
"Aku tanya mau kemana kau!" bentak Rafa membuat langkah Asyifa terhenti.
"Aku tidak tau apa salahku. Aku harus bertanya pada mama dan papa kenapa kau harus memperlakukan seperti ini," jawab Asyifa dengan memegang kenopi pintu yang ingin membuka pintu kamar.
Rafa mengepal tangannya dan menyusul Asyifa. Baru saja Asyifa membuka pintu kamar, Rafa menarik tangannya mencengkram lengan itu dengan kuat dengan Asyifa yang berada di hadapannya dan Rafa menendang pintu kamar sehingga tertutup yang membuat Asyifa terkejut dengan kelakuan Rafa yang semakin menjadi-jadi.
"Kau ingin mengadu pada orang tuaku dengan perbuatanku kepadamu!" teriak Rafa tepat di wajah Asyifa.
"Aku tidak mengadu. Aku hanya bertanya. Agar aku bisa memperbaiki kesalahanku dan kamu tidak marah kepadaku," jawab Asyifa yang terlihat terisak-isak dengan air matanya.
"Kesalahanmu adalah karena menerima pernikahan ini. Kau sudah menghancurkan hidupku dengan pernikahan ini. Kau mencuri kebebesan ku. Apa kau sadar itu!" teriak Rafa.
"Lalu kenapa tidak menolaknya? Kenapa tidak mengatakannya sebelum kita menikah?" tanya Asyifa dengan memberanikan diri bicara.
Membuat Rafa menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan itu. "sekarang kau ingin mengejekku yang mana aku tidak melakukan hal itu. Kau ingin memperjelas kepadaku. Bahwa kau yang menentukan semuanya. Kau yang punya kuasa atas semua kejadian itu iya," ucap Rafa dengan suara rendahnya.
"Aku tidak berpikiran apa-apa. Aku hanya wanita yang di lamar oleh keluargamu dan menerima pernikahan itu. Jika keluarga mu melamarku maka kamu menyetujuinya. Lalu kekanap aku yang menjadi salah. Kenapa kau bicara kasar kepadaku, kenapa kau menyiksa ku dengan tanganmu. Apa ini yang namanya pernikahan. Apa itu harusnya perbuatan suami kepada istrinya. Kita sudah menikah dan banyak hal yang harus kita lakukan bukan hanya dengan aku yang mendengarkan kata-kata mu dan juga perlakuan kasar dari mu," ucap Asyifa dengan suara tersedu-sedu.
"Jadi kau menginginkan hal-hal seperti pengantin baru biasanya. Apa jangan-jangan itu membuatmu sangat buru-buru ingin menikah. Kau tidak sabar untuk mendapatkan sentuhan dariku. Wajah polos mu yang sok alim itu ternyata menyimpan sisi lain kemunafikan," Desi Rafa dengan senyum meremehkan.
" Apa maksudmu?" tanya Asyifa heran.
" Baiklah Asyifa. Kau tidak perlu mengadu kepada orang tuaku. Karena kau tidak mendapatkan sentuhan dari ku di malam pertama. Malam ini aku akan memberikannya kepadamu. Agar kau bisa mengingat pernikahan yang kau impikan itu seperti apa, ucap Rafa menarik tangan Asyifa dan menghempaskannya ke atas ranjang.
Suara lirihan kesakitan yang di dapatkan Asyifa dari perbuatan Rafa yang benar-benar di kabut emosi.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya Asyifa melihat Rafa di ujung ranjang yang membuka dasinya.
"Kau menginginkan semua ini bukan!" ucap Rafa dengan matanya memerah yang langsung menindih tubuh Asyifa.
"Rafa apa yang kau lakukan, lepaskan aku! Lepaskan aku!" Asyifa memohon ampunan pada pria yang berstatus menjadi suaminya itu di mana Rafa yang terlihat seperti memperkosa Asyifa yang masih memakai mukenah.
