
Setelah selesai mandi Rafa keluar dari kamar mandi dan Asyifa duduk di atas tempat tidur yang seperti mencari kesibukannya dengan melihat handphonnya. Padahal Rafa tau kalau Asyifa itu paling tidak suka melihat handphone karena tidak bermutu. Rafa mendengus kasar seakan tau kalau Asyifa sedang menghindarinya.
"Kamu belum sholat?" tanya Rafa.
"Belum azand kak Rafa," jawab Asyifa. Rafa hanya mengatakan oh saja dan mendekati Asyifa yang membuat Asyifa kaget ketika Rafa membungkuk yang sepertinya ingin menciumnya dengan wajahnya yang sangat dekat.
"Asyifa sudah ambil wudhu," ucap Asyifa dengan cepat.
"Lalu," sahut Rafa menegakkan tubuhnya kembali setelah mengambil handphone yang berada di samping Asyifa. Asyifa menghela napas yang malu sendiri. Dia pikir Rafa mau menciumnya ternyata hanya mengambil handphone.
"Kamu kenapa?" tanya Rafa. Asyifa geleng-geleng dengan cepat dan kembali fokus pada handphonnya dan Asyifa benar-benar salah tingkah dengan kelakuan Asyifa yang gugup dengan tidak menentu.
Rafa pun berjalan menuju lemari dan terlihat mengambil pakaiannya.
"Pakailah mukebahmu, sebentar lagi azand kita sholat bersama," ucap Rafa tiba-tiba yang sembari mengambil pakaiannya dari dalam lemari.
Asyifa mendengarnya terkejut apa dia salah dengar. Jika Rafa ingin menjadi imamnya, saking bengong nya yang mendengarkan apa kata Rafa. Asyifa tidak menyadari jika Rafa sudah berganti pakaian di depannya.
"Kenapa bengong. Kau tidak mau sholat bersamaku?" tanya Rafa. Asyifa langsung membuyarkan lamunannya dan langsung mengalihkan pandangannya yang baru sadar suaminya berganti pakaian.
"Cepat, malah diam saja!" tegas Rafa. Asyifa mengangguk-angguk dan langsung turun dari ranjang dan terlihat mengusap air matanya dengan cepat.
Asyifa sepertinya tidak percaya. Jika Rafa benar-benar akan mengimaminya dalam sholat. Impiannya yang terkabul begitu saja. Wajar dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan mengeluarkan air mata. Mungkin rasa sakit di malam pertama sudah tidak terasa lagi dengan rasa yang jauh lebih indah. Mungkin ini surga yang sesungguhnya yang Asyifa rasakan.
********
Rafa benar-benar menjadi imam Asyifa, di mana mereka sholat di dalam kamar dengan khusyuk. Tapi Asyifa sholat pasti dengan air matanya yang keluar yang benar-benar terharu.
Pernikahannya yang berbulan-bulan penuh dengan derita, kata kasar, kebencian suaminya yang terang-terangan yang sering di dengarnya, perlakuan kasar yang di dapatkannya dari fisik dan mentalnya hampir rusak dengan terkejutnya suasana pernikahannya.
Berusaha sabar untuk mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Sampai akhirnya doanya terjawab sekarang suaminya sedang menjadi imamnya jadi bayangkan saja perasaan Asyifa seperti apa.
__ADS_1
Dari pertama sholat sampai selesai mengucapkan salam Asyifa tidak berhenti mengeluarkan air mata sampai sholat pun selesai.
Rafa pun membalikkan tubuhnya dan melihat Asyifa menangis menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya yang di pastikan menangis tanpa suara yang membuat Rafa heran.
"Asyifa kamu kenapa?" tanya Rafa panik. Asyifa seperti sudah kehilangan mainan saja menangis sampai sengugukan.
"Asyifa!" tanya Rafa dengan memegang ke-2 bahu Asyifa, Rafa mengangkat dagu Asyifa dan melihat wajah cantik yang penuh dengan air mata itu.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Rafa benar-benar heran dan Asyifa langsung memeluk Rafa. Rafa bertambah bingung. Padahal dia tidak menyakiti istrinya dan sudah mewek di dalam pelukannya.
