Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Terbawa Suasana


__ADS_3

Devon masih mengecup lembut bibir Sabinna yang duduk bersandar di sudut ranjang Devon. Entah iblis cantik siapa yang merasuki Sabinna, dia terdiam dan sepertinya menikmati ciuman yang di berikan oleh Devon.


Tlit ... tlit ...


Dering ponsel Sabinna berhasil membuat Sabinna tersadar dan dengan cepat mendorong tubuh Devon hingga ciuman mereka pun terlepas.


"Ibu!" Sabinna mendelik melihat ke arah layar ponselnya. "Halo, Ibu. Ada apa?" tanya cepat Sabinna sambil melirik cepat ke arah Devon yang malah tersenyum pada Sabinna.


"Binna, kamu di mana? Apa sama Devon?"


"I-iya, aku sama Kak Devon, bukannya Kak Devon sudah bilang sama ibu?"


"Iya, Devon sudah izin sama ibu waktu itu, tolong nanti kalau kalian pulang, kamu bilang sama Devon, ibu mengundang dia makan siang di rumah, jadi nanti kamu ajak Devon untuk makan siang di rumah."


"Iya, Bu. Mungkin sebentar lagi kita akan pulang." Binna sekali lagi melirik dengan tatap kesal pada Devon.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati kalau pulang." Mereka mengakhiri panggilannya.


Binna sekarang terdiam, dia bahkan merasa canggung di depan Devon yang sedang duduk di sofa depan ranjang sambil meneguk segelas air putih.


"Kamu mau minum, Binna?" Tanya Devon cepat.


"Kak--."


Devon beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri Binna, jujur saja Binna sekarang mulai takut jika cowok itu di dekatnya. "Ada apa?" Devon menunduk menatap Sabinna. "Apa mau melanjutkan hal yang tadi yang belum selesai?" tanyanya dengan nada santai.


Binna malah mengerutkan dahinya mendengarkan perkataan Devon. "Aku peringatkan ya, Kak. Jangan berbuat hal yang tidak sopan padaku lagi!"


"J-jangan menciumku seenaknya seperti tadi, atau nanti aku akan bilang sama ibuku, kalau Kak Devon tidak sopan terhadapku." Binna dengan cepat berdiri seolah di tidak takut pada Devon.


"Bukannya kamu tadi malah menikmati ciuman yang aku berikan? Kalaupun kamu bilang sama ibu kamu tentang aku yang sudah mencium kamu, ibu kamu pasti akan menyuruh aku untuk segera menikah dengan kamu, dan dengan senang hati akan mempercepat pernikahan kita."

__ADS_1


Sabinna benar-benar dibuat kesal dengan cowok satu ini. "Lihat saja, aku besok tidak mau pergi kencan dengan, Kak Devon!" Binna berjalan kesal keluar dari dalam kamar Devon, Devon dengan cepat mengejarnya dan memotong dengan cepat langkah Binna.


"Kalau begitu ganti gelang kesayangan mamaku yang kamu sudah patahkan, kamu tau? Itu gelang kesayangan dari mamaku, dan mamaku pasti akan sangat sedih mengetahui anak dari sahabatknya sudah merusakan gelang itu."


"Aku akan ganti, kakak katakan saja berapa harganya dan beli di mana, aku akan menggantinya."


"Itu tidak di beli, tapi di pesan, dan mamaku memesannya di luar negeri, kalau mau menggantinya pesankan sendiri yang sama seperti itu."


"Di-dipesan?" Binna bingung sekarang.


"Dan kamu yang memesankan sendiri, jangan melibatkan aku. Ya sudah, kita pulang sekarang, aku akan bilang sama mama kamu juga tentang kejadian, di mana kamu sampai hampir celaka karena mencari cowok bernama Lukas itu!"


"Kak Devon licik!"


"Aku tidak licik, aku pintar Binna. Dan selama gelang milik mamaku yang baru belum ada, kamu harus melakukan apapun yang aku perintahkan. Dan besok kita akan pergi berkencan, kamu tidak ada pilihan!" ucapan Devon tegas dan tidak mau dibantah.

__ADS_1


Binna hanya terdiam dan menatap dengan tatapan kesal pada Kak Devon.


Dikit dulu ya, ini author kuatin nulisnya. Jaga kesehatan ya kakak semua.


__ADS_2