya ke mode hening. Dia kemudian meletakkan ponselnya, dan membiarkan panggilan dari Lukas.
Tidak lama gantian ponsel suaminya yang berdering. Binna tampak menyipitkan kedua matanya melihat nama siapa yang ada di sana.
"Wanita pengganggu! Lama-lama aku suruh Kak Devon memblokir namanya." Binna mematikan panggilannya.
Tidak lama terdengar suara notif pada pesan masuk. Binna membukanya dan melihat pesan dari Karla, dia mengirimkan foto pada suami Sabinna.
"Menjijikan sekali! Apa maksudnya mengirim foto ini?"
Binna tampak kesal melihat foto Karla dengan memakai bikini berwarna hijau muda. Di juga menuliskan sesuatu.
"Hai, Devon. Aku sedang berlibur dengan teman-teman kita lainnya. Bagaimana menurut kamu dengan baju bikini baruku? Kamu selalu memujiku cocok sekali setiap memakai bikini
"
"Apa? Kak Devon selalu memuji saat Karla memakai bikini? Pantas saja suamiku itu tidak mengizinkan aku memakai bikini. Apa menurut dia aku tidak pantas?"
Pintu kamar mandi dibuka dan pria dengan tubuh kotak-kotaknya itu berjalan keluar. Matanya menangkap hal tidak enak dari raut wajah istrinya yang sedang memegang ponselnya.
"Kamu kenapa masih belum bersiap-siap? Itu kenapa muka cantik kamu tidak enak dilihat begitu?"
__ADS_1
"Ini, aku sedang membaca pesan dari penggemar gila Kak Devon! serunya ketus.
"Penggemar gila? Siapa?" Kak Devon mengambil ponsel dari tangan Sabinna, pria itu tampak kesal melihat pesan yang dikirim oleh Karla. "Aku blokir saja nomornya biar dia tidak mengganggu kita lagi."
"Jangan, Kak, biarkan saja, aku akan membalasnya nanti."
"Membalas bagaimana?" Kak Devon tampak aneh melihat Binna yang mengambil ponsel Kak Devon dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Kak Devon! kenapa kamar mandi kita jadi romantis begini?" Binna agak kaget melihat kamar mandinya banyak sekali lilin dan kelopak bunga mawar yang di sebarkan ke seluruh tempat.
"Aku ingin malam ini akan terasa indah untuk kita."
"Kak Devon ternyata bisa romantis."
"Tentu saja." Tangan kekar suminya itu mulai membuka dress Sabinna, dan hanya menyisahkan pakai dalam yang di kenakan oleh Sabinna.
Mereka berdua masuk ke dalam bathub dengan keadaan polos. Binna bersandar pada dada suaminya. "Nyaman sekali, Kak. Pemandangannya juga sangat indah."
Binna dan orang yang sangat dia cintai menyaksikan pemandangan malam yang indah dari balik kaca besar di kamar mandi itu yang memperlihatkan pemandangan pantai malam hari dengan bulan yang berbentuk bulat penuh.
"Apa seperti impian kamu?"
"Ini lebih dari impian aku, Kak. Terima kasih."
"Kak, apa benar kalau Kak Devon suka memuji Karla saat dia menggunakan bikini?"
"Aku hanya bilang itu cocok di pakai olehnya. Aku tidak mengatakan apa- apa lagi."
"Itu sama saja memujinya."
"Dia bertanya padaku Binna, apa dia cocok memakai baju itu? Aku hanya bilang jika dia pantas. Tidak mungkin aku bilang dia jelek memakai itu."
"Seharusnya Kakak bilang saja kalau dia jelek memakai itu," ucap Binn sebal.
"Sudahlah! Kamu tidak perlu memikirkan hal itu."
"Oh ya! Mana ponsel Kak Devon?" Binna beranjak dan mencari ponsel suaminya, setelah dia mendapatkannya, Binna mengajak Kak Devon berfoto bersama di dalam bathub.
"Untuk apa ini, Binna?"
__ADS_1
"Aku akan mengirim kepada penggemar gila Kak Devon. Biar dia tau jika dia tidak ada artinya dalam hidup Kakak."
Binna mengirim foto tadi ke nomor Karla, dia juga menambahkan tulisan jika Kak Devon tidak tertarik lagi meskipun dia tidak memakai apa-apa sekaligus. Karena bagi Kak Devon istrinya adalah segalanya"
Sang suami hanya tersenyum membiarkan istrinya melakukan hal yang disukainya. Binna tersenyum puas setelah pesannya di baca oleh Karla, dia melanjutkan malam bulan madunya dengan suaminya.
Beberapa hari, kedekatan Binna dan suaminya dengan Ken tampak semakin akrab. Keadaan Ken juga tampak lebih baik.
Pagi itu Binna terbangun karena mendengar ponselnya berdering. Binna melihat ada nama Ken di sana. Mata Binna mencari di mana keberadaan suaminya. Ponsel kak Devon ada di atas nakas.
"Halo, Ken. Ada apa?"
"Binna, aku ingin mengakhiri hidupku saja, aku tidak tahan dengan rasa sakit dan kehidupan ini?"
Binna langsung membulatkan kedua matanya lebar mendengar apa yang Ken ucapkan. "Ken kamu di mana? Kamu jangan bertindak bodoh dengan semua ini."
Binna beranjak dari tempat tidurnya, dia mengganti baju dengan babydoll tidurnya dan keluar dari dalam kamarnya. "Ken, kamu masih di sana, Kan?"
Binna mengetuk pintu kamar Ken. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Binna mencoba membuka pintu ternyata pintunya tidak tertutup rapat. Binna yang sangat khawatir main selonong saja, dan dia melihat Ken duduk di bawah ranjang dengan obatnya yang berserahkan di atas lantai.
"Ken kamu kenapa?"
"Giza!" Tiba-tiba Ken memeluk Binna dengan erat dan memanggil-panggil nama Giza. "Kenapa kamu jahat sekali padaku, Giza?"
"Ken aku bukan Giza. Aku Binna."
"Giza, jangan pergi lagi dariku. Aku akan memberi kamu segalanya yang pria itu tidak akan bisa memberikanya sama kamu."
Kak Devon yang barusan dari lobby berjalan menuju kamarnya, tapi langkahnya berhenti saat dia melihat pintu kamar Ken yang terbuka separuh. Kak Devon masuk dan dia melihat Binna berpelukan dengan Ken.
"Apa-apan ini?" umpatnya pelan. Kak Devon berjalan menghampiri mereka berdua yang berpelukan di bawah lantai.
"Binna, Ken."
"Kak Devon?" Binna langsung melepaskan pelukan Ken.
"Kalian sedang apa?"
"Ken keadaanya sedang kacau, dia malah mengira aku Giza." Binna beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku sangat bingung dan aku benar-benar putus asa."
Devon sudah menatap dengan tatapan tidak enak saja pada Ken.