Asyifa memukul-mukul dada bidang Rafa yang menindih tubuhnya dimana dengan kasar Rafa berhasil menurunkan mukenah yang di pakai Asyifa. Namun Rafa berhenti melakukannya ketika melihat leher jenjang Asyifa yang memerah yang di pastikan akibat dari tangan kekarnya yang mencekik Asyifa barusan.
Rafa melihat ke wajah Asyifa yang memejamkan matanya dengan air mata yang terus mengalir. Wajah yang cantik itu yang penuh dengan ketakutan, rambut Asyifa sebagian lengket di pipinya. Ini pertama kali bagi Rafa melihat Asyifa tanpa hijab.
Tidak tau kenapa dia yang masih tetap di atas tubuh Asyifa terus melihat wajah Asyifa yang ketakutan. Rafa membuang napasnya perlahan denga kasar berdiri dari tubuh kecil Asyifa.
Asyifa menangis senggugukan yang dengan tubuh bergetar dan memiringkan tubuhnya membelakangi Rafa yang berdiri di belakangnya. Asyifa menarik selimut dan terlihat begitu gemetar memegang selimut itu yang begitu ketakutan.
Sementara Asyifa menangis dengan meringkuk yang masih ketakutan. Tidak pernah dalam hidupnya dia menangis seperti itu. Namun pernikahan yang manis yang di impikannya membawanya harus menangis di malam ke-2 pernikahannya. Yang mana Asyifa menyadari jika Rafa begitu membencinya dan tidak menginginkan pernikahan itu.
**********
Keributan yang terjadi harus membuat Asyifa tertidur tetap pada posisinya. Karena Asyifa begitu kaget dengan pernikahannya dan juga lelah menangis yang mendapatkan perlakuan yang tidak adil baginya.
Rafa sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya yang ingin tertidur. Dia melihat Asyifa sebentar saja dan langsung mengambil bantal untuk tidur di Sofa. Untung saja Rafa tidak membangunkan Asyifa dan menyuruh Asyifa tidur di lantai karena itu merupakan kamar Rafa. Jadi Rafa yang punya kuasa untuk kamar itu.
************
Mentari pagi telah tiba, seperti biasa keluarga Rafa akan daratan seperti biasanya. Shofia sengaja ikut membantu pelayan memasak untuk memberikan sarapan yang terbaik pada menantunya itu.
__ADS_1
Sekarang semua keluarga sudah berkumpul untuk menikmati sarapan pagi itu.
"Asyifa suka dengan nasi gorengnya?" tanya Shofia.
"Iya ma, sangat enak," jawab Asyifa dengan lembut. Namun tidak ada senyum kecerian di wajahnya.
"Itu nasi goreng kesukaan Rafa. Kalau Asyifa mau nanti bisa bertanya pada mama apa resepnya," ucap Shofia. Asyifa hanya tersenyum datar dengan mengangguk pelan.
Zee yang makan di sebelah Asyifa melihat lengan Asyifa yang memerah, "tangan kakak kenapa?" tanya Zee heran.
Rafa menghentikan sarapannya dan melihat Asyifa dengan ekor matanya.
"Tidak apa-apa," jawab Asyifa menyembuyikan tangannya kebawah agar tidak menarik perhatian yang lain.
"Yakin tidak apa-apa?" tanya Zee melihat tangan itu begitu merah. Asyifa mengangguk-angguk saja. Mana mungkin dia mengatakan apa yang terjadi tadi malam
Dia tidak berniat mengadu. Hanya bertanya. Rafa sudah membantingnya ke atas ranjang. Apa lagi jika dia mengatakan jika itu perbuatan Rafa yang mungkin Asyifa akan mati di tangan Rafa hari ini.
"Aku kekantor!" ucap Rafa berdiri yang selesai dalam sarapannya.
"Kenapa cepat sekali Rafa. Kamu juga belum selesai sarapan," sahut Shofia.
Rafa tidak menanggapi perkataan mamanya dan langsung pergi begitu saja.
Bersambung
__ADS_1