
Uno dan Cerry tidak tau jika apa yang sedang mereka lakukan di perhatikan oleh sepasang manik mata coklat seseorang, orang itu merasa geram dari balik pohon memperhatikan apa yang coba dilakukan oleh Cerry pada Uno.
"Cerry, hentikan! apa kamu tidak lihat? kita sedang berada di kampus, jaga sikap kamu!" sergah Uno marah dia memegang kedua tangan Cerry yang dari tadi menggerayang tubuh Uno.
"Uno, aku sangat mencintai kamu, apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan?" Cerry sekarang malah menyandarkan kepalanya pada dada bidang Uno.
Uno masih dengan sikap datarnya. Dia diam saja membiarkan Cerry menyandarkan kepalanya pada dadanya. "Cer, maaf, kita putus," ucapan singkat yang keluar dari mulut Uno mendadak membuat Cerry terdiam, gadis itu masih menyandarkan kepalanya dalam diamnya. Air matanya tiba-tiba menetes perlahan.
Uno menarik dirinya dan melihat jika gadis yang baru saja di putuskannya itu menangis. Namun, air mata Cerry sepertinya bagi Uno tidak ada apa-apanya, Uno sudah sering kali melihat hal seperti itu jika dia memutuskan setiap pacarnya. "Kita putus, kamu sekarang bebas, Cer."
Setelah mengatakan hal itu, Uno berjalan pergi dari sana, "Apa kakak kamu yang menyuruhmu memutuskan aku?" Tiba-tiba Cerry berteriak dengan suara yang keras.
Uno yang mendengar nama kakaknya di bawa-bawa segera menghentikan langkahnya dari tempat Cerry berdiri. Uno menoleh pada Cerry yang menatapnya nanar. Uno tampak bingung dengan apa yang di katakan oleh Cerry.
Cerry berjalan perlahan menghampiri tempat Uno. "Uno, apa kakak kamu yang menyuruhmu memutuskan aku?"
"Apa maksud kamu?" Kedua alis tebal Uno berkerut. "Kamu jangan membawa-bawa kakakku Zia dalam masalah ini, dia sama sekali tidak ada hubungannya!" bentak Uno marah.
"Dia pasti ada hubungannya." Cerry tersenyum menghina. "Kakak kamu selalu ikut campur dengan setiap hubungan kamu dengan seseorang, dia seolah tidak suka jika kamu dekat dengan orang lain."
"Kakakku orang yang baik, jika dia ingin ikut campur tentang diriku, itu karena dia melakukannya hanya untuk melindungiku. Jadi jangan menjelek-jelekkan kakakku Zia," Uno menekankan ucapannya dan pergi dari sana.
"Uno ... Uno ...!" teriak Cerry frustasi, tapi Uno sama sekali tidak memperdulikannya.
Di sekolahnya, Sabinna yang sedang latihan menari bersama beberapa temannya tampak tidak fokus, dia beberapa kali di tegur oleh pelatihnya agar lebih fokus. "Binna, apa kamu mau istirahat dulu?" tanya pelatihnya pada Sabinna.
"Ma-maaf, Kak. Apa aku boleh istirahat dulu sebentar?" ucapnya agak sedikit takut. Pelatihnya itu mengangguk perlahan, pertanda memperbolehkan Binna untuk istirahat.
"Terima kasih, Kak." Binna berjalan pergi dari ruangan latihannya, dia duduk di ruangan yang satunya yang sepi, di duduk di bawah dan kedua kakinya di selonjorkan lurus ke depan. "Huft! aku benar-benar tidak konsentrasi kalau begini," ucapnya malas.
__ADS_1
"Apa kamu mau minum?" Tiba-tiba ada suara di sampingnya sampingnya dan dia duduk bersila sambil memberikan botol minuman pada Sabinna.
Sabinna menoleh dengan muka yang seketika tampak bahagia. "Lukas! kamu di sini?" Sabinna seketika memeluk Lukas dengan posisi sama-sama duduk.
"Kamu minum dulu, sepertinya kamu membutuhkan minuman segar." Sabinna melepaskan pelukannya dan minum botol yang berisi air pemberian Lukas, Sabinna sepertinya memang haus karena dia hampir menghabiskan setengah botol air dalam botol itu. "Pelan-pelan, Binna." Lukas mengusap perlahan kepala Sabinna.