"Asyifa sesakit itu sampai kau menangis seperti itu?" tanya Rafa yang mungkin Rafa mengira karena perbuatannya tadi malam yang membuat Asyifa kesakitan dan batu meluapkan sampai sekarang. Dan Asyifa bukannya menjawab malah terus menangis di pelukan Rafa.
Rafa hanya menghela napas saja dan mengusap-usap punggung Asyifa. Dia tidak bertanya lagi. Karena percuma Asyifa juga tidak akan menjawabnya.
Asyifa pasti terharu dengan Rafa yang benar-benar sudah berubah, selain menjadi pria yang sangat manis Rafa juga dekat dengan pencipta dan bagaimana Asyifa tidak mau menangis dengan penuh dengan keharuan.
*********
"Kak Rafa!" tegur Zee yang melihat Kakaknya itu sudah bangun dan sekarang sibuk sendiri.
"Kenapa?" tanya Rafa.
"Kakak sedang apa?" tanya Zee.
"Nyuci," jawab Rafa kesal membuat Zee mengkerutkan dahinya, "sudah tau masak pakai banyak lagi," ucap Rafa kesal.
"Ya justru itu Zee heran tumben-tumbenannya kak Rafa masak pagi-pagi begini," sahut Zee.
"Zee kamu sebaiknya sekarang ke Bandara sana pulang kamu jangan gangguin orang terus kerjanya," ucap Rafa yang sudah entah berapa kali mengusir Zee.
"Wah benar-benar ya kak Rafa, kelewatan sekarang sudah tidak menganggap ku adik sampai tega mengusir ku. Kak Rafa kau itu sungguh tega," ucap Zee gelang-gelang.
__ADS_1
"Nggak usah lebai, pergi nggak sebelum benar-benar ku antarkan ke bandara," ucap Rafa dengan ancaman.
"Iya-iya, isss menyebalkan. Lagi-lagi heboh sendiri, bye bye the way, rajin amat keramas," goda Zee yang membuat Rafa bertambah kesal dan Zee langsung pergi dengan cepat sebelum di sembur Rafa.
Rafa menghela napasnya yang benar-benar naik pitam dengan Zee. Namun dia harus sabar menghadapinya Zee.
*********
Tidak lama Rafa selesai memasak, Rafa langsung membawakan makanan yang di masakannya ke dalam kamar dan Asyifa yang berada di atas ranjang langsung ingin turun.
"Jangan turun!" cegah Rafa membuat Asyifa tidak jadi turun, "jangan kemana-mana, tetap saja di sana," ucap Rafa dan Asyifa hanya mengangguk menurut saja.
Rafa pun menghampiri Asrida dengan naik keatas tempat tidur membawa makanan yang di bawanya ke atas ranjang dan duduk bersilah di depan Asyifa. Ternyata Rafa tidak ingin istrinya itu berbuat apa-apa. Makanya tadi di dapur Rafa sibuk sendiri membuat makanan seharusnya kan Asyifa yang melakukannya. Namun Rafa tidak mengijinkannya yang artinya Rafa ingin memanjakan Asyifa yang tidak boleh berbuat apa-apa.
"Ayo kamu makan," ucap Rafa yang menyuapi Asyifa membuat Asyifa heran sampai mulutnya tetap tertutup.
"Ayo buka mulutmu!" tegas Rafa. Asyifa mengangguk dan membuka mulutnya menerima suapan suaminya yang rasanya sepertinya sangat nikmat.
"Kak Rafa kenapa harus menyuapi Asyifa?" tanya Asyifa.
"Karena kau itu tidak bisa melakukan apa-apa. Lihat dirimu langsung drop, baru aja 1 kali sudah main drop segala," jawab Rafa. Asyifa memang kurang enak badan.
"Maaf kak Rafa," sahut Asyifa.
"Asyifa di dalam kamu kamu itu. Kalau menghilangkan kata maaf dan kata Terima kasih itu apa tidak bisa di hilangkan," ucap Rafa yang bosan mendengarnya.
"Namanya juga sudah kebiasaan," sahut Asyifa.
"Sudah makan lagi," Rafa kembali menyuapi Asyifa dan Asyifa pasti bahagia menerima suapan itu.
Bersambung
__ADS_1