
Binna masih berbicara dengan Lukas di telepon. Binna mengatakan akan menceritakan tentang dirinya yang bertemu dengan Lukas di kampus.
"Binna, aku benar minta maa sama kamu. Aku tidak bisa mempertahankan kamu waktu itu. Apa kamu benaran bahagia menikah dengan pria pilihan kedua orang tua kamu?"
"Aku bahagia. Kak Devon pria yang baik dan dia sangat mencintaiku, Lukas."
"Kamu juga mencintainya?"
"Tentu saja aku sangat mencintainya."
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi, Binna?"
Deg!
Pertanyaan Lukas membuat Binna benar-benar membuatnya terkejut. Apa yang harus Binna katakan pada Lukas?
"Lukas, keadaannya sudah tidak seperti dulu lagi, hubungan kita sekarang lebih baik menjadi seorang sahabat. Kamu orang yang baik, bahkan tidak pernah menyakitiku, aku akan tetap mau bersahabat dengan kamu karena sekarang yang aku cintai adalah suamiku."
"Iya aku tau. Kamu sekarang bukan Binna yang dulu yang bisa aku cintai dan aku sayangi. Kamu sudah menjadi istri dari seseorang, jujur saja ada sebagian dari diriku yang belum bisa menerima hal ini."
"Kamu harus mulai membiasakan menerima hal ini, Lukas. Aku sudah menghilangkan rasa cinta dan sayangku sama kamu."
"Iya, aku tau."
Mereka mengakhiri pangggilan mereka. Beberapa jam Binna menunggu dan akhirnya dia tertidur di sana. Kak Devon yang melihat istrinya tertidur di atas sofa panjang di kantornya membiarakan saja, dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit.
"Binna, bangun." Kak Devon menepuk pelan pipi istrinya, Binna mengerjapkan kedua matanya melihat suaminya tepat di depannnya. "Apa kamu tidak mau pulang?"
"Ini sudah jam berapa?" Binna bangkit dan duduk di depan suaminya. Binna melihat sekitar ruangan Kak Devon. "Kok di luar sudah gelap?"
"Memang ini sudah malam, Sayang. Ini sudah jam tujuh malam, aku sengaja tidak membangunkan kamu."
"Kok tidak dibangunkan?" Binna langsung bangun dan berdiri merapikan bajunya.
__ADS_1
"Aku melihat kamu sangat nyenyak tidurnya, jadi aku tidak tega membangunkan kamu. Ya sudah, ayo kita makan malam di restoran dekat dengan kantorku."
"Kak, Devon, aku mau bicara sesuatu sama kamu.". Binna menahan tangan suaminya.
"Ada apa? Kita bicara sambil makan malam saja."
"Tidak mau, di sini saja," rengeknya.
"Kenapa merengek begitu? Kamu mau itu lagi? Kalau itu kita pulang sekarang saja." Kedua tangan Devon menelungsup pada sela-sela rambut Sabinna dan mendaratkan kecupannya yang lembut pada bibir Sabinna.
"Kenapa pikirannya ke situ terus?" Binna cemberut.
"Ya sudah! Nanti saja ceritanya saat kita di atas ranjang, supaya lebih romantis. Sekarang kita makan dulu, perut kamu sudah berbunyi itu."
Kak Devon menggandengan tangan Sabinna dan mengajaknya makan malam di restoran dekat kantor mereka.
Binna berpikir sejenak, memang sebaiknya dia menceritakan pas mereka di atas ranjang. Binna ingat ucapan ibunya, jika besok dia sudah menikah kalau ada masalah atau pembicaraan yang serius, lebih baik mereka berbicara berdua saat akan tidur di atas ranjang karena hal itu bisa membantu supaya tidak terjadi pertengkaran yang lebih lanjut. Mereka bisa bicara dengan memberikan sentuhan-sentuhan mesra.
"Uno ke mana? Kenapa dia belum pulang?" Zia mondar mandir di meja makan menunggu Uno yang belum datang, padahal harusnya dia sudah pulang kerja.