Haduh, ini cowok lembut banget pokoknya, dia sangat memanjakan Sabinna, dan Sabinna sangat menyukai sikap lembut dan perhatian dari Lukas.
"Kamu kenapa tadi tidak masuk sekolah? hari inikan ada ulangan, kamu jadi tertinggal tidak ikut ulangan."
"Iya aku tau, tapi tidak apa-apa, aku bisa mengikutinya besok." Lukas tersenyum.
Kali ini Sabinna latihannya ada di gedung di luar sekolahnya, dan dia memang sudah jam pulang sekolah. Dan dia ada jadwal latihan di sana. Sebenarnya di sekolah juga ada tempat latihan buat menari, tapi kali ini pelatih Sabinna mengajak mereka ke tempat latihan yang agak besar, dan Lukas tau di mana tempatnya.
"Lalu, kamu tadi kenapa tidak masuk sekolah? apa kamu sakit? Kalau sakit kenapa kesini?" Muka Binna tampak sedih.
"Jangan sakit, aku tidak mau kamu sakit." Bin a mengerucutkan bibirnya lucu.
"Aku tidak apa-apa, bibi ku yang sakit, tadi aku mengantarkan bibiku ke rumah sakit, oleh karena itu aku tidak masuk sekolah."
"Oh begitu, lalu bagaimana sekarang keadaan bibi kamu?" Setahu Binna Lukas ini hanya hidup berdua dengan bibinya, kedua orang tua Lukas sudah meninggal saat Lukas masih kecil, dan meninggalkan banyak sekali warisan, dan bibinyalah yang meneruskan bisnis orang tua Lukas sampai Lukas nanti siapa melanjutkannya. Tidak mungkin juga Lukas bisa bersekolah di sekolahan mewah nan terkenal jika dia bukan dari golongan hiraki atas.
"Dia sudah tidak apa-apa, sudah kamu jangan khawatir." Lukas mengusap lembut pipi Sabinna.
"Lukas aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu."
"Katakan saja."
"Lukas, apa kamu mau bertemu dengan ibuku? aku sudah bilang sama ibuku rentang hubungan pertemanan kita yang istimewah ini."
__ADS_1
"Lalu? apa ibu kamu tidak marah mengetahui hal itu? bukannya ibu kamu melarang kamu mempunyai hubungan dengan seseorang?" Sabinna ini tidak pernah bercerita pada Lukas jika dia akan di jodohkan dengan seseorang, dia tidak mau Lukas kecewa, bahkan menjauhi Sabinna, dan Sabinna masih berusaha agar perjodohannya di batalkan.
"Ibuku menyuruhku untuk memperkenalkan kamu sama keluargaku. Apa kamu mau bertemu ibu dan ayahku?"
Lukas terdiam sejenak. Kemudian dia mengangguk beberapa kali. "Aku mau, aku mau bertemu dengan kedua orang tua kamu. Kapan aku bisa bertemu mereka?"
"Kamu serius, Kan?" Tanya Sabinna tidak percaya, Lukas ternyata serius menyukai Sabinna, dia bahkan mau bertemu dengan kedua orang tuanya. "Besok Lusa, apa kamu bisa?"
"Kenapa tidak nanti malam saja?"
Deg ...
Nanti malam kan jadwalnya dia dan keluarganya bertemu dengan keluarga tante Tia dan anaknya yang akan dijodohkan sama Binna.
"Nanti malam tidak bisa, Lukas, aku kan bilang kalau aku dan keluargaku ada urusan penting." Binna meringis lucu.
"Ya sudah, maaf, aku terlalu bersemangat." Mereka berdua saling melempar senyum. "Oh ya, Binna. Kamu pasti belum makan siang, ini aku membawakan kamu roti isi kesukaan kamu." Lukas mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dan memberikan pada Sabinna.
"Wow! roti isi ini kesukaaan aku." Sabinna langsung membukanya dan memakannya.
"Pelan-pelan Sabinna." Lukas membersihkan sisa roti yang ada di mulut Sabinna, Sabinna terdiam menatap ke arah Lukas.
Lukas yang mengusap lembut bibir Sabinna perlahan menarik dagu Sabinna dan mendekatkan ke wajahnya, dan ...
Lukas Junior D
Si kalem yang misterius
__ADS_1