"Aku benar-benar sudah lelah dengan kehidupan pura-pura seperti ini. Aku ingin berpisah dengan Kak Zia. Rasanya aneh sekali melihat dia harus bersikap seperti istriku."
Zia akhirnya menghubungi ponsel ayahnya. Juna mengatakan jika Uno hari ini tidak lembur, dan sudah menyuruhnya pulang seperti biasanya.
"Tapi Uno belum sampai rumah, Yah. Aku hubungi ponselnya tidak di jawab."
"Mungkin dia sedang mampir ke suatu tempat untuk membeli sesuatu. Kamu tunggu saja."
"Uno selalu begitu! Dia belum bisa menerimaku menjadi istrinya. Dia mungkin masih memikirkan Diandra si buta itu," ucap Zia kesal.
"Zia, nanti ayah dan Ibu akan berbicara dengan Uno. Kamu jangan marah-marah seperti itu."
"Maafkan aku, Yah, tapi aku sudah berusaha bersikap baik dengan Uno. Kenapa dia malah tidak membalas sikap baikku selama ini, aku tau ini semua hal yang cukup membuat dia shock, tapi aku juga shock dengan hal ini, hanya saja aku berusahan berpikiran terbuka dengan menerima semua ini dan menjalaninya."
__ADS_1
"Nanti ayah akan bicara pada Uno. Kamu tenanglah dulu."
Zia mengakhiri panggilan teleponnya. Arana yang duduk di sebelah Juna tau jika ada hal yang membuat suaminya terdiam seperti itu.
"Juna, ada apa?" Tangan Arana memegang pundak suaminya.
"Zia bertanya di mana Uno. Apa aku hari ini menyuruh Uno lembur lagi di kantor karena Uno sampai malam ini belum pulang."
"Ke mana Uno?" Arana berpikir.
"Anak itu masih belum bisa menerima semua kejadian ini. Sudah hampir sebulan dia menikah dengan Zia, tapi kenapa dia masih bersikap seperti itu dengan Zia? Uno harus sudah bisa menerima semua ini."
"Hal itu sangat sulit, Juna. Coba saja kamu yang berada di posisi Uno, kamu mencintaiku, tapi tiba-tiba kamu harus berpisah dengan orang yang kamu cintai karena suatu kesalahan, bagaimana kamu bisa melalui semua itu?"
Juna terdiam sejenak. "Lalu, kalau begini aku juga kasihan dengan Zia, Arana. Dia sudah bersikap sangat baik kepada Uno, tapi Uno masih memikirkan orang lain. Aku benar-benar tidak bisa berpikir."
"Aku akan mencoba menghubungi Uno kalau begitu." Arana menghubungi ponsel Uno dan sama saja dengan Zia. Uno tidak menjawabnya karena memang Uno meninggalkan ponselnya di dalam mobil.
"Tidak diangkat oleh Uno?" tanya Juna dan Arana mengangguk. "Sudah aku duga, kalau begitu besok kita akan berbicara dengan Uno."
Malam itu kembali Zia tidur sendirian dengan wajah kecewanya. Sekitar jam satu dini hari, terdengar pintu di buka oleh seseorang. Zia yang terjaga di ruang tamu mendengar Uno datang dan dia langsung berdiri di tempatnya.
"Kak Zia? Kenapa Kakak belum tidur?"
"Uno kamu baik-baiks saja, kan? Aku mengkhawatirkan kamu karena aku hubungi ponsel kamu, tapi tidak kamu angkat." Tangan Zia mengusap lembut pipi Uno.
"Aku baik-baik saja, hanya saja aku tadi sedang ingin menyendiri." Uno masuk ke dalam rumah. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Sebentar, aku akan ambilkan kamu minum." Zia sudah menyiapkan teh yang sudah dia masukkan sesuatu yang sebenarnya dari tadi dia siapkan.
"Kak, aku ingin bicara serius dengan Kak Zia."
"Bicaranya nanti saja, kamu minum dulu ini, kakak lihat kamu sangat lelah sekali."
__ADS_1
Ampun! Author jadi deg-degan.